Kurban Pandemi Covid-19
Foto: unsplash.com
Said Bin Amir (Part 1)

Saat itu Hims digambarkan sebagai Kufah kedua. Ada kesamaan perilaku penduduknya; sering terjadi pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Karena pembangkangan sudah lebih dulu terjadi di Kufah, Irak, maka Hims disebut Kufah kedua. Namun terhadap kepemimpinan Said bin Amir -dengan izin Allah-mereka taat dan patuh.

Suatu hari Umar menyampaikan berita kepada Said, “Orang-orang Syam cinta dan hormat kepadamu.”

Said menjawab, “Bisa jadi karena aku suka membantu keperluan mereka”

Meskipun demikian, adanya kelihan dari masyarakat tidak bisa dihindari. Paling tidak sebagai bukti bahwa Hims masih tetap menjadi saiangan berat bagi kota Kufah.

Suatu ketika, saat Khalifah Umar berkunjung ke Hims, ia bertanya kepada penduduk Hims yang sedang berkumpul, “Bagaimana pendapat kalian tentang Said?”

Beberapa orang mengungkapkan beberapa keluhan. Rupanya keluhan itu berbalik menjadi sisi positif Said. Ada sisi keagungan yang terungkap sungguh ajaib.

Khalifah Umar meminta agar mereka mengemukakan keluhan mereka satu demi satu. Maka, atas nama kelompok tersebut, seorang laki-laki tampil bicara,

“Kami mengeluhkan 4 perkara: pertama, ia baru keluar menemui rakyatnya setelah hari sudah siang; kedua, ia tidak melayani seorang pun di malam hari; ketiga, setiap bulan ada dua hari di mana ia tidak melayani rakyatnya, dan kami tidak melihatnya sama sekali; dan, ada satu lagi yang sebetulnya bukan kesalahannya tapi mengganggu kami (keempat), yaitu sewaktu-waktu ia jatuh pingsan.” Lalu laki-laki itu duduk.

Khalifah Umar menunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, “ Ya Allah, aku tahu bahwa ia adalah hamba-Mu yang terbaik, maka jangan Engkau belokkan firasatku ini.”

Lalu Said dipersilahkan untuk membela dirinya. Ia berkata,

“Mengenai keluhan mereka bahwa aku tidak keluar menemui mereka kecuali hari sudah siang, demi Allah, sebetulnya aku tidak ingin menyebutkannya. Kami tidak punya pembantu, maka akulah yang membuat roti; dari mengaduk tepung hingga roti itu siap dimakan. Setelah itu aku berwudhu, dan shalat dhuha. Setelah itu, aku keluar menemui mereka.”

Wajah Umar berseri-seri, dan ia mengucapkan, “Alhamdulillah. Lalu yang kedua?”

Said melanjutkan pembicaraannya,

“Adapun keluhan mereka bahwa aku tidak melayani mereka di malam hari, maka demi Allah aku benci menyebutkan sebabnya. Aku telah menyediakan siang hari untuk mereka, sedangkan malam hari untuk Allah.”

“Mengenai keluhan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana aku tidak menemui mereka, sebabnya adalah aku tidak mempunyai pembantu yang mencucijan pakaianku, dan pakaikanku tidak banyak. Aku tidak bisa berganti pakaian dengan leluasa. Aku mencucinya lalu menunggu sampai kering, hingga baru bisa keluar menemui mereka di sore hari.”

“Tentang keluhan mereka bahwa aku sering jatuh pingsan, sebabnya adalah ketika di Mekah dulu, aku melihat langsung bagaimana Khubaib al-Anshari tewas. Tubuhnya disayat-sayat. Orang-orang kafir Quraisy itu bertanya, ‘Maukah engkau jika Muhammad menggantikanmu, dan kamu bebas?’ Khubaib menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak ingin berada di rumah bersama anak dan istriku menikmati kesehatan dan kelezatan hidup, sementara Rasulullah terkena musibah walau hanya tertusuk duri.’ Saat itu, aku masih kafir. Aku menyaksikan dengan mata kepala, dan aku tidak bergerak sedikit pun untuk menolong Khubaib. Karena itu, aku sangat takut akan siksa Allah kelak, hingga aku jatuh pingsan.”

Selesai sudah pembelaan Said. Kedua pipinya basah oleh air mata. Khalifah Umar tidak bisa menahan rasa harunya. Ia berseru dengan gembira, “Alhamdulillah firasatku tidak melesat.” Lalu ia merangkul Said, dan mencium keningnya yang bercahaya.

Said bin Amir: Aku tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama

Petunjuk macam apakah yang telah diperoleh manusia seperti ini?

Guru besar jenis siapakah, Rasulullah saw. Itu?

Cahaya apakah Al-Quran itu?

Sekolah model apakah Islam itu?

Tetapi, mampukan bumi memikul jumlah yang cukup banyak dari tokoh-tokoh seperti ini?

Jika mampu, tentu sudah bukan bumi lagi, tetapi akan berubah menjadi surga firdaus.

Ya…, surga firdaus yang dijanjikan itu.

Dan karena Firdaus itu belum tiba waktunya, maka orang-orang yang lewat di muka bumi ini yang semodel dengan tokoh kita ini sangatlah sedikit. Dan Said bin Amir adalah satu dari mereka.

Sebagai gubernur tentu gaji yang diterimanya juga banyak. Akan tetapi, yang diambilnya hanyalah sekadar keperluan diri dan istrinya, selebihnya dibagikan kepada orang-orang miskin.

Suatu ketika, ada yang memberi nasihat, “Berikanlah kelebihan harta ini untuk keperluan keluargamu dan keluarga istrimu.”

Said menjawab, “Mengapa keluargaku dan keluarga istriku? Demi Allah, aku tidak akan melepas keridhaan Allah hanya demi mementingkan kerabatku.”

Seringkali orang menasihati, “Berikan jatah belanja yang cukup untuk dirimu dan keluargamu. Nikmatilah hidup ini.”

Tetapi ia selalu menjawab dengan ucapan berikut.

“Aku tidak ingin tertinggal oleh rombongan pertama. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka orang-orang miskin dari orang-orang mukmin berdesak-desakan maju ke depan tak ubahnya bagai kawanan burung merpati. Lalu, ada yang berseru kepada mereka, “Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan.” Mereka menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab.” Maka Allah berfirman, “Hamba-hamba-Ku ini benar.” Mereka masuk ke surga sebelum orang-orang lain masuk.”

Menghadap Tuhannya dengan lembaran yang paling bersih

Sa'id bin 'Amir
Foto: unsplash.com

Dan pada tahun 20 Hijriah, Said menghadap Tuhannya dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang.

Telah lama rindunya terpendam untuk menyusul “Rombongan Pertama”. Hidupnya telah dicurahkan untuk menjaga janjinya dan mengikuti langkah mereka.

Sungguh, ia sangat merindukan berkumpul kembali dengan Rasulullah; gurunya, dan rekan-rekannya. Semua berkumpul dengan membawa lembaran suci.

Hari ini, ia akan menemui mereka dengan hati tenang, jiwa yang tenteram dan beban yang ringan. Tiada sedikitpun kekayaan dunia yang membebani punggungnya. Ia hanya membawa keshalihan, kezuhudan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Ia hany membawa keutamaan-keutamaan yang memberatkan timbangan kebaikannya, dan tidak memberatkan punggungnya. Ia membawa keistimewaan yang menggoncangkan dunia, dan sama sekali tidak tertipu.

Salam sejahtera untuk Said bin ‘Amir.

Salam sejahtera untuknya, dikala hidup dan sesudah mati.

Salam sejahtera dan beribu salam sejahtera untuk perjalanan hidupnya yang harum.

Salam sejahtera untuk generasi terbaik, generasi pendamping Rasulullah.

 

Sumber: Buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid, Cetakan kesembilan April 2018

Editor: Dita FA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here