Apa yang menjadi ukuran bagi seseorang yang berpuasa diterima oleh Allah? Jawabannya adalah memenuhi syari’at/ketentuan yang termuat dalam fiqih puasa.

Wajib bagi seorang muslim dan muslimah untuk mencari ilmu tentang fiqih puasa sebelum menunaikan puasa. Ibaratnya ini adalah bekal/persiapan sebelum menunaikan amalan puasa. Bukankah Ramadhan itu adalah bulan yang di dalamnya dilipatgandakan pahala, berlomba-lomba beramal sebaik-baiknya? Karenanya, perlu disiapkan sebaik-baiknya sebelum menjalani bulan Ramadhan.

Amalan yang diterima adalah amalan yang didasarkan atas ilmu.

syarat sah dan wajib puasa

Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu ‘anhu berkata:

 

الْعِلْمُ إمَامُ الْعَمَلِ وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ

“Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu”

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki”

 

Oleh karena itu, mari kita mengetahui puasa terlebih dahulu supaya amal kita berdasarkan ilmu. Ibaratnya seperti pohon yang berbuah.

Yang harus diketahui dari puasa adalah syarat wajib dan sah.

Syarat wajib

Syarat wajib puasa yang pertama adalah beragama Islam. Orang yang wajib berpuasa adalah orang Islam yang sudah sampai dakwah kepadanya. Dengan kata lain, dia sudah memiliki ilmu dan menyadari kewajibannya untuk menjalankan puasa. Untuk mereka yang kafir, bukan Islam, tentunya tidak wajib bagi mereka, walaupun sudah sampai ilmu tentang itu.

Syarat wajib kedua adalah baligh. Muslim atau muslimah dikatakan baligh ketika telah menunjukkan beberapa tanda. Tanda utamanya bagi pria adalah keluarnya air mani dari kemaluannya baik secara disengaja atau pun tidak (mimpi basah).

Dalam kitab Kasyifatus Saja, Syaikh Nawawi Al-Bantani mengatakan:

“Sempurnanya umur lima belas tahun berlaku bagi anak laki-laki dan perempuan dengan menggunakan perhitungan kalender hijriah atau qamariyah. Seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan yang telah mencapai umur lima belas tahun ia telah dianggap baligh meskipun sebelumnya tidak mengalami tanda-tanda baligh yang lain.”

“Tanda baligh kedua adalah keluarnya sperma (ihtilaam) setelah usia sembilan tahun secara pasti menurut kalender hijriyah meskipun tidak benar-benar mengeluarkan sperma, seperti merasa akan keluar sperma namun kemudian ia tahan sehingga tidak jadi keluar. Keluarnya sperma ini menjadi tanda baligh baik bagi seorang anak laki-laki maupun perempuan, baik keluar pada waktu tidur ataupun terjaga, keluar dengan cara bersetubuh (jima’) atau lainnya, melalui jalannya yang biasa ataupun jalan lainnya karena tersumbatnya jalan yang biasa.”

“Adapun haid atau menstruasi menjadi tanda baligh hanya bagi seorang perempuan, tidak bagi seorang laki-laki. Ini terjadi bila umur anak perempuan tersebut telah mencapai usia sembilan tahun secara perkiraan, bukan secara pasti, dimana kekurangan umur sembilan tahunnya kurang dari enam belas hari menurut kalender hijriyah. Bila ada seorang anak yang hamil pada usia tersebut, maka tanda balighnya bukan dari kehamilannya tetapi dari keluarnya sperma sebelum hamil.”

 

Syarat wajib ketiga adalah berakal sehat. Berakal sehat adalah tidak mengalami gangguan jiwa. Orang yang mabuk pun tidak diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Namun jika seseorang sudah sembuh dari gangguan jiwa serta mabuk, ia wajib menjalankan puasa.

Syarat wajib keempat adalah orang yang sehat/mampu. Orang yang sedang sakit, hamil, menyusui atau menstruasi (khusus perempuan) tidak wajib berpuasa. Meski begitu, jika orang ini sudah sehat kembali, ia tetap wajib berpuasa dan mengganti puasa yang telah ditinggalkan selama sakit, hamil, menyusui maupun menstruasi.

Syarat wajib kelima adalah mengetahui waktu, yaitu di bulan Ramadhan. Jika sudah melihat hilal yang menunjukkan menuju tanggal 1 Ramadhan, umat muslim diwajibkan untuk berpuasa Ramadhan. JIka tidak bisa melihat, maka dengan hisab.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya: Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berhari rayalah karena melihatnya, jika hilal hilang dari penglihatanmu maka sempurnakan bilangan Sya’ban sampai tiga puluh hari.

Syarat Sah

Beberapa orang mengira, syarat wajib dan syarat sah adalah hal yang sama. Sebenarnya ada beda dalam dua kata tersebut. Syarat wajib adalah sifatnya melekat dan mendasar jauh sebelum mengerjakan amalan, sedangkan syarat sah adalah syarat yang harus ada sejak memulai sampai mengakhiri amalan. Dengan kata lain, amalan akan batal jika syarat sahnya tidak terjaga selama waktu mengerjakan amalan yang ditentukan.

Oleh karena itu syarat sah harus dipenuhi pada saat memulai amalan sampai akhir, walaupun sebelum itu keadaan sebaliknya.

Menurut madzhab as Syafi’i bahwa syarat sah puasa Ramadhan ada 4 hal:

Yang pertama adalah islam. Dalam hal ini berbeda dengan syarat wajib di atas. Jika dalam syarat wajib disebutkan syaratnya adalah islam, maka maksudnya seseorang harus beragama islam untuk bisa berpuasa Ramadhan. Sedangkan syarat sahnya adalah menjaga keislamannya. Maksudnya, pada saat berpuasa sepanjang hari dia islam, tidak murtad atau kafir.

Yang kedua berakal. Berakal dalam hal ini pun berbeda dengan syarat wajib di atas. Jika seseorang hilang ingatan pada saat puasa sepanjang hari, maka puasanya batal.

Yang ketiga dan keempat adalah suci dari haid dan nifas yang terjaga sepanjang terbit matahari sampai terbenam dan hal ini terkhusus bagi wanita. Jika pada saat siang hari misalnya keluar darah haid yang sudah biasa (dikenal sebagai darah haid bukan istihadhoh), maka puasanya menjadi batal. Atau misalnya pasca melahirkan, masanya untuk nifas maka puasanya menjadi batal.

Sebagai catatan, adapun niat termasuk pada rukun puasa. Sebagaimana ada dalam kitab-kitab fiqih madzhab imam asy syafi’i rohimahumullohu ta’ala.

Niat artinya menyengaja dalam hati untuk melakukan amalan. Menyengaja dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Hafshoh –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.”

(HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’I)

Menurut imam An Nawawi rahimahullah, ulama besar dalam Syafi’iyah- yang mengatakan,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”

Niat ini harus diperbaharui setiap harinya. Karena puasa setiap hari di bulan Ramadhan masing-masing hari berdiri sendiri, tidak berkaitan satu dan lainnya. Tidak pula puasa di satu hari merusak puasa hari lainnya. Hal ini berbeda dengan raka’at dalam shalat.

Niat berpuasa setiap hari :

syarat sah dan wajib puasa


Ngaderes.com

Alamat : Jalan Taman Saturnus Raya No.35, Bandung
Telpon : ‎+62 22 87314168

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here