Pulau Belitung
Foto: Isma Aniatsari/Ngaderes.com

Ngaderes.com – Beberapa hari lalu aku dan beberapa teman sekantorku berkesempatan menyambangi Pulau Belitung yang terletak di Provinsi Bangka Belitung. Pulau Belitung sendiri hanya terdiri atas dua kabupaten yaitu Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Dari Jakarta kami menempuh perjalanan ke Tanjung Pandan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Belitung hanya sekitar 50 menit saja menggunakan penerbangan domestik Lion Air. Karena kami berangkat pagi hari dan aku belum sarapan, di pesawat aku memesan mie rebus sembari menikmati pemandangan langit yang berawan. Lumayan bisa makan di langit meskipun harga yang harus kutebus untuk membeli mie itu juga selangit.

Ketika pesawat yang kutumpangi melayang di atas pulau Belitung, mulutku sempat menganga dengan warna hijau pepohonan yang memenuhi setiap pulau, hamparan perkebunan pohon sawit berjejar sepanjang mata memandang. Maklum saja, karena sudah terlalu lama tinggal di Ibu Kota aku jadi merindukan pepohonan. Sebelum mendarat di Bandara Internasional Hanandjoeddin, mata ini kembali terpaku dengan banyaknya lubang-lubang galian berwarna kecoklatan yang tampak mencolok dilihat dari atas. Tidak Heran, Belitung memang menyimpan potensi di bidang pertambangan seperti timah, kaolin, granit, hingga pasir laut. Belitung menyimpan kekayaan luar biasa yang mengundang berkah tidak hanya bagi penduduknya, tapi perusahaan-perusahaan besar di bidang pertambangan.

Sampai di bandara, kami segera memesan taksi menuju hotel di daerah Tanjung Pandan yang sudah kami pesan sebelumnya. Oh ya, transportasi ojek online juga sudah bisa ditemukan di pulau ini. Meski masih jarang dan hanya berpusat di daerah kota saja, tapi cukup membantu untuk pendatang sepertiku.

Belitung, Pulau Teraman di Indonesia

Untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Pulau Belitung, kami menyewa kendaraan roda dua yang dipatok hanya Rp. 70.000,- saja sehari. Saat melakukan transaksi, aku heran karena penyewa hanya membutuhkan satu KTP saja sebagai jaminan atas tiga motornya yang kami pinjam. Persyaratan yang sangat mudah itu sangat berbanding terbalik ketika dulu aku berlibur ke Jogjakarta. Di sana kami harus menyerahkan tiga KTP sebagai jaminan untuk menyewa kendaraan.

Menjawab rasa penasaranku, si penyewa mengatakan bahwa Belitung adalah pulau yang aman. Pulaunya yang kecil membuat nyaris tidak ada pencuri di sana. Semua warga lokal dan pendatang hidup dalam ketentraman dan rasa aman. Aku berdecak kagum. Lagi-lagi kondisi di sini sangat berbeda dengan Pulau Jawa. Saat mengunjungi Rumah adat Belitung, pedagang di sana juga membenarkan bahwa Belitung adalah pulau yang aman. Dia menantangku agar meninggalkan kunci motor di lubangnya dan meninggalkan motorku di sembarang tempat. Dia yakin bahwa motor itu akan tetap berada di tempatnya.

Aku ingin melakukannya, tapi ingat bahwa motor yang kupakai ini bukan milikku dan aku tak ingin mengambil resiko.

Jalanan mulus, siap kebut-kebutan

Dari Tanjung Pandan, diperlukan sekitar tiga puluh sampai satu jam berkendara menuju Pantai Tanjung Tinggi yang terlatak di Kecamatan Sijuk, sebelah utara Pulau Belitung. Jaraknya sendiri dari Tanjung Pandan adalah 37 km. Jalanan di Pulau Belitung mayoritas landai dan mulus sekali, juga lengang. Aspal hitam dan jalanan yang luas terbentang bahkan hingga pelosok daerah Belitung.

Baca juga: Jejak Laskar Pelangi di Pulau Belitung

Aku takjub sekaligus tergoda untuk ngebut. Kecepatan motor yang kubawa selalu diantara 60 sampai 90 km perjam. Melesat di jalanan Pulau Belitung yang sepi menjadi kesan tersendiri selama di sana.

Pesona Pantai Tanjung Tinggi, Pantainya Laskar Pelangi

Sampai di pantai Tanjung Tinggi, kami disambut ratusan batu granit berbagai ukuran yang memang menjadi ciri khas pantai-pantai di Belitung. Granit mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan, memadati pantai dengan pasir putih halus bak tepung ini. Dari jauh, ombak biru bergulung-gulung bergantian menghantam bebatuan granit yang tetap kokoh menjulang di sepanjang pantai dengan diameter seratus meter ini.

Banyak spot foto keren di pantai ini. Mulai di antara bebatuan granit, di pasir pantai putihnya, hingga di depan plakat lokasi pembuatan film Laskar Pelangi. Sayang sekali karena terlalu menikmati suasananya, foto yang kuhasilkan tidaklah banyak.

Saat mengunjungi pantai ini, jangan lupa untuk berburu sun sets yang katanya sangat menawan. Sayang sekali karena kami datang di musim penghujan, langit di atas sana berawan hingga menghalangi cahaya senja. Air laut yang biasanya berwarna biru jernih saat itu berwarna biru kehijauan dan agak keruh. Sempat kecewa tapi berusaha saja menikmati pantai itu yang entah kapan bisa kudatangi lagi.

Meski saat terang pantai ini tampak mempesona, tapi ketika matahari kembali ke peraduannya suasana di pantai ini sedikit mencekam. Tiba-tiba saja suasana menjadi gelap gulita. Hanya dibantu dari cahaya beberapa warung yang temaram, kami segera berkemas. Merutuki diri kenapa tidak pulang lebih awal karena jalanan yang akan dilalui kebanyakan hutan-hutan tak berpenghuni. Meksi katanya aman, tapi berkendara dalam kegelapan di daerah yang tidak kami kenal sedikit mengkhawatirkan. Untung saja kami sampai ke pusat kota dengan aman.

Oleh: Isma Aniatsari
Editor: Isma Aniatsari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here