Ngaderes.com-Tahun 2020 menjadi sejarah bagi negara kita Indonesia, bahkan menjadi sejarah seluruh dunia. Virus Corona atau Covid-19 hadir menjadi momok semua negara, ribuan nyawa terenggut dan ribuan pasien berjatuhan memenuhi rumah sakit, para tenaga medis kelimpungan dengan jumlah pasien yang semakin membengkak. Seluruh negara berusaha memerangi keadaaan yang ada, mulai dari menerapkan berbagai kebijakan antara lain lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), kegiatan belajar mengajar dari semua tingkatan pendidikan juga kegiatan lainnya yang mengumpulkan banyak massa, sebagian besar diadakan secara daring (dalam jaringan).

Protokol kesehatan dengan gencar dikampanyekan, memakai masker, cuci tangan menggunakan sabun, dan menjaga jarak minimal 1,5 meter menjadi hal penting untuk  diindahkan oleh masyarakat, dengan begitu kita bisa sama-sama memerangi pandemi global Virus Corona.

Namun, ada hal yang berdampak besar dalam segi kehidupan masyarakat yaitu ekonomi, dimana masyarakat harus pula mempersiapkan ketika pasca pandemi ini berakhir. Banyak media yang memberitakan keadaan masyarakat yang terkena imbas adanya pandemi ini. Perusahaan-perusahaan menjadi kolaps, pabrik-pabrik banyak yang memberhentikan kegiatan produksi, imbasnya banyak karyawan dan buruh pabrik yang terkena PHK, belum lagi para pedagang dan pengusaha lainnya yang omsetnya menurun, semua segi kegiatan perekonomian mengalami penurunan secara drastis.

Berbicara mengenai kegiatan perekonomian ditengah pandemi, sebagai makhluk hidup kebutuhan primer menjadi hal utama yang perlu didahulukan pada masa seperti ini, salah satunya yakni mengenai ketahanan pangan. Didalam masa krisis seperti ini, kita bisa bertahan dengan memiliki swasembada pangan yang mana swasembada pangan itu kita ciptakan sendiri dengan konsep restorasi pekarangan rumah.

“Restorasi pekarangan disini berarti mengubah konsep kita, mengubah pola pikir kita yang tadinya pekarangan itu hanya digunakan untuk taman, tanaman hias, kita gunakan untuk memang menunjang kebutuhan dapur kita.” Jelas Ana Herlina (Punggawa Alam Jabar, aktivis dalam bidang ekologi).

Kehidupan harus terus berjalan, kebutuhan primer, sekunder dan tersier akan terus ada selama kehidupan itu ada. Sebagai masyarakat Indonesia yang di anugerahi kekayaan alam yang melimpah serta potensi tanah subur yang tersebar luas, sudah saatnya kita memanfaatkan akan hal ini.

Konsep restorasi pekarangan rumah menjadi salah satu cara untuk mewujudkan ketahanan pangan pada saat masa pandemi. Restorasi pekarangan rumah bertujuan untuk memperoleh swasembada pangan mandiri, warung hidup, atau apotek hidup yang itu semua bisa kita dapat di pekarangan rumah kita sendiri.

“Jadi, mengubah pekarangan rumah jadi apotek hidup atau pun warung hidup, sehingga kita tidak terlalu bergantung pada pasar, dimana pasca pandemi harga-harga baik bahan pokok ataupun sayuran dan lain sebagainya itu melonjak sangat drastis.” Jelasnya, pada saat wawancara berlangsung.

Lahan yang terbatas, tidak menjadi halangan untuk menerapkan konsep ini, karena pada tujuan akhirnya kita bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menciptakan ketahanan pangan. “Menanam didalam pot tidak menjadi masalah, dengan menanam beberapa komoditi tanaman itu bisa menunjang kebutuhan dapur kita, seperti hal nya cengek itu kan bisa di polybag, tomat bisa dipot, daun bawang, kangkung, tanaman-tanaman holticulture yang memang tidak memerlukan tanah banyak dan tidak memerlukan lahan banyak itu bisa menopang katahanan pangan kita didapur.”ucapnya.

Mandiri secara pangan juga akan berdampak terhadap kesejahteraan para petani dan pekerja kebun, dimana tidak ada lagi kapitalisasi pertanian. Para petani nantinya akan memiliki swasembadanya sendiri, dan memiliki kedaulatannya sendiri sehingga hasil dari pertanian itu ditentukan dari petani sendiri bukan oleh pengepul.

“Kalau sekarang porsi pekerja para petani atau kebun itu kan seolah-olah mata pencaharian yang bebas, menurut saya itu tidak, karena buktinya sekarang tetap petani yang notabene dia sebagai penghasil bahan pangan secara pokok belum sejahtera.” Ucap Ana Herlina (Ketua bidang perempuan Aliansi Mahasiswa Jawa Barat)

Harapan dari adanya restorasi pekarangan rumah ini sebenarnya bukan saja bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan semata, tapi juga mengajarkan  pemahaman bagaimana masyarakat bisa merasakan menjadi sosok petani. Seorang petani dengan kesabarannya, keuletannya, bagaimana harus menerima gagal panennya, dengan begitu martabat petani akan dijunjung tinggi.

“Jangan mendefinisikan kehidupan itu hanya tentang masalah kesejahteraan pangan, tentang kesejahteraan financial, yang hanya menyangkut pautkan apa yang kita tanam itu bernilai jual, sehingga output dari restorasi pekarangan ini selain kemandirian pangan adalah kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya keseimbangan ekologi dan keberlangsungan ekologi.” Pungkasnya, mengakhiri sesi wawancara.

Oleh : Widya Nur Erviana

Editor: Hildatun Najah

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here