• Rabu, 7 Desember 2022

Saatnya Millenial Melek Wakaf bersama Graha Dhuafa Indonesia

- Rabu, 19 Januari 2022 | 15:18 WIB
Foto: Dok. Graha Dhuafa Indonesia
Foto: Dok. Graha Dhuafa Indonesia

Saatnya Millenial Wakaf

Sejalan dengan Abu Zaki, salah satu narasumber lainnya dalam Webinar ini Sherly Annavita juga menyatakan berwakaf bisa dilakukan sesuai kemampuan diri. Wakaf dalam bentuk lainnya ini Sherly diistilahkan sebagai kegiatan filantropi. Karena hal tersebut memiliki konsep memberi manfaat kepada orang lain. Kemudian pemberian tersebut tidak bisa dijual dan arah kegiatannya bukan sebagai ajang mencari keuntungan. Sebagai Filantropis, Sherly menyatakan bahwa kegiatan tersebut bisa dilakukan oleh siapa pun dengan ilmu sesuai di bidang masing-masing.

Foto: Dok. Graha Dhuafa Indonesia

“Saat kita berbicara tentang wakaf, ini tentang bangkit dan memberdayakan bersama-sama, dan konsep dari kita oleh kita sangat cocok. Terlebih kita hidup di negara demokrasi,” kata Millenial Influencer, Sherly.

Di samping itu, di era digital, berwakaf bisa dilakukan dengan cara berkarya lewat konten seperti karya digital atau animasi. Sherly juga mendukung ide dan tujuan tersebut selama karya yang dihasilkan berdampak positif atau baik. Namun, sebelumnya kita juga harus tahu apa saja konsekuensi dari karya yang dihasilkan. Mengenai seberapa besar risiko dan tingkat keamanan yang dihadapi.

“Selama kita tahu risiko dan kita sudah mengakurasi tingkat keamanan karya kita, entah bentuknya video, foto, ilustrasi, ketika itu aman, go get it,” ucap Sherly.

Selanjutnya, Sherly menjelaskan cara untuk membangkitkan generasi millenial agar paham wakaf. Pertama, harus menjadi teladan untuk mereka. Hal ini bisa dilakukan di era digital dengan menjadikan wakaf sebagai trend di kalangan masyarakat. Sebab munculnya trend ini diciptakan dengan adanya pengulangan dan pembicaraan oleh banyak orang. Maka dari itu lewat trend ini Sherly yakin wakaf bisa masuk dan dimengerti oleh kalangan generasi muda.

“Anak muda senang mencontoh,” kata Sherly. Kedua, tunjukan dan perlihatkan kegiatan wakaf atau berbagi. Di sisi lain, cara ini bisa dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sisi positif dan negatif.

Sudut pandang positif bisa memunculkan motivasi untuk melakukan kegiatan berbagi, sedangkan sisi negatif ini dapat memunculkan perasaan iri dengki orang lain. Oleh karena itu, Sherly menegaskan bahwa lewat cara ini niat harus diluruskan hanya untuk berbagi.

Do and give the best are not enough, we should show it, (melakukan dan memberi yang terbaik tidak cukup, kita harus menunjukkannya,” ucap Sherly.

Selain itu, untuk mengenalkan wakaf ke generasi muda juga bisa dilakukan dengan mengikuti cara mereka. Maksudnya, dalam berdakwah tentu pendakwah harus bisa menyesuaikan dengan keadaan kaumnya. Maka dari itu, konsep wakaf ini harus bisa beradaptasi dan mengikuti kondisi generasi muda.

Halaman:

Editor: Intan Resika Rohmah

Tags

Terkini

5 Kunci Sukses Kepemimpinan Ala Atalia Ridwan Kamil

Rabu, 7 Desember 2022 | 10:00 WIB

Prancis Bersinar dalam Kemenangan 4-1 atas Australia

Rabu, 23 November 2022 | 12:30 WIB

Terpopuler

X