Ngaderes.com-Jika mendengar kata pernikahan pasti yang terlintas dalam pikiran yaitu pasangan yang romantis, bahagia, memiliki anak, serta hidup rukun. Padahal, modal pernikahan tidak cukup dengan cinta saja, melainkan ada banyak tanggung jawab yang harus dilaksanakan serta ilmu yang harus dipersiapkan untuk membina bahtera rumah tangga. Lantas, bagaimana jika pernikahan dilakukan pada anak-anak usia remaja atau biasa disebut pernikahan dini?

Menurut WHO, yang disebut remaja adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12-24 tahun. Sedangkan menurut Menteri Kesehatan RI tahun 2010, batas usia remaja adalah antara 10-19 tahun dan belum kawin. Namun, jika melihat aturan hukum UU No 16 tahun 2019 mengenai perkawinan, memberikan jalan bagi anak di bawah umur untuk melakukan pernikahan dini. Maraknya nikah muda seolah sudah menjadi hal biasa di mata masyarakat.

Masa pandemi yang mengharuskan para siswa belajar di rumah sekian lama, memberikan rasa bosan tersendiri terlebih pada remaja usia SMP-SMA. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menghilangkan jenuh diantaranya dengan berselancar di dunia maya. Tidak adanya kegiatan ditambah banyaknya potret mesra para influencer atau artis yang menikah muda membuat banyak remaja yang ingin mengikuti langkah mereka.

Seperti yang dikutip dari opini.id Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan angka pernikahan dini meningkat saat masa pandemi.  KemenPPPA mendapat laporan terjadi kenaikan hingga 24 ribu permohonan dispensasi pernikahan dari pengadilan agama. Angkanya naik jauh dibanding tahun sebelumnya, termasuk di Jawa Barat. Selain itu, Dosen Hukum Universitas Padjadjaran, Susilowati Suparto juga mengatakan pernikahan dini di Jawa Barat alami kenaikan. Menurutnya faktor ekonomi menjadi salah satu faktor remaja melakukan pernikahan dini.

Jika pernikahan dini terus dilakukan, maka yang mungkin akan terjadi adalah tingginya tingkat perceraian. Karena pernikahan itu selain didasari dengan cinta, juga dengan kesiapan mental dan fisik, sosial dan ekonomi, serta sikap kedewasaan dari kedua belah pihak. Bayi stunting, prematur, keguguran merupakan dampak bagi anak yang lahir dari ibu remaja. Tidak hanya dampak negatif,  pernikahan dini pun memberikan dampak positif, diantaranya menghindarkan pergaulan bebas, menghalalkan hubungan, mudah mengontrol emosi, memiliki energi untuk membesarkan anak, tingkat kesuburan lebih tinggi, dan lain sebagainya.

Negara sudah sedemikian rupa mengatur tentang pernikahan dini, lalu bagaimana dengan Islam memandangnya? Seperti yang dilansir dari Republika.co.id, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa tentang pernikahan dini. Menurut MUI, dalam literatur fiqh Islam tidak terdapat ketentuan secara eksplisit mengenai batasan usia pernikahan. Baik itu batasan minimal maupun maksimal. Sebagaimana Allah mengatur hal ini dalam firman-Nya :” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan yang perempuan”.(QS. An-Nur (24) : 32)

Menurut syariat Islam, usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada’ wa Al wujub) Islam tidak menentukan batas usia namun mengatur usia baligh untuk siap menerima pembebanan hukum Islam.

MUI memutuskan bahwasannya pernikahan dini pada dasarnya sah sepanjang telah terpenuhinya syarat dan rukun nikah. Namun, hukumnya akan menjadi haram jika pernikahan tersebut justru menimbulkan madharat.

Oleh: Yanti Nurfitroh

Editor: Isma A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here