Ngaderes.com– Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang melembaga di masyarakat terutama di pedesaan. Awal kehadirannya yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam sebagai pedoman hidup dan pendidikan moral yang ditekankan dalam bermasyarakat.

Masa pandemi yang melanda Indonesia mengakibatkan segala aktivitas sehari-hari dibatasi. Belajar, bekerja, bermain, hingga belanja harus disertai protokol kesehatan. Semua lembaga pendidikan diliburkan, para siswa dan mahasiswa dirumahkan dengan sistem Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) daring atau online. Peraturan tersebut juga berlaku terhadap Pesantren khusus mahasiswa. Semua sistem KBM di Pesantren mengikuti sistem perkuliahan.

Kecanggihan digital menjadi pilihan utama manusia untuk memanfaatkannya di masa Pandemi ini. Seiring majunya teknologi, Pesantren pun memberlakukan sistem pengajian Via virtual dengan aplikasi Zoom Meeting dan Live streaming Instagram. Hal itu dilakukan agar proses belajar mengajar selama masa pandemi tidak tertunda, juga menjadi ajang silaturahmi antar mahasiswa dan para Ustadz.

Menurut Aul pribadi pengajian online cukup efektif untuk di masa pandemi ini. Karena setiap hari dewan guru juga meluangkan waktunya untuk kami, dan bagi kami yang bisa mengikuti itu cukup efektif Alhamdulillah walau ada-lah sedikit gangguan, tapi itu bukan jadi alasan untuk tidak mengaji. Dan pengalaman yang saya rasakan Alhamdulillah sejauh ini selama saya punya kuota dan signalnya bagus saya mengikuti dan mendengarkan serta berusaha memahami apa yang dewan guru sampaikan.  Alhamdulillah sama saja seperti pengajian offline, berdo’a seperti biasa, menerjemahkan kitab dan menjelaskan.Bedanya kita jauhan ngajinya.. Dan lewat apk zoom itu udah cara yang tepat untuk kita mengaji online di masa pandemi ini”. Papar Aulia Suci Hidayah salah satu santri Al-Ihsan yang mengikuti pengajian online kitab Hadits, pada wawancara melalui WhatsApp.

Pengajian pun dilakukan tidak beda seperti biasanya, hanya 30 menit sampai satu jam saja. Di dalamnya seringkali diselipkan kata-kata hikmah dari para  guru untuk santrinya. Pengajian yang  singkat namun dilakukan setiap hari dapat menambah khazanah keilmuan para santri yang mengikutinya.

“Harapan kedepannya pasti yaa ingin pengajian offline seperti biasanya, karena online itu kurang enak bagi saya pribadi, Merasa aneh saja walau sudah terbiasa juga. Yang mengikuti pun lebih sedikit dibanding yang offline mungkin kendalanya di kuota dan sinyal. Jadi, hanya beberapa yang mengikutinya, kalau yang offline  kan enak yaa. Bisa ketemu sama temen bisa sambil diskusi juga yang pasti kalau offline lebih seru tentunya“. Terang Aulia dalam sesi terakhir wawancara.

Oleh : Yanti Nurfitroh (Internship)

Editor: Isma A

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here