manusia makhluk istimewa
Foto: pixabay.com

Serbislam — Insan atau manusia adalah makhluk yang istimewa dan pilihan di sisi Allah. Ia lebih mulia, lebih utama, dan lebih tinggi daripada makhluk lain yang diciptakan Allah. Ia diciptakan untuk turut membongkar rahasia Ilahi yang banyak terpendam di permukaan bumi ini.

Segala sesuatu isi alam ini dijadikan Allah untuk ia. Dikhususkan manusia untuk meletakkan cinta Allah, mengenal Allah, dan untuk mendekati-Nya. Kadang-kadang dengan merenungi diinya sendiri dapatlah ia mengenal Tuhannya.

Manusia itu makhluk istimewa, kepadanya diberikan apa yang tidak diberikan kepada makhluk lain, sehingga matahari memancarkan sinar, bulan menyebarkan cahaya, dan bintang-bintang berkelipan di malam sunyi, semua untuk manusia. Air sungai mengalir, lautan terbentang tumbuh-tumbuhan menghijau, untuk ia.

Bahkan malaikat yang menjadi penghuni gaib dari langit dan bumi, banyak di antaranya yang ditugaskan semata-mata untuk menjaga dan memelihara manusia. Sedang manusia tidak ada yang ditugaskan menjadi pengawal malaikat.

Ada malaikat yang khusus diperintahkan menjadi pengawal di kiri kanannya, yaitu Raqib dan Atid. Malaikat yang disuruh menjaga keselamatannya, itulah malaikat Hafazhah. Ada yang menjadi juru tulisnya, yaitu Kiraman Katibin.

 

Manusia itu khalifatullah fil ardhi

manusia makhluk istimewa
Foto: pexels.com

Mula-mula nenek moyangnya diciptakan ialah di dalam surga ‘Adn, tempat yang istimewa. Khalaqahu biyadihi. Ia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri, tidak dicampui tangan lain.

Ia, manusia itu dalam keseluruhan adalah khalifatullah fil ardhi, khalifah atau pelaksana Allah di muka bumi ini. Kepada insan disediakan bumi seluruhnya supaya mereka hidup di atasnya dan bekerja padanya, berusaha. Ketika Adam akan berangkat melaksanakan tugas ke bumi ini, akan menurunkan insan sebagai anak cucunya, Allah berfirman kepadanya,

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 38)

Janji Allah dengan manusia pertama itu diteguhinya terus. Dari kalangan keturunan Adam itu sendiri dipilih Allah orang-orang yang akan diutus Allah menyampaikan tuntunan dan bimbingan itu, itulah rasul-rasul. Itulah nabi-nabi. Nabi-nabi itulah yang diajak bercakap oleh Allah, sebagaimana Ibrahim al-Khalil, diangkat-Nya menjadi tanda dan kebesaran dan mutlak kekuasaaan-Nya seperti Isa. Dijadikan-Nya pelengkap dari segala kekurangan, sebagaimana Muhammad al-Mustafa saw.. Mereka disokong dan dibantu oleh para aulia, para ulama sebagai pewari, atau rabbani yang telah memberikan seluruh hidup untuk Allah.

 

Perbendaharaan dari rahasia Allah

Manusia itulah yang dijadikan Allah sebagai perbendaharaan dari rahasia-Nya. Sebagai pemegang kunci dari hikmah-Nya. Tempat meletakkan cinta-Nya. Satu-satu kali Allah bersabda kepada mereka yang mendekati-Nya,

“Aku ridha kepadamu.”

Perintah ataupun larangan, rayuan penggembira ataupun ancaman pelanggaran, sampai kepada surga dan neraka, semuanya itu hanya dijadikan untuk manusia.

Sebab itu, manusia adalah simpulan dari seluruh yang ada ini. Hal ini termaktub dalam Al-Auran, surah al-Ahzaab: 72. Mafhumnya,

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia.”

Tatkala nenek manusia yang pertama telah diciptakan Allah dengan tangan-Nya sendiri, dan setelah roh Ilahi ditiupkan kepadanya dan ia telah beroleh hidup, malaikat-malaikat disuruh bersujud kepada kepadanya, bukan ia yang disuruh bersujud kepada malaikat. Kemudian, segala nama-nama pun diajarkan kepadanya, sehingga ketika diuji kepandaiannya bersama-sama dengan malaikat yang banyak itu, malaikat mengaku terus terang tidak tahu, tetapi Adam menjawab segala pertanyaan.

Iblis yang tidak mau mengikuti perintah buat turut bersujud kepada Adam itu, diusir dari dekat Allah, dibuang dari surga Allah dan tidak boleh lagi mendekati ke hadapan pintu Allah. Sejak itulah tumbuh tekad permusuhan dari iblis kepada insan karena dengki sombongnya. Namun, setelah bersama di dunia, Allah tidak mau membiarkan hamba-Nya yang pilihan itu terkatung-katung tidak ada pimpinan.

“Apakah manusia mengira, ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban).” (al-Qiyaamah: 36)

Dari surga datang mereka dan dengan penjagaan Allah mereka hidup. Setiap saat pula mereka diperingatkan, dipanggil, dihimbau, supaya ingat bahwa tujuan yang sebenarnya ialah ke tempat asal dahulu.

Bersambung.

Sumber: Buku “Kesepaduan Iman dan Amal Saleh” Karya Prof. Dr. Hamka, tahun 2016

Editor: dfalv

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here