solidaritas sosial di masa pandemi

Ngaderes.com – Bukan hanya bulan Ramadan yang terasa beda di tengah Covid-19 yang masih belum mereda. Dampak dari sektor ekonomi pun kian terasa. Imbas wabah yang berdampak pada sektor ekonomi mengakibatkan perputarannya tersendat.

Beberapa perusahaan ahirnya mengeluarkan kebijakan pegawai terpaksa “dirumahkan”. Sebagian besar buruh kena PHK. Para pedagang kaki lima dan masyarakat menengah ke bawah yang berganti pada penghasilan harian berkurang bahkan bisa jadi tidak ada.

Mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri, ia menilai krisis ekonomi akibat Corona akan lebih parah dibandingkan krisis pada 1998 silam.

“Pandemi virus Corona ini berbeda dengan krisis 1997-1998. Saat itu perusahaan-perusahaan besar memang dibuat babak-belur oleh krisis, tapi Indonesia tertolong oleh sektor usaha mikro, kecil dan menengah,” jelasnya sebagaimana dilansir Detik.com pada Jumat (08/5/2020).

Chatib menambahkan bahwa Corona ini kompleks masalahnya. Sebab yang terdampak bukan hanya aktivitas produksi yang menyebabkan supply shock, dampak selanjutnya orang-orang akan kehilangan pendapatan dan pekerjaan sehingga menyebabkan demand shock.

Begitulah kiranya gambaran saat ini. Belum lagi gambaran kondisi sulit lainnya yang dirasakan oleh semua kalangan. Benarkah adanya hidup makin sulit setelah Covid melanda.

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil Serukan Solidaritas Sosial

Dalam kondisi seperti ini, Gubernur Jabar, Ridwan Kamil angkat suara. Melalui akun instagramnya, beliau menyuarakan untuk meningkatkan solidaritas sosial sesama warga selama PSBB berlangsung.

“Dari pembatasan sosial kita harus bergeser ke solidaritas sosial. Negara tidak mungkin bisa menyelesaikan ini sendiri, negara butuh bantuan masyarakat. Solidaritas sosial di saat ini adalah kebutuhan. Menolong tetangga dan lingkungan terdekat adalah bagian dari bela negara kita saat perang melawan covid ini,” kata Emil, Jumat (8/5/2020).

Dalam postingan tersebut, Emil menyertakan foto gerakan warga dalam upaya bersolidaritas kepada warga lainnya dengan menggantungkan sayuran di pagar-pagar rumah.

Seperti biasa, postingan beliau yang pernah menjabat Wali Kota Bandung ini dibanjiri hingga lima ribu komentar. Pro-kontra mengenai postingan tersebut mewarnai kolom komentar.

Banyak di antara warganet yang menyoroti postingan tersebut dengan nada miring. Mereka mengkhawatirkan ketika masyarakat bersolidaritas, negara akan abai dalam memenuhi kebutuhan pokok.

“Oh ini sih namanya pola desentralisasi. Subsidi silang sesama rakyat. Ketika ini jadi masif, jangan sampe pemerintah malah jadi keenakan yaa,” tulis akun bernama _sasalbilaa

Menanggapi berbagai komentar bernada khawatir, Ridwan Kamil beberapa kali membalas komentar dari warganet. “dalam situasi apapun, yang namanya bersedekah adalah anjuran agama,” jawab Emil pada komentar akun ical_alfaqir489

Berkaca Pada Teori solidaritas sosial Emile Durkheim

Dalam salah satu konsentrasinya, Emile Durkheim sangat tertarik dengan perubahan cara di mana solidaritas sosial dibentuk.

Dengan kata lain perubahan cara-cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh. Untuk menyimpulkan perbedaan ini, Durkheim membagi dua tipe solidaritas mekanis dan organis.

Masyarakat yang ditandai oleh solidaritas mekanis menjadi satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Ikatan dalam masyarakat ini terjadi karena mereka terlibat aktivitas dan juga tipe perkerjaan yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Dengan kata lain, masyarakat ini termasuk pada masyarakat tradisional.

Sebaliknya, masyarakat yang ditandai oleh solidaritas organis bertahan bersama karena adanya perbedaan yang ada di dalamnya, dengan fakta bahwa orang memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda-beda (George Rizzer dan Douglas J. Goodman, 2008: 90-91).

Masyarakat yang dibentuk dengan solidaritas mekanik, terdapat pada masyarakat yang sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Sehingga yang menyatukan mereka biasanya bersifat primordial atau religious. Efeknya, di antara masyarakat akan muncul apa yang disebut oleh Durkheim dengan istilah Collective Conscience atau kesadaran kolektif.

Sementara dalam masyarakat yang dipersatukan atas dasar solidaritas organik, kesadaran kolektif dibatasi pada sebagian kelompok, tidak dirasakan terlalu mengikat, kurang mendarah daging, dan isinya hanya kepentingan semata (Kumanto Sunarto, 2004:128).  Bentuk solidaritas ini terjadi ketika pembagian kerja telah bersifat rinci dan dipersatukan oleh saling ketergantungan antar bagian.

Mengacu pada konsep Durkheim sejatinya yang dibutuhkan oleh Indonesia hari ini adalah solidaritas yang bersifat mekanis. Apabila dianalisis mengenai syarat masyarakat mekanis dengan sistem yang masih sederhana tentunya Indonesia tidak termasuk di dalamnya. Kompleksitas warga negara dengan sistem pembagian kerja yang telah mapan tentunya sulit untuk mengatakan Indonesia memiliki karakteristik mekanis.

Tetapi celah lain untuk membentuk masyarakat Indonesia dalam bingkai solidaritas mekanis adalah berbicara tentang sebuah entitas bangsa yang sama. Jika hal ini disadari di antara warga negara tentu akan menjadi sebuah gelombang solidaritas yang besar dalam rangka mewujudkan cita-cita yang sama yakni bersatu melawan Corona.

Modal besar masyarakat Indonesia mampu bersatu dan bersolidaritas telah terbukti melalui survei yang dikeluarkan oleh Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018 yang dinobatkan menduduki posisi teratas dengan sjor 59 persen. Indonesia menduduki posisi teratas yang pada tahun sebelumnya Indonesia berada di posisi kedua CAF World Giving Index.

Penobatan ini menjadi satu modal berharga yang semestinya di tengah pandemi Corona menjadi kekuatan besar dalam rangka membangun solidaritas sosial bersifat mekanis. Kesadaran kolektif atas nama bangsa dan kemanusiaan semestinya menyingkirkan sejenak priksi yang biasanya terjadi di jagat maya mengenai pilihan politik masa lalu. Karena hal tersebut tidak lebih penting dari pada memastikan tetangga sekeliling rumah agar senantiasa dapurnya tetap ngebul.

Penulis : Rizal Sunandar
Editor : Sasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here