• Kamis, 11 Agustus 2022

Kerangkeng Manusia: Budak Versi Bupati Langkat

- Rabu, 2 Februari 2022 | 09:49 WIB
Kerangkeng para budak yang ditemukan di kediaman Bupati Langkat (PMJ News-Migran Care)
Kerangkeng para budak yang ditemukan di kediaman Bupati Langkat (PMJ News-Migran Care)

ngaderes.com – Publik dibuat gempar dengan penemuan kerangkeng manusia di kediaman Bupati Langkat, Terbit Perangin – angin di Raja Tengah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada Senin (24/1) lalu.

Bupati Langkat diduga telah melakukan praktik perbudakan. Istilah budak sendiri sudah dikenal manusia sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Telah dijumpai di kalangan bangsa-bangsa kuno seperti Mesir, Cina, India, Yunani dan Romawi. Disebutkan pula dalam kitab-kitab samawi seperti Taurat dan Injil, juga pada masa Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul. 

Banyak orang menjadi budak pada masa penjajahan. Saat sejumlah orang dipaksa bekerja dan diperlakukan sesuai keinginan majikannya. Sama halnya dengan dugaan tindak pidana yang ditujukan kepada Bupati Langkat

Baca Juga: Begini Rasul Diutus Untuk Membebaskan Kaum Budak

Dikutip dari Pikiran-Rakyat.com berjudulSoal Temuan Kerangkeng Manusia, LPSK Ungkap Tiga Dugaan Tindak Pidana Bupati Langkat”, Hasto Atmojo selaku Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengatakan Bupati Langkat ini diduga menghilangkan kemerdekaan orang atau beberapa orang dengan melakukan penyekapan.  

Selain itu, Bupati Langkat juga diduga melakukan perdagangan manusia. Hal ini terkait dengan adanya informasi yang mengatakan bahwa orang –orang yang ada dalam kerangkeng ini dipekerjakan sebagai tenaga buruh di kebun kepala sawit miliknya. Para korban ini juga diberi upah yang tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Terkait kerangkeng manusia yang diklaim sebagai panti rehabilitasi ini sudah dinyatakan ilegal atau tidak sah oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Klaim ini diperkuat dengan kualitas standar pusat rehabilitasi dengan sanitasi yang baik yang tidak terpenuhi.

Lebih lanjut, seorang peneliti, aktivis perempuan, sekaligus dosen politik, Chusnul Mar'iyah mengatakan bahwa apa yang dilakukan Bupati Langkat itu termasuk perbudakan versi dulu.

Baca Juga: Mengenal KH Hasyim Asy’ari, Tokoh Pendiri NU

Halaman:

Editor: Annisa Sasa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Kisah Dibalik Sup Pemersatu Khas Gorontalo

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:00 WIB

Indonesia Juara Umum ASEAN Paragames Ketiga Kali

Minggu, 7 Agustus 2022 | 18:00 WIB
X