• Sabtu, 25 Juni 2022

Refleksi atas Ujaran Kebencian Kala Kang Jalal Tiada

- Rabu, 17 Februari 2021 | 09:23 WIB
universitaspadjadjaran_20210217_154844
universitaspadjadjaran_20210217_154844

Opini - Saya terlahir di tengah budaya Nahdliyin yang kuat. termasuk Bapak. Beliau seringkali memimpin kebiasaan yang khas di masyarakat NU. Semisal Maulid, Tahlilan, atau Marhabaan. Sedangkan Ibu, beliau terlahir di tengah lingkungan Persatuan Islam (Persis). Hingga saat ini, Ibu rutin mengikuti pengajian sore bersama ibu-ibu Persistri (Persatuan Islam Istri - organisasi otonom Persis). Semasa SD saya biasa ngaji sore di Persis dan malam di NU. Lalu tumbuh dan berkembang sejak MTs (setingkat SMP) hingga Mu’alimin (setingkat SMA) di Pesantren Persis yang tak jauh dari rumah.

Sikap toleransi antara aku dan Bapak yang dalam beberapa hal berbeda kini tengah berada di titik terbaiknya. Perjalanan panjang nan berliku pernah sama-sama kami jalani berdasar pada saling keukeuh untuk silih mempengaruhi. Hingga pada akhirnya, kita sadar akan posisi masing-masing. Semua perbedaan di antara aku dan bapak kini, menjadi sebuah harmoni yang indah.

Contohnya, satu ketika di masjid depan rumah yang Nahdliyin, imam yang biasa memimpin salat Magrib tak datang. Bapak memberi kesempatanku untuk memimpinnya. Setelah selesai, aku yang tak bisa dan tak biasa wirid berjamaah memberi isyarat pada Bapak untuk memimpinnya. Kejadian ini bukan sekali dua kali.

Berbicara tentang Persis, bagiku bukan sekadar sebagai tempatku mengenyam pendidikan. Lebih dari itu, dari sini pula aku belajar berdialektika dalam menyikapi perbedaan. Tentunya perbedaan yang bersifat permasalahan yang cabang (furu’iyyah) juga yang pokok (ushuliyyah). Disini pula aku mengenal Syi’ah yang jamak diketahui Persis menjadi salah satu ormas yang paling vokal berbicara tentang penyimpangan Syi’ah dari sisi ushuliyyah.

Jalaluddin Rakhmat, Tokoh Indonesia

Dalam tulisan ini aku takkan membedah dan membeberkan apa dan bagaimana Syi’ah dari segi ushul. Terlalu kompleks. Dari kompleksitas ini, kita kini akrab dengan konflik berkepanjangan antara Sunni dan Syi’ah di berbagai tempat termasuk di Indonesia. Namun yang ingin aku soroti, respon orang-orang yang mengatasnamakan Sunni dalam menyikapi meninggalnya salah satu pentolan Syi’ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.

Setidaknya ada tiga kelompok yang turut merespons ketika Kang Jalal -sapaan akrabnya- mengembuskan napas terakhirnya. Pertama, para pengikut Syi’ah yang tentunya berduka sedalam-dalamnya. Karena bagaimanapun, Kang Jalal adalah sosok sentral bak seorang playmaker handal dalam kiprah Syi’ah di Indonesia.

Kang Jalal selalu menjadi sosok yang mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarkan gaya komunikasinya. Humornya yang segar, kata-katanya yang tertata rapih, juga pesan yang disampaikan mampu tercerna dengan baik oleh pendengar. Tak berlebihan memang ketika diumpamakan seperti playmaker yang menggiring bola di tengah lapang, meliuk-liuk di antara musuh, serta memberikan umpan manja dengan kata-katanya.

Kedua, dunia akademis. Kang Jalal adalah veteran yang malang-melintang dalam khazanah intelektual Indonesia. Pada dekade 80-90an beliau adalah idola. Kecerdasannya pun membawanya menjadi pengajar di beberapa kampus terkemuka, salah satunya di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad.

Selain mengajar, berbagai karya yang beliau torehkan dalam kepiawaiannya menulis pun membuahkan berbagai karya. Sebut saja The Road to Muhammad (2009), Tafsir Kebahagiaan (2010), dan tentunya bacaan wajib bagi mahasiswa komunikasi adalah Psikologi Komunikasi. Tak jauh berbeda antara retorika dan gaya menulisnya, sama-sama menghipnotis para pembaca.

Ketiga, kelompok yang bersuka cita atas kepergiannya yang cenderung berujar kebencian yang keluar dari berbagai lini massa di kolom komentar atau status berbagai platform. Ini yang saya sayangkan. Kata-kata kotor, kebencian, bahkan melaknat atas kematiannya menjadi suatu yang ngeri. Padahal kita tak berhak menghakimi kematian seseorang apakah surga atau neraka tempat kembalinya. Itu semua hak prerogatif Tuhan. Kemudian apakah tidak ada sisi kemanusiaan yang saling merasakan atas satu nilai dasar kita sebagai manusia?

Halaman:

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Antitesis Kebebasan : Batasan

Rabu, 23 Maret 2022 | 20:26 WIB

Kematian Terindah

Selasa, 8 Maret 2022 | 11:53 WIB

Tren Tiktok Unboxing by Husband Dikecam Netizen

Jumat, 21 Januari 2022 | 19:16 WIB

Iman, Sudahkah Ia Tertanam dalam Hati?

Sabtu, 18 Desember 2021 | 09:49 WIB

Cara Bijak Menyambut Tahun Baru 2022

Sabtu, 11 Desember 2021 | 03:30 WIB

4 Alasan Pentingnya Bersikap Bodo amat

Sabtu, 13 November 2021 | 00:30 WIB

Catatan Pendek pada Hari Pahlawan

Rabu, 10 November 2021 | 17:20 WIB

Peristiwa Pasca Deklarasi Sumpah Pemuda

Kamis, 28 Oktober 2021 | 17:41 WIB

Jika WhatsApp Musnah dari Kehidupan Manusia

Selasa, 5 Oktober 2021 | 14:54 WIB

Unpredictable, Mendadak Harus Liputan Bersama Anakku

Kamis, 18 Februari 2021 | 13:06 WIB

Refleksi atas Ujaran Kebencian Kala Kang Jalal Tiada

Rabu, 17 Februari 2021 | 09:23 WIB

Bijak Bermedia Sosial

Senin, 8 Februari 2021 | 15:53 WIB
X