Sa'id Bin 'Amir
Foto: unsplah.com/fabien bazanegue
Adakah yang mengenal namanya?

Siapakah di antara kita yang pernah mendengarnya sebelum ini? Bisa jadi, kebanyakan dari kita, atau bahkan kita semua, belum pernah mendengarnya sama sekali. Dan saya yakin, kalian sekarang bertanya-tanya, siapakah kiranya Sa’id Bin ‘Amir ini?

Tentu! Sebentar lagi kalian akan mengetahui siapakah Sa’id Bin ‘Amir.

Sa’id adalah satu dari deretan sahabat Rasulullah yang ditokokan, meskipun namanya tidak seterkenal nama-nama lain. Ia teladan dalan ketakwaan yang tidak mau menonjolkan diri.

Mungkin ada baiknya kita kemukakan di sini bahwa ia tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah saw. Tetapi, itu telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam. Tidak selayaknya bagi orang yang beriman akan tinggal berpangku tangan dan tidak mengambil bagian dalam peristiwa yang dihadapi Nabi, baik di kancang peperangan maupun di luar arena perang.

Sa’id Bin ‘Amir memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar

Sa’id memeluk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Dan sejak memeluk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah saw, seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita-citanya dibaktikan kepada Islam dan Rasulullah. Ketaatan, kezuhuda, keshalihan, keluhuran, ketinggian, dan semua sifat baik ada pada manusia suci dan baik ini. Dia-lah saudara tua kita.

Jika kita ingin melihat kebesarannya, kita harus jeli dan cermat agar tidak terkecoh, dan akhirnya kita tidak bisa mendapati kebesarann itu.

Ketika mata kita tertuju kepada Sa’id di tengah keramaian, kita tidak akan mendapati seorang prajurit lusuh dengan rambut tidak terurus. Pakaian dan penampilannya tidak beda dengan orang-orang miskin lainnya. Jika ini yang kita jadikan pedoman, tentu kita tidak akan mendapati sesuatu. Kebesaran laki-laki ini lebih sejati dibandingkan hanya berupa penampilan luar dan kemewahan. Ia jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesehajaannya. Apakah kalian tahu mutiara yang terpendam di perut kerang? Nah, keadaannya mirip seperti itu.

Sa’id Bin ‘Amir dipilih sebagai Gubernur Syam

Sa'id Bin 'Amir
Foto: unsplash.com/elektra klimi

Ketika Khalifah Umar bin Khathab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai gubernur wilayah Syam, ia mencari-cari penggantinya.

Metode pencarian yang digunakan Khalifah Umar sangat hati-hati, karena ia yakin bahwa apapun kesalahan yang dilakukan oleh pimpinan daerah maka orang yang pertama kali dimintai pertanggungan jawab oleh Allah adalah pimpinan tertinggi, yaitu dirinya sendiri. Setelah itu pimpinan daerah. Standar penilaian pun dibuat sesempurna dan secermat mungkin.

Syam saat itu adalah wilayah yang sudah maju dan cukup luas. Sementara itu, kehidupan di sana sebelum datangnya Islam mengikuti peradaban yang silih berganti. Selain itu, Syam merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang tepat untuk bersenang-senang. Syam wilayah yang penuh godaan. Karena itu, yang cocok menjadi gubernur Syam adalah orang yang suci yang ditakuti oleh setan apa pun. Orang suci yang zuhud, ahli ibadah, taat pada agama, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru, “Aku sudah menemukannya! Panggilah Sa’id bin ‘Amir.”

Kemudian, Sa’id bin ‘Amir menghadap Khalifah, dan ditawari untuk menjadi gubernur Syam yang berpusat di Hims. Tetapi Sa’id menolak, “Jangan hadapkan aku dengan ujian berat, wahai Khalifah.”

Dengan nada keras Umar menjawab, “Demi Allah, kau tidak boleh menolak. Kalian sudah meletakkan amanah dan tanggung jawab pemerintah kedapaku, lalu setelah itu kalian meninggalkanku sendiri?”

Jual-Beli yang paling menguntungkan

Sa’id pun menerima tanggung jawab itu. Dan memang ucapan Khalifah Umar itu layak mendapatkan hasil yang diharapkan. Sungguh tidak adil bila mereka membebankan tanggung jawab sebagai Khalifah kepada Umar, lalu mereka meninggalkannya mengurus pemerintahan sendirian. Jika orang-orang seperti Sa’id bin ‘Amir menilak untuk memikul tanggung jawab, lantas di mana Khalifah Umat akan mendapat orang yang bisa membantunya memikul tanggung jawab yang berat ini.

Maka berangkatlah Sa’id ke Hims, dengan ditemani istrinya. Keduanya masih pengantin baru. Semanjak kecil istrinya adalah wanita yang amat cantik.

Umar membekali mereka dengan harta yang cukup.

Ketiak keduanya sudah nyaman di Hims, sang istri bermaksud menggunakan harta yang telah diberikan Khalifah Umar sebagai bekal mereka. Ia meminta suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya.

Sa’id berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita sekarang berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya, pasarnya sangat ramai. Harta ini lebih baik kita serahkan kepada seseorang untuk dijadikan modal dagang sehingga harta kita akan berkembang.”

Sang istri menjawab, “Bagaimana jika rugi?”

Sa’id menjawab, “ Aku akan sediakan jaminan”.

“Baiklah kalau begitu,” kata sang istri menyetujui.

Pribadi Zuhud dan Takwa

Kemudian Sa’id pergi membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang aman bersahaja. Lalu uang lainnya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan yang membutuhkan.

Hari-hari pun berlalu. Dari waktu-ke waktu sang istri menanyakan perdagangan mereka dan sudah berapa keuntungannya.

Sa’id menjawab, “Bisnisnya lancar, dan keuntungannya terus meningkat.”

Suatu haru, sang istri mengajukan pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Laki-laki itu tersenyum lalu tertawa, sehingga sang istri pun curiga. Ia mendesak Sa’id untuk menceritakan yang sebenarnya.

Sa’id berkata, “Semua harta kita aku sedekahkan.”

Wanita itu pun menangis. Ia menyesal karena ia tidak jadi membeli keperluannya dan harta itu pun tidak tersisa.

Sa’id memandangi istrinya yang sedang menangis. Tetes air mata yang membasahi pipi, menambah kecantikan wajah sang istri. Sebelum ia terlena oleh kecantikan sang istri yang benar-benar memesona, ia mengalihkan pandangannya ke surga. Di sana, rekan-rekannya sudah menikmati apa yang tersedia di surga.

Ia berkata, “Rekan-rekanku telah mendahuluiku menemui Allah. Aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walaupun ditukar dengan dunia dan segala isinya.”

Karena takut akan tergoda oleh kecantikan istrinya itu, maka ia berkata yang seolah-olah ditujukan kepada dirinya yang sedang berhadapan dengan istrinya,

“Dik, kau kan tahu bahwa di surga terdapat bidadari-bidadari cantik yang bermata jeli. Andai saja satu dari mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruh bumi. Cahayanya mengalahkan sinar matahari dan bulan. Mengorbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih utama daripada mengorbankan mereka demi untuk menuruti kemauanmu.”

Pembicaraan itu pun berakhir seperti saat sebelum dimulai; tenang, penuh senyum dan kerelaan. Sang istri sadar bahwa tiada yang lebih utama baginya kecuali mengikuti jalan yang ditempuh suaminya; zuhud dan ketakwaan.

Sa’id bin ‘Amir Part 2

 

Sumber: Buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid, Cetakan kesembilan April 2018
Editor: Dita FA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here