Jalaluddin Rakhmat
Foto: Instagram/@universitaspadjadjaran

Opini – Saya terlahir di tengah budaya Nahdliyin yang kuat. termasuk Bapak. Beliau seringkali memimpin kebiasaan yang khas di masyarakat NU. Semisal Maulid, Tahlilan, atau Marhabaan. Sedangkan Ibu, beliau terlahir di tengah lingkungan Persatuan Islam (Persis).

Hingga saat ini, Ibu rutin mengikuti pengajian sore bersama ibu-ibu Persistri (Persatuan Islam Istri – organisasi otonom Persis). Semasa SD saya biasa ngaji sore di Persis dan malam di NU. Lalu tumbuh dan berkembang sejak MTs (setingkat SMP) hingga Mu’alimin (setingkat SMA) di Pesantren Persis yang tak jauh dari rumah.

Sikap toleransi antara aku dan Bapak yang dalam beberapa hal berbeda kini tengah berada di titik terbaiknya. Perjalanan panjang nan berliku pernah sama-sama kami jalani berdasar pada saling keukeuh untuk silih mempengaruhi. Hingga pada akhirnya, kita sadar akan posisi masing-masing. Semua perbedaan di antara aku dan bapak kini, menjadi sebuah harmoni yang indah.

Contohnya, satu ketika di masjid depan rumah yang Nahdliyin, imam yang biasa memimpin salat Magrib tak datang. Bapak memberi kesempatanku untuk memimpinnya. Setelah selesai, aku yang tak bisa dan tak biasa wirid berjamaah memberi isyarat pada Bapak untuk memimpinnya. Kejadian ini bukan sekali dua kali.

Berbicara tentang Persis, bagiku bukan sekadar sebagai tempatku mengenyam pendidikan. Lebih dari itu, dari sini pula aku belajar berdialektika dalam menyikapi perbedaan. Tentunya perbedaan yang bersifat permasalahan yang cabang (furu’iyyah) juga yang pokok (ushuliyyah). Disini pula aku mengenal Syi’ah yang jamak diketahui Persis menjadi salah satu ormas yang paling vokal berbicara tentang penyimpangan Syi’ah dari sisi ushuliyyah.

Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Indonesia

Dalam tulisan ini aku takkan membedah dan membeberkan apa dan bagaimana Syi’ah dari segi ushul. Terlalu kompleks. Dari kompleksitas ini, kita kini akrab dengan konflik berkepanjangan antara Sunni dan Syi’ah di berbagai tempat termasuk di Indonesia. Namun yang ingin aku soroti, respon orang-orang yang mengatasnamakan Sunni dalam menyikapi meninggalnya salah satu pentolan Syi’ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Setidaknya ada tiga kelompok yang turut merespons ketika Kang Jalal -sapaan akrabnya- mengembuskan napas terakhirnya. Pertama, para pengikut Syi’ah yang tentunya berduka sedalam-dalamnya. Karena bagaimanapun, Kang Jalal adalah sosok sentral bak seorang playmaker handal dalam kiprah Syi’ah di Indonesia.

Kang Jalal selalu menjadi sosok yang mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarkan gaya komunikasinya. Humornya yang segar, kata-katanya yang tertata rapih, juga pesan yang disampaikan mampu tercerna dengan baik oleh pendengar. Tak berlebihan memang ketika diumpamakan seperti playmaker yang menggiring bola di tengah lapang, meliuk-liuk di antara musuh, serta memberikan umpan manja dengan kata-katanya.

Kedua, dunia akademis. Kang Jalal adalah veteran yang malang-melintang dalam khazanah intelektual Indonesia. Pada dekade 80-90an beliau adalah idola. Kecerdasannya pun membawanya menjadi pengajar di beberapa kampus terkemuka, salah satunya di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad.

Selain mengajar, berbagai karya yang beliau torehkan dalam kepiawaiannya menulis pun membuahkan berbagai karya. Sebut saja The Road to Muhammad (2009), Tafsir Kebahagiaan (2010), dan tentunya bacaan wajib bagi mahasiswa komunikasi adalah Psikologi Komunikasi. Tak jauh berbeda antara retorika dan gaya menulisnya, sama-sama menghipnotis para pembaca.

Ketiga, kelompok yang bersuka cita atas kepergiannya yang cenderung berujar kebencian yang keluar dari berbagai lini massa di kolom komentar atau status berbagai platform. Ini yang saya sayangkan. Kata-kata kotor, kebencian, bahkan melaknat atas kematiannya menjadi suatu yang ngeri. Padahal kita tak berhak menghakimi kematian seseorang apakah surga atau neraka tempat kembalinya. Itu semua hak prerogatif Tuhan. Kemudian apakah tidak ada sisi kemanusiaan yang saling merasakan atas satu nilai dasar kita sebagai manusia?

Ketegangan antara Sunni-Syi’ah jika dibiarkan seperti ini tidak lagi berbicara tentang pikiran. Meninggalnya Kang Jalal yang disambut dengan suka-cita adalah suatu kekeliruan dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang kemanusiaan, juga sudut pandang yang awalnya objektivitas atas ide-ide Syi’ah bergeser menjadi sudut pandang kebencian terhadap subjek. Argumen berubah menjadi sentimen. Lalu apakah menjamin, kala Kang Jalal tiada, Syi’ah habis begitu saja?

Bukankah ketika Rasulullah SAW wafat tidak sedikit haters Rasulullah yang bersuka-cita atas kewafatannya? Tetapi hingga kini, dakwah Islam terus berkembang sepeninggalnya.
Mari kita contoh Rasullullah saat dihadapkan seorang Abdullah bin Ubay yang terkenal dengan kemunafikannya.

Refleksi

Suatu ketika Ibn Ubay sebagai seorang muslim yang baik, mendapat bisikkan dari seseorang untuk membunuh ayahnya, Abdullah bin Ubay atas perintah Rasul. Ketika Ibn Ubay mengkonfirmasi perintah tersebut kepada rasul, bahkan menawarkan jasanya untuk membunuh sang ayah dengan tangannya sendiri, Rasul menjawab:

“Kita tidak akan membunuhnya. Bahkan kita harus berlaku baik kepadanya, harus menemaninya baik-baik selama dia masih bersama dengan kita,” Kata Rasul.

Maka dengan kejadian meninggalnya Kang Jalal, perlu kita berefleksi “Apakah kita pantas disebut seorang muslim?” “bukankah identitas seorang muslim itu kala mampu menjaga lisan dan tangannya?” dengan berbagai pro-kontranya mari kedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Ketidaksetujuan kita terhadap suatu faham tak sepantasnya kita berhak menghakimi juga melaknatnya. Bagaimanapun kehadiran Kang Jalal, mendewasakan kita untuk berdialektika atas perbedaan paham selama ini.

Terkhusus, secara pribadi saya haturkan terima kasih atas segala macam jasa dan kiprahmu dalam dunia intelektual Indonesia, khususnya di bidang Ilmu Komunikasi. Terakhir, selamat jalan Kang Jalal karyamu akan senantiasa kami baca dan kami analisa dengan argumen baru bukan sentimen.

Penulis: Rizal Sunandar
Editor: Isyfa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here