Oleh Anggi Warsito

Ngaderes.com, Bandung – Jika mendengar kata Bandung, pastinya orang sudah tidak asing lagi dengan kota Kembang yang disebut-sebut sebagai Paris nya di Tanah Jawa. Namun, seiring waktu berlalu, banyak hal yang sudah terjadi dan pastinya berubah dari kota Paris Van Java ini. Nah, kenapa sih kota ini bisa disebut sebagai Paris nya Jawa, lalu bagaimana kronologis Bandung ini dilihat dari kondisi Dulu, kini, dan juga di masa mendatang?

DULU

Kala itu, sekitar tahun 1920 hingga 1925, Kota Bandung sedang membangun diri supaya menjadi kota yang nyaman dan mampu memenuhi kebutuhan warganya. Orang-orang Eropa mulai beradaptasi dan mempertahankan diri di tengah suasana lingkungan hidup yang “dibuat” meng-Eropa di tengah-tengah pribumi. Meski begitu, mereka nyatanya bisa hidup damai bersama dengan para pribumi. Sehingga, keeropaan mereka pun bisa diterima oleh masyarakat pribumi, dan justru memberi warna tersendiri bagi kota Bandung saat itu. Kehidupan damai di kota Bandung saat itu, serta suasana Eropa di Bandung yang membumi, membuat Bandung dijuluki sebagai ”Eropa In The Tropen” (Eropa di Negeri yang Tropis).

Di sebuah komplek di Jalan Aceh, diadakan sebuah bursa tahunan (Jaarbeurs). Kegiatan tersebut berbentuk sebuah pasar malam, yang di dalamnya juga terdapat pertunjukan teater sandiwara serta pertunjukkan musik. Acara tersebut diselenggarakan setiap tahun pada bulan juni hingga Juli.

Lain di Jalan Aceh, lain pula di Jalan Braga. Pada saat itu, jalan Braga merupakan suatu pusat perbelanjaan di kota Bandung, yang dimana pakaian-pakaian model Paris yang terbaru merupakan barang utama yang dijajakan. Selain itu, pada malam-malam tertentu, di jalan ini sering mengadakan pertunjukkan kesenian.

Dua jalan ini adalah segelintir jalan, yang pada masa itu penuh gemerlap dengan susasana ala Eropa sana. Maka tak heran, bila orang-orang saat itu menjuluki Bandung sebagai ”Paris of Java” atau ”Paris Van Java”; sebuah julukan yang masih tetap melekat hingga saat ini.

Jaarbeurs

B.Coop (walikota Bandung saat itu) bersama dengan Comitte tot Behartiging van Bandung’s Belangen (komite guna megurus kota Bandung) memprakarsai sebuah acara. Acara bursa dagang tahunan (Jaabeurs) adalah namanya. Acara ini diadakan pada tahun 1920 pada bulan Juni hingga bulan Juli. Area sebelah selatan lapangan olahraga   Nederland Indie Athletiek Unie (NIAU)—yang kini dikenal dengan GOR Saparua. Di area tersebut, juga tersedia bangunan semi permanen, yang diisi dengan stand-stand dari berbagai produk industri dan perkebunan Bandung. Acara ini juga sekaligus menjadi kegiatan promosi wisata kota Bandung . sebab, pengunjung yang hadir tak hanya dari Bandung, tapi juga dari daerah lain, bahkan dari Negara lain. Tahun 1925, gedung utama Jaabeurs resmi didirikan. Adalah C.P. Wolf Schoemaker—arsitek terkemuka saat itu—sang pendiri gedung tersebut.

Gedung Majestic

Bioskop yang saat ini banyak digandrungi ternyata sejak dahulu kala sudah menjadi primadona. Pada masa awal berdirinya, Majestic di bangun sebagai bioskop, guna mengiringi kawasan Braga yang saat itu merupakan sebuah pusat belanja. Saat itu, tak lengkap rasanya bila sebuah pusat belanja tidak memiliki tempat hiburan, khususnya bioskop. Maka, Prof C.P.Wolf Schoemaker yang bekerja sama dengan biro arsitek Technisch Bureau Soenda, mendirikan sebuah gedung. Dan Concordia Bioscop adalah nama pertama gedung tersebut.

Scoemaker menyulap bioskop tersebut hingga menyerupai kaleng biskuit. Sehingga tak ayal, masyarakat saat itu sering menjulukinya sebagai gedung kaleng biskuit. Pada awalnya, bioskop tersebut sering menayangkan film-film bisu sebagai tayangan utama. Sehingga, bioskop tersebut dilengkapi dengan orkes mini serta seorang komentator; sebagai mengisi suara film-film bisu tersebut.

Pertama kali dalam sejarah, film karya pribumi: ”Loetoeng Kasaroeng” ditayangkan di Majestic. Film tersebut ditayangkan pada tahun 1926. Hingga tahun-tahun berikutnya, Majestic pun sering menayangkan film-film lokal, hingga meraih masa kejayaannya pada tahun 1970. Namun, semenjak menjamurnya bioskop-bioskop modern era 1980-an, pamor Majestic pun kian meredup. Hal tersebut juga diperparah dengan seringnya Majestic menayangkan film-film panas.

Setelah tidak menggunakan nama Concordia Bioscop lagi, Gedung Majestic pernah beberapa kali berganti nama. Orient Bioscop dan Bioskop Dewi adalah dua nama yang menjadi pengganti.

Landmark

Gedung yang beralamat di jalan Braga no.129 ini, dulunya adalah sebuah toko buku yang bernama van Dorp. Toko buku ini didirikan pada tahun 1922, dan cukup lama bertahan hingga tahun 1960-an.

Pada tahun 1970, Landmark sudah tidak menjadi Van dorp lagi. Saat itu, gedung yang memiliki arsitektur arcade dan Ornamen Batara itu berubah fungsi menjadi bioskop.

Au Bon Marche

Seperti yang sudah dipaparkan pada alinea sebelumnya, bahwa di jalan Braga banyak gedung yang berubah wajah dan fungsi. Salah satunya adalah gedung au Bon Marche. Nama gedung ini menggunakan bahasa Perancis, yang apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti  ”Belanja Murah Berkualitas”, meski dalam realitanya, harga barang yang dijajakan di toko ini tidaklah murah, namun kualitasnya masih bisa dikatakan menjanjikan.

Au Bon Marche merupakan sebuah toko pakaian, yang menjajakan pakaian model Paris terbaru sebagai dagangan. Jadi, apabila di Paris muncul model pakaian terbaru, maka seminggu sesudahnya toko ini akan menjajakannya. Maka tak heran, toko baju ini pun sering dikunjungi oleh para borjuis Hindia Belanda saat itu, meski harga pakaiannya tidak murah.

Gedung yang didirikan oleh A.Makinga pada tahun 1913. Letak gedung ini dekat dengan dengan gedung Majestic; gedung yang dahulunya merupakan sebuah bioskop. Dikarenakan toko ini selalu menjajakan pakaian model paris terbaru, maka toko ini pun diminati pembeli. Hal ini, membuat gedung Au Bon Marche melakukan perluasan gedung hingga ke arah utara.

Awal tahun 1920, Au Bon Marche mendapat pesaing. Bukan sebuah toko pakaian Perancis, tapi sebuah toko pakaian bergaya belanda bernama Onderling Belang. Toko pakaian ini merupakan toko cabang, yang dimana pusatnya ada di amsterdam Belanda.

Toko pakaian ini dimiliki oleh seorang Belanda bernama H.J.M. Koch. Apabila Au Bon Marche selalu menampilkan pakaian model Paris terbaru, maka Onderling Belang sebaliknya. Onderling Belang adalah sebuah toko pakaian yang selalu menjajakan pakaian model Belanda terbaru. Karena sama-sama menampilkan pakaian model terbaru, maka toko milik H.J.M. Koch ini juga sama-sama diminati banyak pelanggan. Maka tak ayal, bila kedua toko saling bersaing untuk mendapatkan pelanggan.

 

 

 

Onderling Belang

Pada pembahasan sebelumnya, dijelaskan bahwa Onderling Belang (OB) adalah sebuah toko pakaian yang mejajakan pakaian model Belanda terbaru. Toko ini merupakan rival dari Au Bon Marche. Sehingga saat itu, Bandung (khususnya Braga) menjadi tempat pertempuran mode. Pada masa nasionalisasi yang dilakukan oleh presiden Soekarno, gedung OB ini pun berganti nama menjadi gedung Sarinah.

KINI

Pada masa kini, baik itu di Jalan Aceh maupun Braga,  sudah tak ada lagi Jaabers, pusat perbelanjaan, toko pakaian yang menyediakan pakaian model Paris terbaru, serta pertunjukkan kesenian.

Dewasa ini, jalan-jalan tersebut sudah berubah wajah. Di jalan Aceh misalnya. Di sana, memang masih tersisa beberapa bangunan dengan arsiterktur Eropa. Namun, di sana sudah tak ada lagi kegiatan bursa tahunan (Jaabeurs). Hanya gedung Jaabeurs—yang merupakan ikon dari kegiatan tersebut—yang kini tinggal tersisa. Kini, gedung Jaabeurs pun beralih fungsi menjadi gedung  Makodiklat TNI-AD.

Di Jalan Braga, Majestic kembali berganti nama di tahun 2002. Bukan saja berganti nama, namun juga fungsinya. Asia Afrika Cultural Centre (AACC) adalah nama tersebut. Nama tersebut juga sebagai penanda, bahwa Majestic tidak difungsikan lagi menjadi bioskop, melainkan menjadi tempat bagi para seniman untuk menggelar kegiatan seni dan budaya. Sekitar tahun 2008, AACC pernah menjadi saksi sejarah kelam. Gedung ini, pernah menjadi saksi bisu atas tewasnya 10 orang saat menyaksikan launching album dari Beside; sebuah band beraliran hardcore asal Bandung.

Tahun 2010, Majestic kembali berganti nama. Dengan mengusung semangat baru, gedung Majestic pun berganti nama kembali menjadi New Majestic. Fungsinya masih sama saat masih bernama AACC. Hanya saja, gedung tersebut kini digunakan juga sebagai kegiatan bisnis. Selain itu, terdapat kafe dan lounge bernuansa heritage yang menjadi pemandangan baru di New Majestic. Terhitung tanggal 1 Juli 2013, New Majestic beralih fungsi lagi. Bukan sebagai tempat pertunjukan seni budaya dan kegiatan bisnis, melainkan sudah berubah fungsi menjadi tempat karaoke.

Pengalihfungsian pun dialami juga oleh gedung Landmark. Setelah tidak dijadikan bioskop, kini Landmark berubah fungsi menjadi gedung tempat diselenggarakannya pameran buku dan komputer mingguan, tempat kegiatan seni budaya, serta tempat yang sering digunakan untuk kegiatan bursa kerja (Job Fair).

Berbanding terbalik dengan kedua gedung di atas, nasib Au Bon Marceh dan nderling Belang mengalami nasib yang naas. Khusus untuk Au Bon Marche, atap gedung ini kini telah dikupas, sehingga hanya menyisakan rangkanya saja. Sedangkan bagian perluasan gedungnya yang ada di sebelah utara, dihancurkan dan dibangun gedung baru. Beruntung, masih ada dua blok bentuk asli bangunan, yang kini telah berubah menjadi kafe dan toko.

Tak seperti Au Bon Marche, nasib Onderling Belang (OB) yang terletak di seberang gedung Au Bon Marche ini lebih buruk dari gedung di seberangnya. Bangunannya kini dirubuhkan, bahkan sudah dipagari dengan seng, yang membuat kita tidak bisa melihat secuil pun bentuk asli bangunan tersebut.

Meski kini masyarakat Bandung sudah tidak hidup berdampingan dengan masyarakat Eropa—khususnya belanda–, tetapi dewasa suasana Eropa masih ada saat ini. Bukan hanya dari gedung-gedung heritage yang masih tersisa, tapi juga dari trotoar jalan yang telah dibangun dengan arsitektur gaya Eropa. Pembangunan trotoar ini sudah lama diracang oleh Ridwan Kamil (walikota Bandung saat). Entah apa alasannya, namun pembangunan trotoar seolah ingin menghidupkan suasana kota Bandung pada masa lalu.

Perang mode antara Paris dan Belanda memang sudah berakhir di hari ini. Namun, perang mode masih tetap relevan di ibukota Jawa barat ini. Perangnya tidak di Jalan Braga, namun kini terjadi antara mall-mall pusat kota yang menawarkan harga diskon, toko-toko baju sisa ekspor maupun impor yang kualitasnya masih bisa dipertanggungjawabkan, sampai pertarungan mode pakaian hasil karya anak bangsa.

Dewasa ini, Bandung tak hanya dipenuhi dengan para penjajak pakaian. Kini, makanan pun begitu menjamur di berbagai sudut kota. Mulai dari makanan tradisional yang masih orisinal, sampai makanan orisinal yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Tak lupa, makanan khas luar negeri pun turut meramaikan khasanah kuliner di Bandung. Ramen adalah salah satu contohnya.

Selain itu, Paris Van Java yang merupakan julukan yang sudah melekat di kota Bandung, kini sudah melekat menjadi sebuah nama mall. Adalah sebuah mall di jalan Sukajadi, yang meyadur julukan tersebut.

Mall ini diresmikan pada bulan Juli di tahun 2006, beralamat di jalan Sukajadi no. 137-139. Nuansa Eopa terasa di sana, meski bangunannya bukanlah bangunan peninggalan zaman dulu. Selain itu, selayaknya mall pada umumnya, PVJ (singkatan dari Paris Van Java) tentu tersedia toko-toko baju, kafe-kafe, hingga wahana permainan. Tapi, ada yang unik di sana.  Arsitekturnya yang terbuka (open air) menjadi pembeda PVJ dengan mall lainnya. Dengan arsitektur tersebut, tentu saja membuat matahari memberi suasana benderang namun sejuk.

DAN NANTI

Bila ditilik dari kondisi hari ini, sepertinya kondisi Paris Van Java kita kurang lebih sama seperti hari ini (meski tentu saja akan ada perubahan yang terjadi di kemudian hari). Dari segi banguan heritage, bangunan-bangunan tersebut diprediksi masih bertahan. Kalaupun ada perubahan, mungkin beberapa bagian bangunan akan direnovasi.

Namun tidak semua bangunan tersebut bisa terus bertahan hidup. Bangunan-bangunan di Jalan Sukabumi serta gedung Sarinah; adalah contohnya. Gedung Sarinah (dulunya Onderling Belang), kini sudah tak berbentuk serta ditutupi oleh seng.

Kekhawatiran yang lain adalah, pengalihfungsian bangunan-bangunan tersebut. Apabila digunakan untuk kepentingan pemerintahan, atau untuk kegiatan pameran, seni, dan budaya; itu tidaklah masalah. Yang menjadi pokok masalahnya ialah: pengalihfungsian bangunan heritage tersebut untuk kepentingan komersil; seperti yang dewasa ini dialami oleh Majestic/New Majestic. Akan sangat menyedihkan, bila sebuah gedung yang memiliki seni arsitektur yang baik, digunakan menjadi sebuah tempat karaoke.

Bandung, bagaimanapun kondisinya hari ini, tetap akan disebut sebagai ”Paris Van Java”. Sebab, suasana maupun kehidupan masyarakatnya tak banyak yang berubah. Untuk ke depan, Bandung mungkin akan mengalami banyak perubahan, baik dari segi infrastruktur maupun juga pola hidup masyarakatnya.

Editor : Nia Yuniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here