Pasar Cihapit

Ngaderes.com – Meski terkesan kotor, sampai saat ini pamor buku bekas tidak pernah surut ditelan zaman. Meski kemunculan buku-buku baru dengan isi lebih up to date dan cover lebih menarik cukup banyak tersebar di pasaran, nyatanya buku bekas masih diburu penggemarnya. Terutama bila buku tersebut memiliki isi yang luar biasa dan sudah tidak diproduksi lagi, banyak orang yang bahkan rela mengeluarkan kocek yang tidak kecil untuk mendapatkannya.

Adalah Pak Bagja. Pemilik kios buku di pasar Cihapit, Bandung ini mampu menangkap peluang pasar tersebut dengan menjual buku-buku lawas di kios bukunya yang hanya ada satu-satunya di wilayah tersebut. Beliau berjualan di pasar Cihapit sejak tahun 1980. Sepuluh tahun yang lalu pak Bagja mengambil alih kios dan mengubahnya menjadi toko buku.

Tumpukan buku yang berjejal di kiri dan kanan membuat ruang toko yang tidak seberapa besar itu menjadi padat dengan sedikit ruang gerak. Itu pun nyaris hanya cukup untuk satu orang saja.Terbatasnya ruang di dalam kiosnya yang sempit membuat buku tumpah berjejal di luar kios membentuk tumpukan yang ia susun rapi.

Masuk ke dalam kios, kita akan mendapati tumpukan buku lagi yang tingginya sekitar satu setengah meter, bahkan hingga menyentuh langit-langit. Bila tidak awas dan hati-hati, pengunjung bisa menyenggol dan merubuhkan tumpukan buku yang disusun rapi oleh beliau.

Sebagai penjual buku, Pak Bagja tidak hanya menjual buku-buku baru, namun juga buku lama yang telah usang. Tapi jangan salah, buku usang ini banyak diburu kolektor buku bekas terutama buku langka yang sudah tidak diproduksi penerbit. Buku langka ini ibarat harta yang berharga bagi para kolektor buku yang gemar mengoleksi buku-buku tua.

Buku bekas tersebut dihargai beragam tergantung jenisnya. Mulai dari belasan ribu bahkan ada buku yang berumur lebih dari satu abad dan dihargai dengan harga yang fantastis. Semakin langka buku tersebut, maka semakin mahal pula harganya. Dimulai dari buku berbahasa Indonesia, sampai buku berbahasa Jerman dan Belanda pun ada. Buku-buku bekas tersebut didapatkan oleh pria setinggi kurang lebih seratus enam puluh lima centi meter ini dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, dosen, pegawai, sampai dari pemasok buku bekas.

Pak Ilhamudin yang kebetulan saya temui di sana, Ia mengakui sebagai salah satu pemasok buku bekas di toko buku Pak Bagja. Ia mendatangi orang-orang untuk mengumpulkan buku-buku yang memang ingin dijual atau sudah tidak dibutuhkan. Ada yang sudah rutin, ada juga yang sifatnya insidental. Jenis buku yang ia kumpulkan pun beragam. Mulai dari buku teks, novel, sampai sejarah.

Sejenak suara rintik hujan menemani saya melihat-lihat buku- buku bekas yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Buku yang berjudul Livingstone menarik perhatian saya. Cover buku berbahasa Belanda ini terlihat sedikit bolong karena dimakan rayap. Ketika dibuka ada halamannya yang nyaris tidak dapat terbaca.

Meski belum berkeluarga, Pak Bagja mengaku tidak kesepian karena ditemani oleh buku-buku lawas ini. Tak hanya berteman akrab dengan buku-buku kuno, beliau juga dekat dengan pelanggan yang datang ke sana. Hal itu terlihat ketika ia dan pelanggan tokonya saling bercengkrama sambil ngopi. Sepertinya tak hanya buku yang meninggalkan kesan berharga bagi Pak Bagja, namun juga berbicara dengan pengunjung.

Pelanggannya pun beragam, ada mahasiswa, dosen, masyarakat umum, karyawan, hingga orang penting kerap singgah ke kiosnya. Dari sekian banyak pelanggannya itu, kebanyakan dari mereka mencari buku-buku tentang sejarah. Namun demikian kita pun bisa memesan atau request buku yang kita inginkan pada bapak ini. Kalau beruntung, kita akan mendapatkannya, tapi kalau tidak, mungkin kita harus menunggu lagi. 

Hujan yang saat ini tiada henti mengguyur membuat penjual berusia setengah abad itu harus ekstra menjaga buku-bukunya agar tidak basah dan rusak oleh air hujan. Ia kerap menutupi tumpukan buku dengan plastik bening, terutama yang terletak di luar kiosnya. Sebagaimana penjual buku lainnya, Pak Bagja senantiasa dilanda cemas bila hujan lebat mengguyur. Ia mencemaskan kondisi buku-buku sumber pengasilannya tersebut.

Penulis: Erin Soleha
Editor: Isma A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here