• Kamis, 7 Juli 2022

KH. Hasan Abdullah Sahal: Bencana Akhlak Lebih Bahaya dari Bencana Alam

- Minggu, 17 April 2022 | 01:21 WIB
KH. Hasan Abdullah Sahal saat menghadiri Resepsi dan Khotaman Santriwati kelas VI Akhir MBI Pesantren Putri Al-Mawaddah Tahun Ajaran 1442-1443 H/2021-2022 M, di Pesantren Putri Al-Mawaddah, Coper, Jetis, Ponorogo, Sabtu (16/04/2022). (Sumber foto: Tangkapan layar/Official Youtube Channel Al-Mawaddah TV)
KH. Hasan Abdullah Sahal saat menghadiri Resepsi dan Khotaman Santriwati kelas VI Akhir MBI Pesantren Putri Al-Mawaddah Tahun Ajaran 1442-1443 H/2021-2022 M, di Pesantren Putri Al-Mawaddah, Coper, Jetis, Ponorogo, Sabtu (16/04/2022). (Sumber foto: Tangkapan layar/Official Youtube Channel Al-Mawaddah TV)

ngaderes.com - Pendiri Pesantren Putri Al-Mawaddah, KH. Hasan Abdullah Sahal menghadiri Resepsi dan Khotaman Santriwati kelas VI Akhir MBI (setara kelas XII) “Muftakhira” Tahun Ajaran 1442-1443 H/2021-2022 M, di Pesantren Putri Al-Mawaddah, Coper, Jetis, Ponorogo, Sabtu (16/04/2022).

Dalam acara tersebut, KH. Hasan Abdullah Sahal mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pesan dan nasihat kepada 134 santri putri yang sudah lulus dan menjadi alumni Pesantren Putri Al-Mawaddah tahun ini.

Melalui kesempatan itu, KH. Hasan Abdullah Sahal pun memaparkan kondisi dunia saat ini, bahwa telah terjadi bencana akhlak yang lebih bahaya dari bencana alam. 

Baca Juga: Pentingnya Pengampunan di Bulan Ramadhan

“Sekarang ini bencana akhlak lebih gawat, lebih bahaya, lebih berat dari pada bencana alam. Justru bencana alam terjadi karena bencana akhlak. Contoh bencana akhlak, adanya ulama yang tidak dipercaya umat dan umat yang tidak percaya ulama. Itu disebabkan oleh krisis akhlak,” tutur KH. Hasan Abdullah Sahal dengan lantang dari atas mimbar.

KH. Hasan Abdullah Sahal yang juga Pimpinan Pondok Modern Gontor melanjutkan pesannya, bahwa meski bencana akhlak itu terjadi dimana-mana, masih ada segolongan orang yang dirahmati Allah Swt (Illa man rohima robbuk).  

“Dengan kondisi ini, kamu jangan terkecoh, jangan terpeleset, jangan mau digencet. Di atas kita hanya ada Allah dan di bawah kita hanya ada tanah, ingat itu! Fahmitum (mengerti)?” pesan KH. Hasan yang ditanggapi oleh para santri putri dengan menjawab, fahimnaa (kami mengerti). 

Baca Juga: Cara Hidup Sehat Selama Bulan Ramadhan Ala Zaidul Akbar

Para santri putri pun diminta untuk menjaga dan mempertahankan identitasnya sebagai santri, meski sudah lulus dari pesantren. Identitas santri yang dimaksud diantaranya seperti menutup aurat, makan dan minum yang halal, memilih pemimpin muslim, memilih suami dan mertua muslim serta aturan islam lainnya yang ditanamkan saat masih menjadi santri.

Halaman:

Editor: Intan Resika Rohmah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X