Ngaderes.com – Beberapa waktu lalu saya dan beberapa rekan kerja berkesepatan menyambangi salah satu pulau di Kepulauan Seribu yaitu pulau Tidung. Pulau ini kami pilih karena rasa penasaran kami akan jembatan cintanya yang menjadi icon pulau tersebut (meskipun akhirnya saya tidak memiliki foto di jembatan itu karena terlalu menikmati pantainya yang indah).

Dari Depok kami berangkat pukul tiga dini hari di hari Sabtu. Dari kabar yang kami dapat, satu-satunya kapal yang akan mengangkut kami dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, menuju pulau Tidung adalah pukul 6 pagi. Karena pukul tiga KRL belum beroperasi, kami menggunakan jasa mobil online menuju pelabuhan. Karena jalanan yang lengang, kami sampai di pasar ikan Muara Angke hanya dalam waktu satu jam saja, meleset dari perkiraan. Sampai di pasar tersebut bau amis ikan yang menyengat menyambut indra penciuman. Ketika turun dari mobil, seketika kami menutup hidung karena baunya membuat pusing.

Selepas istirahat beberapa saat dan mengerjakan salat Subuh, kami keluar masjid dan disambut oleh jajanan pagi yang berjejar di dalam pasar. kamipun menikmati sarapan sembari menunggu loket pembelian tiket kapal dibuka.

Merasakan Hantaman Ombak yang Memicu Adrenaline

Sekitar pukul lima lebih kami menuju penjualan tiket di dalam gedung yang terletak di depan pelabuhan. Dan yang membuat kami melongo adalah pengumuman kecil yang ditempel di depan loket “Pembelian tiket dibuka pukul 08.00 dan kapal akan berangkat pukul 10.00” Kami berlima saling pandang seolah memikirkan hal yang sama: “Mengapa kita repot-repot datang dini hari jika pembelian tiket saja baru bisa dilakukan pukul delapan?”. Tidak ada yang saling menyalahkan. Kami hanya duduk dengan sabar sembari mengobrol menghabiskan waku. Singkat cerita, setelah bisa berhasil membeli tiket kapal, kami memutuskan untuk masuk ke area pelabuhan. Setelah menapaki anak tangga, dihadapan kami kapal-kapal yang berjejar menyambut pandangan.

Kapal-kapal tersebut yang akan membawa kami menuju pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Adapun kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung adalah Kapal Zahro. Seperti kapal lainnya, kapal ini terdiri atas dua tingkat dengan tingkat pertama terdiri atas kursi yang berjejar layaknya dalam kendaraan roda empat. Kalian yang senang duduk di kursi bisa memilih lantai pertama dengan catatan lantai tersebut terlalu bising oleh suara mesin kapal dan bisa terkena tempias ombak di tengah lautan. Sedangkan lantai dua hanya berupa lantai kosong yang bisa penumpang gunakan dengan lesehan atau tiduran. Tentu saja kami memilih tempat di lantai kedua.

Pukul sepuluh kapal sudah terisi oleh penumpang. Lalu secara serentak, semua kapal yang berlabuh mulai meninggalkan dermaga dengan teratur. Awalnya kami saling beriringan, lalu setelah memasuki lautan lepas, kapal-kapal itu mulai berbelok arah menuju tujuan masing-masing. Tinggalah kapal Zahro yang mengarungi lautan dengan suara mesinnya yang berdentum memecah ombak.

Semakin meninggalkan teluk, ombak yang menerpa kapal semakin besar. Hingga setelah satu jam lebih perjalanan, ombak besar yang menghantam kapal ini mulai membuat  kapal oleng. Penumpang yang tertidur di lantai atas terbangun karena gerak kapal yang berayun ke kiri dan ke kanan dengan keras. Botol-botol minum kami kehilangan keseimbangan dan saling bergelinding di dalam ruangan. Meski mendebarkan, saya  berjalan ke luar kapal dan memegangi pagar pembatas sembari menikmati angin kencang dan menikmati ombak besar yang membuat kapal ini seperti wahana ekstrem. Apakah itu berbahaya? Ya tentu saja. Tapi jangan khawatir karena penumpang difasilitasi dengan pelampung dan banyak penumpang lain yang memilih untuk berada di luar kapal seperti saya. Berhati-hatilah ketika kalian akan melakukan hal serupa.

Butuh sekitar tiga jam menaiki kapal untuk sampai di pulau Tidung. Tapi perjalanan selama itu tidak akan terasa karena selama perjalanan kalian akan disuguhkan pemandangan laut dan langit yang mempesona. Perpaduan warna biru jernihnya yang menyatu tak hentinya membuat takjub. Sungguh maha besar tuhan yang telah menciptakan alam seindah itu.

Menikmati Indahnya Pemandangan Bawah Laut Pulau Tidung

Setelah menjejalkan kaki di pulau Tidung, kami menyewa sebuah homestay untuk kami tinggali. Sebelum berkecimpung di pantai, kami menyempatkan untuk mengisi perut dahulu di salah satu tempat makan yang  bertebaran di pulau ini. Rasa seafood segar yang dibakar ditambah manis alaminya air kelapa muda yang kami minum rasanya mampu menghilangkan penat setelah sekian jam menempuh perjalanan ke pulau ini.

Setelah salat Zuhur dan beristirahat beberapa saat, kami semua berjalan menuju jembatan cinta. Selain dengan berjalan kaki, jembatan tersebut juga bisa diakses dengan bersepeda. Sepeda tersebut dapat disewa dari penduduk sekitar. Namun karena ingin menikmati suasana dan juga menghemat, kami memilih untuk berjalan kaki. Tak lupa kami berhenti untuk mengambil selfie saat kami menemukan spot yang bagus. Pulau tidung besar yang dihuni warga ini memang tidaklah luas. Jalan utamanya saja hanya sekitar satu setengah meter dan tidak dapat dilalui mobil. Lebih seperti ukuran gang. Saat berjalan, kamu akan melihat di kiri dan kananmu adalah bibir pantai. Sesempit itulah pulau ini.

Sampai di area jembatan cinta, kami disuguhkan dengan pemandangan indah dari jernihnya air laut yang tampak berkilau diterpa sinar matahari siang. Saking jernihnya, kami bisa melihat dengan jelas buliran pasir lembut berwarna putih di balik jernihnya air laut. Tak lupa beberapa ikan kecil yang berkejaran menambah cantik pantai di Pulau Tidung. Jujur saja, selama saya hidup mungkin baru pantai ini lah yang benar-benar membuat saya takjub dengan keindahannya. Pada akhirnya, saya dan teman-teman melupakan jembatan cinta dan memilih untuk nyebur menikmati hangatnya pantai. Berkejaran bak anak kecil dan melepaskan penat kami. Selain sekedar berenang, di pantai ini kalian juga bisa menikmati wahana pantai seperti snorkeling, menaiki banana booth, berkeliling dengan perahu. Kami juga memilih untuk snorkeling.

Sebelum melakukan snorkeling, kami menyewa alat, juga menyewa perahu sekaligus kamera under water. Setelah mengenakan alat menyelam, Mamang perahu yang akan merangkap fotografer bawah laut itu membawa kami ke tengah laut yang memiliki kedalaman air sekitar lima belas meter. Setelah memastikan bahwa pemandangan di bawah sana bagus untuk sesi pengambilan foto cantik kami, dia pun mengangguk dan menyiapkan kameranya. Satu persatu kami turun dari perahu untuk melakukan sesi pemotretan di bawah air secara bergiliran. Sambil menunggu sesi foto, saya mengintip dasar laut dengan kecamata selam dan… Subhanallah… di bawah sana saya menemukan dunia cantik yang dihuni banyak ikan indah yang memanjakan mata. Puluhan ikan kecil berwarna-warni berenang di antara terumbu karang berbagai bentuk. Pahatan terumbu karang yang beragam itu bagai membentuk sebuah kota unik yang dihuni beragam ikan cantik aneka warna. Tak henti-hentinya saya berdecak pada keindahan alam itu.

Untuk mendapatkan foto bagus, kami harus melepaskan pelampung kami dan menyelam hingga menyentuh terumbu karang. Sang photographer meminta kami untuk menyelam menyentuh terumbu karang untuk sesi pegambilan photo. Tiba-tiba dia menantang kami untuk menyelam dalam dan menyentuh terumbu karang yang paling jauh. Jaraknya sekitar tiga atau empat meter dari permukaan.

Saya tidak pernah menyelam sedalam itu sebelumnya. Tapi tertantang juga demi meiliki photo yang bagus dan terumbu karang sejauh empat meter di bawah sana itu tampak menjanjikan, namun juga sangat beresiko. Ntah dengan nafas pendeku ini saya dapat meraihnya dan berpose di dekatnya. Namun demi hasil foto yang cantik, saya menguatkan tekad dan menenangkan nafas, lalu mengangguk pada fotografer itu.

Dia lantas mendorongku dengan keras ke bawah agar tenggelam. Kaki dan tanganku juga bergerak agar bisa berenang sejauh mungkin ke bawah. Dan berhasil. Aku bisa menggapai terumbu karang yang berada jauh empat meter di bawah permukaan laut itu. Tapi…

Telingaku tiba-tiba berdenging menyakitkan. Sekelilingku berubah gelap dan air laut yang hangat itu kurasakan berubah dingin di kulit. saat saya mendongak ke atas, dapat saya lihat samar cahaya matahari yang menembus air, juga siluet photographer yang akan mengambil gambarku. Dalam kegelapaan sesaat itu saya berfikir, inikah pemandangan terakhir  yang dilihat seseorang saat ia tenggelam di lautan? sebelum air laut memenuhi paru-parunya dan merenggut nyawanya?.

Detail suasana aneh itu dapat saya ingat bahkan sampai saat ini.

Nah, demikianlah sedikit kisah perjalanan saya selama menyambangi Pulau Tidung. Saya juga sangat merekomendasikan pulau tersebut untuk kalian datangi di waktu senggang kalian. Berliburlah dan bebaskanlah diri kalian dari sibuknya aktifitas. Oh ya, jangan lupa untuk membawa kamera anti air sendiri karena hasil photo dari kamera peyewa di pulau tersebut belum tentu memuaskan kalian. Hehe

Reporter: Isma A
Editor: Isma A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here