Ngaderes.com-Sembilan belas tahun sudah tragedi serangan terhadap runtuhnya menara kembar serta beberapa bangunan penting di Amerika Serikat terjadi dan menjadi sejarah terkelam Negara paman Sam tersebut. 11 September 2001 menyisakan duka yang mendalam bagi rakyat Amerika Serikat, sekitar 3000 lebih korban jiwa tewas dalam peristiwa ini. Empat rangkaian pesawat telah diatur untuk menghancurkan beberapa target bangunan di Washington, D.C. Dua pesawat ditabrakan ke menara kembar World Trade Center di New York City, pesawat ketiga menabrakan diri ke Pentagon, di Arlington, Virginia, dan pesawat terakhir terjatuh di lapangan Shanksville, Pennsylvania yang diduga gagal mencapai target di Washingthon, D.C.

Kehancuran ini mengakibatkan dampak yang serius terhadap ekonomi Amerika Serikat. Kerusakan bangunan-bangunan penting mengakibatkan kegiatan perekonomian lumpuh. Pembersihan lahan, serta pembangunan untuk perbaikan bangunan yang rusak menjadi keharusan pada saat itu.

Banyak media Amerika Serikat bahkan dunia yang memberitakan bahwa serangan ini didesain sebagai terror dari kelompok militan Islam Al-Qaeda yang berhasil membajak empat pesawat. Dugaan ini jatuh pada tahun 2004, Osama bin Laden yang menjadi dalang dalam kejadian ini yang merupakan pimpinan dari Al-Qaeda. Namun, hal ini masih menjadi polemik perbincangan dunia.

Seketika citra negatif melekat pada agama Islam, dimana banyak aksi terror dengan mengatasnamakan dirinya sebagai umat Islam. Stigma bahwa Islam mengajarkan kekerasan begitu kuat mempengaruhi banyak orang. Opini publik tergiring dengan adanya peristiwa 9/11 ini, bahkan dengan sering terjadinya kasus pembunuhan serta terorisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, hingga marak disebut sebagai Islam Radikal. Akibatnya, Islamophobia begitu terasa di negara Amerika Serikat pada saat itu.  Umat minoritas muslim di negara tersebut keberadaannya menjadi terancam.

Fitrahnya, Islam lahir membawa keadilan dan kedamaian, Islam merupakan agama kasih sayang, sehingga Islam disebut sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang berarti tidak ada pengdiskreditan di dalam Islam. Hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam tugasnya menyebarkan ajaran agama Islam, media perang serta kekerasan bukan menjadi hal yang utama untuk dilakukan Rasulullah.

Termaktub dalam hadist “Rasulullah SAW membentuk pasukan terbesar pada saat itu berjumlah 3000 pasukan dan memilih 3 panglima hebat yang bernama Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah Radhiallahu’anhum Ajma’in dengan penunjukkan secara berkala. Jika Zaid wafat maka Ja’far menggantikannya, dan jika Ja’far wafat maka Abdullah bin Rawahah menggantikan. Selain itu Rasulullah SAW menetapkan rambu-rambu peperangan, seperti tidak boleh membunuh anak-anak, wanita dan orang tua, serta tidak boleh menyerang tempat ibadah mereka, tidak boleh memotong pepohonan atau merobohkan sebuah bangunan.” (Kitab Rahmatan lil alamin 2/27)

Islam adalah agama yang damai, tidak ada satupun perintah yang mengajarkan umatnya untuk melakukan tindak kekerasan, pembunuhan, dan merusak makhluk hidup lainnya, bahkan Islam memerintahkan umatnya untuk tidak berbuat keji. Rasulullah mengajarkan melalui dakwahnya yang tergambar begitu damai, serta penuh kehati-hatian. Allah pula mengutus Rasulullah untuk mendamaikan situasi yang ada, dan membawa umat menuju jalan yang benar.

Oleh : Widya Nur Erviana

Editor: Isma A

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here