Zaid bin khattab
Foto: pexels.com/errin casano

Baca Part 1 DI SINI

Rekam Jejak — Zaid bin Khattab ingin sekali bertemu Rajjal. Ia berharap tangannyalah yang akan membunuh laki-laki busuk itu. Bagi Zaid, Rajjal  bukan hanya murtad, melainkan juga seorang pembohong, munafik, dan oportunis. Ia murtad bukan karena meyakini kebenaran Musailamah, melainkan karena kemunafikan yang disembunyikan dan keuntungan yang ingin diraih.

Zaid bin Khattab sangat membenci kemunafikan dan kebohongan. Sama seperti Umar, kebencian itu akan semakin memuncak ketika kemunafikan yang dilakukan hanya karena ingin mengambil keuntungan semu.

Untuk tujuan-tujuan rendah itulah Rajjal memainkan peran jahatnya, sehingga jumlah pengikut Musailamah meningkat tajam. Dengan demikian, ia telah mengantarkan mereka pada kematian dan kebinasaan di medan “Perang Murtad” nanti. Pada awalnya mereka disesatkan, lalu dibinasakan. Untuk tujuan apa? Ketamakan yang disembunyikan dalam bingkai indah memukau.

Untuk menyempurnakan keimanannya, Zaid mempersiapkan diri menumpas kekacauan ini. Sasarannya bukan Musailamah, tetapi yang lebih jahat dan lebih berbahaya dari Musailamah, yaitu Rajjal bin ‘Unfuwah.

 

Mencekam! Inilah yang meliputi peristiwa Yamamah.

Khalid bin Walid mengumpulkan pasukan Islam, lalu dibagi menjadi beberapa regu dengan tugas masing-masing. Setelah itu, bendera pasukan diserahkan kepada Zain bin Khattab.

Bani Hanifah, pengikut Musailamah, berperang mati-matian. Pasukan Islam terlihat di bawah angin. Banyak dari mereka yang gugur sebagai syahid. Zaid melihat mental dan semangat juang pasukan Islam mulai menurun. Ia mendaki sebuah tempat yang agak tinggi dan berseru kepada pasukannya,

“Wahai saudara-saudaraku, jangan gentar! Gempur musuh! Serang mereka habis-habisan! Demi Allah, aku tidak akan bicara sebelum mereka dibinasakan Allah atau aku menemui-Nya dan menyampaikan alasan-alasanku.”

Kemudian, ia turun dengan menggertakkan gerahamnya dan mengatupkan kedua bibirnya. Tidak menggerakkan lidahnya untuk mengucapkan satu kata pun.

 

Zaid bin Khattab berhasil sebabkan kehancuran dahsyat di barisan Musailamah.

Zaid bin Khattab
Foto: pexels.com/ray bilcliff

Baginya, kunci peperangan ini ada pada Rajjal. Ia menerobos barisan musuh bagai anak panah, mencari Rajjal. Hingga akhirnya, ia melihatnya.

Namun lautan manusia yang sedang berperang, berkali-kali menghempaskannya ke pantai, menjauh dari Rajjal. Zaid terus berusaha mendekat, namun berkali-kali bayangan Rajjal ditelan oleh lautan manusia.

Pada akhirnya, ia berhasil mendekatinya, dan memenggal kepala Rajjal yang penuh kesombongan, kebohongan, dan kebusukan.

Dengan tewasnya si pembuat kebohongan ini, bendera pasukan musuh mulai berjatuhan. Musailamah mulai was-was. Begitu juga Muhkam bin Thufail. Lalu diikuti pasukannya.

Sebelumnya, Musailamah telah menjanjikan kemenangan yang nyata dan besama Rajjal bin Unfuwah serta Muhkam bin Thufail akan membawa mereka ke masa depan gemilang dengan menyebarkan agama serta membangun pemerintahan mereka.

Sekarang, Rajjal telah mati. Berarti kenabian Musailamah adalah bohong. Besok giliran Muhkam yang tewas dan lusa giliran Musailamah.

Demikianlah, Zaid bin Khattab telah menyebabkan kehancuran dahsyat di barisan Musailamah.

Adapun di barisan pasukan Islam sendiri, ketikan mengetahui tewasnya Rajjal, semangat mereka kembali berkobar, bahkan lebih besar. Yang terluka pun bangkit lagi dengan pedangnya tanpa mempedulikan luka mereka.

Bahkan, mereka yang telah berada di bibir maut, yang tidak ada tanda-tanda hidup lagi kecuali isyarat mata, sewaktu berita gembira itu sampai ke telingan mereka, mereka merasakannya seperti mimpi indah. Mereka ingin sekali diberi sedikit kekuatan untuk kembali berperang dan menyaksikan yang mengagumkan di akhir hayat mereka.

Tetapi, apa gunanya semua itu bagi mereka karena semua pintu surga telah terbuka lebar untuk menerima mereka? Sesungguhnya, sekarang mereka sedang mendengarkan nama-nama mereka dipanggil.

 

Syahidnya Zaid bin Khattab

Zaid bin Khattab menengadahkan kedua tangannya ke langit, mengagungkan Tuhannya, dan bersyukur atas nikmat-Nya. Setelah itu, ia kembali pada pedangnya dan sikap diamnya, karena ia telah bersumpah tidak akan berbicara sampai kemenangan benar-benar tercapai atau ia sendiri menjadi syahid.

Pertempuran sudah berpihak pada pasukan Islam. Kemenangan sudah sangat dekat.

Di sanalah, ketika ia melihat kemenangan sudah di depan mata, ia belum pernah mengetahui akhir hidup yang lebih indah dari saat itu. Ia berharap Allah memberinya kesyahidan di Perang Yamamah ini.

Angin surga pun berembus yang membuatnya semakin rindu dan tekadnya semakin bulat. Ia terus menerjang ke barisan musuh, menebaskan pedangnya mencari cita-cita agungnya. Dan, sang pahlawan akhirnya gugur sebagai syahid. Ia terbang ke surga dengan mulia dan bahagia.

 

Angin sepoi-sepoi benar-benar membawa aroma Zaid dan keagungannya

Foto: pexels.com/melanie

Pasukan Islam pulang ke Madinah membawa kemenangan. Bersama Khalifah Abu Bakar, Umar menyambut kedatangan mereka. Matanya menyorot tajam penuh kerinduan kepada saudaranya.

Zaid memiliki tinggi badan melebihi rata-rata sehingga mudah dikenali dari jauh. Tetapi, belum sampai Umar bersusah payah mencarinya, seorang tentara mendekatinya dan menyampaikan belasungkawa atas gugurnya Zaid.

Umar berkata, “Rahmat Allah bagi Zaid. Ia mendahulukan dengan dua kebaikan Ia masuk Islam lebih dahulu dan ia syahid lebih dahulu.”

Meskipun kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin, namun kenangan akan Zaid tetap membayang di benak Umar Al-Faruq. Ia sering berkata, “Setiap kali angin sepoi-sepoi datang, di sana akau mencium aroma Zaid.”

Angin sepoi-sepoi benar-benar membawa aroma Zaid dan keagungannya.

Seandainya Amirul Mu’minin Umar mengizinkan, akan kutambahkan ke dalam ucapan indahnya beberapa kalimat penyempurna.

“Setiap angin kemenangan Islam berembus, semenjak peristiwa Yamamah, tercium juga aroma wangi Zaid, pengorbanan Zaid, kepahlawanan Zaid, dan keagungan Zaid.”

Duhai keluarga Khattab, kalian diberkahi di bawah naungan bendera Rasulullah saw. Diberkahi di hari masuk Islam, diberkahi di saat berjihad dan menjadi syahid, serta diberkahi di hari mereka dibangkitkan.

Sumber: Buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid, Cetakan kesembilan April 2018

Editor: dfalv

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here