tiktok
Foto: tribunnews

Ngaderes.com – “Entah apa.. yang merasuki muu…” (Penggalan musik tiktok).

“Kalau ada makanan di meja, mangga leg-leg ku sia..”

Itulah sederet petikan singkat dari video hasil kreatifitas warganet melalui aplikasi TikTok. Yaps, aplikasi yang kini digandrungi oleh warganet hingga mampu merembes ke berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga selebritipun ramai-ramai menggunakan aplikasi asal Cina ini untuk berekspresi.

Bermula pada September 2016 lalu saat pertama kali diluncurkan oleh Zhang Yiming aplikasi video musik singkat ini mampu meroket di negara asalnya, hingga menyalip aplikasi pesan singkat seperti WeChat. Menurut Zhang Yiming, awalnya dirinya tidak memainkan aplikasi buatannya karena memang diperuntukan bagi anak muda.

“Sejak lama, saya hanya menonton video TikTok tanpa membuat sendiri, karena aplikasi ini memang menyasar anak muda,” kata Yiming seperti dilansir Technode.

Perjalanan aplikasi ini sendiri bisa disebut mentereng. Berdasarkan laporan terbaru Sensor Tower Analytics, Aplikasi ini berhasil menembus dominasi Facebook dan Instagram di deretan teratas App Store dan Google Play. Meskipun penggunanya masih berada di bawah Whatsapp dan Messanger.

Hingga 2019 lalu jumlah pengunduhnya mencapai 1,5 miliyar dan mengklaim sebagai aplikasi ketiga dalam kategori aplikasi non-game yang paling banyak diunduh.

Diblokir Kominfo

Di balik popularitasnya, TikTok ternyata pernah dilarang oleh pemerintah Indonesia. Melalui Kementrian Informasi dan Komunikasi (KOMINFO) TikTok dianggap mengandung banyak muatan pornografi dan konten yang tidak cocok untuk anak-anak.

Diblokirnya TikTok ini menyusul laporan dari berbagai pihak. Kominfo melakukan pemblokiran berdasarkan laporan yang dilakukan oleh tim AIS Kominfo, laporan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), serta masyarakat luas.

Kominfo memblokir TikTok pada 3 Juli 2018 dan kembali dibuka pada 10 Juli 2018 setelah pihaknya bertemu dengan manajemen TikTok dan berkomitmen untuk menghapus konten negatif pada aplikasi tersebut.

Sempat ditendang hingga akhirnya disayang

Aku sudah kering, dia baru nyebur,”

Warganet tentu pernah atau sempat mendengar siapa yang berkata demikian. Yaps, Bowo Alpenliebe salah satu nama yang terkenal berkat aktivitasnya di TikTok dan menjadikannya viral melalui goyang dua jarinya. Petikan wawancara Bowo ini sempat menjadi Trending Topic pada Rabu (29/1/2020).

Atas aksi yang menjadikannya terkenal dengan sebutan artis TikTok itu, Bowo sempat dibully dan dicap alay oleh banyak warganet. Imbasnya, antara Bowo dan TikTok seolah menjadi barang “menjijikan” dan mesti jauh-jauh dari pandangan warganet yang budiman.

Menanggapi trennya TikTok di berbagai kalangan lantas membuat seorang Bowo berada di atas angin. Sindiran “Aku sudah kering, dia baru nyebur” seolah menyasar tepat pada orang-orang yang dulu sempat “menendang” TikTok yang kemudian sekarang ikut-ikutan “sayang. Kalau kata bahasa Sunda mah Dipoyok dilebok”. Termasuk Kominfo pun yang dulu sempat melarang TikTok, kini memiliki akun bernama Kemkominfo RI

Akhirnya, kini TikTok dinikmati hampir semua orang. Goyangannya yang asik, challengechallenge yang menghibur seolah menjadi hiburan pelepas penat setelah berselancar di media sosial yang gitu-gitu aja.

Twitter dan TikTok jadikan ruang berkarya

Sebelum populernya TikTok setelah dicemooh ramai-ramai, Twitter pun sempat kurang populer akibat para penggunanya juga dikenal alay. “Retweet-Retweet”an sama sang kekasih sempat lebih populer dari pada obrolan-obrolan receh yang kini dikenal.

Pengguna Twitter sempat bermigrasi menuju Instragram. Hingga akhirnya Twitter sepi seolah ditinggal peminat. Ditambah Instagram memiliki beragam fitur ciamiknya seperti Instastory. Alih-alih Twitter semakin ditinggal dan hancur, kini Twitter digandrungi kembali karena diisi oleh para pengguna yang berbeda dari pengguna lainnya.

Istilah mutualan dan utas juga bercandanya yang dikenal “receh” kini semakin menjadi daya tarik untuk menarik kembali para pengguna untuk berselancar di Twitter. Meskipun tren pengguna yang kembali “hijrah” ke Twitter baru sebatas asumsi dan belum dibuktikan dengan data pengguna terkini.

Tiktok ini memang menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada orang yang menyambut dengan suka cita. Jika dulu orang senang bergurau hanya terbatas pada lingkungan sekitar saja, dengan aplikasi semacam ini bisa meluas bahkan viral. Tiktok menjadi media berbagi guyonan atau candaan.

Disisi lain, ada juga pendapat yang mengatakan Tiktok membuat orang menjadi tidak produktif dan tidak memberikan pelajaran yang baik. Mereka beranggapan Tiktok lebih baik tidak ada. Jika pun ada, tak jarang beberapa pengguna mendapatkan “judge” tertentu.

Bagi muslim, tentu mengenal istilah mubah. Ini adalah hukum atas suatu perkara yang tidak ada perintah atau dalilnya. Ini tergantung dari banyak manfaat atau madhorotnya. Bisa jadi boleh bisa jadi tidak, tergantung dipergunakan untuk apa.

Seiring dengan dinamisnya media sosial, orang bisa memanfaatkan peluang ini dengan berkarya positif. Berawal dari Tiktok kemudian membuat konten yang memberikan value. Sebut saja Putih Abu-Abu mampu menggubah lagu yang viral dengan pesan positif di balik lirik maknanya.

Yang terpenting dalam pemanfaatan media sosial ini adalah menyiasati pemakaiannya agar tidak berlebihan. Jangankan Tiktok, olahraga saja perlu takaran yang pas agar memberikan manfaat untuk tubuh.

Dari dari fenomena TikTok dan Twitter juga, kita bisa menangkap bahwa percepatan media sosial berbanding lurus pula dengan timbul dan tenggelamnya sebuah ruang di dalamnya.

Penulis: Rizal Sunandar
Editor : Sasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here