Makna Merdeka
Foto: Giovany Dewia/Ngaderes.com

Oleh : Firmawati SH. M.Hum – Aktifis Nasyiatul Aisyiyah

Tujuh puluh lima tahun sudah Indonesia merdeka, rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke bereuforia sekaligus merenung, mengenang kembali perjuangan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Seluruh penjuru Indonesia mengumandangkan kata ”merdeka”, selama tujuh puluh lima tahun juga setiap tanggal 17 Agustus kita merenung merefleksikan kembali makna merdeka baik bagi diri kita sendiri maupun bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Memaknai kemerdekaan tentu akan menjadi amat luas tenrgantung konsep mana yang kita gunakan. Ada banyak konsep yang bisa digunakan dalam memaknai hakikat kemerdekaan diantaranya bisa menggunakan perspektif bahasa, sejarah, kenegaraan, juga persfektif sebagai warga negara.

Persfektif pertama, kemerdekaan bisa dimaknai dengan cara mencari arti atau definisi dari kata merdeka. Dalam KBBI kata merdeka ini dapat ditujukan kepada dua subjek yaitu untuk negara dan individu. Disebutkan dalam KBBI Merdeka adalah disaat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya.

Definisi yang kedua merdeka adalah disaat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak tergantung pada orang lain. Dari kedua definisi di atas sama-sama menggambarkan suatu keadaan yang awalnya haknya hilang, terenggut, terkekang, terintimidasi, terjajah kemudian hak tersebut didapatkannya kembali secara penuh berdaulat tanpa intervensi dari pihak lain.

Perspektif yang kedua, kita dapat memaknai kemerdekaan dari persfektif sejarah. Sejarah kemerdekaan Indonesia amat panjang dan memerlukan rekonstruksi setiap momennya. Namun pada klimaksnya dapat kita maknai bahwa kemerdekaan adalah sebagai momentum diproklamasikannya kemerdekaan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10.00 WIB.

Persfektif yang ketiga kita dapat memaknai kemerdekaan melalui perspektif kenegaraan, kenegaraan disini maksudnya adalah kedaulatan negara atas wilayah dan kekayaan sumber daya alam dan pemerintah yang berkuasa penuh atasnya. Melalui perspektif ini kemudian timbul pertanyaan yang cukup kritis “sudahkah negara kita benar-benar merdeka?” “masih terjadikah penjajahan dari bangsa lain terhadap bangsa kita?”

Melalui sejarah kita ketahui bangsa lain menjajah bangsa kita karena tergiur kekayaan alam yang kita miliki. Betapa tersohornya bangsa ini atas kekayaan alam, sehingga bangsa lain berburu rempah-rempah hingga ke Nusantara. Bangsa ini juga dianugerahi kekayaan yang ada di bumi, air, ruang angkasa, dan segala kekayaan alam yang terkandung didalamnya.

Penjajahan yang dulu terjadi nampaknya belum benar-benar hilang. Hari ini bentuk penjajahan atas sumber daya alam beralih menjadi legal yaitu memiliki payung hukum melalui kontrak karya. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan, apakah isi kontrak karya lebih menguntungkan negara Indonesia atau justru lebih mnguntungkan segelintir orang seperti koorporasi, kapitalis, bahkan pihak asing?

Konstitusi mengamanatkan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasi oleh Negara dan dipergunakan unruk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Atas dasar amanah konstitusi itu mari kita nilai dengan objektif apakah hari ini sumber daya alam yang memiliki nilai strategis seperti perikanan, perhutanan, pertanian, dalam bidang pertambangan antara lain minyak dan gas, emas, batu bara, timah, dan lain sebagainya sudah dikuasi dengan bijaksana? Apakah sudah dikelola dengan apik guna mewujudkan kemakmuran rakyat Indonesia?

Kemudian makna kemerdekaan yang terakhir dapat diambil dari perspektif sebagai warga negara. Semangat kemerdekaan dalam kehidupan sebagai warga negara termaktub dalam Pasal 28 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”. Ini makna kemerdekaan bagi setiap individu untuk menjalani kehidupan sebagai warga negara yang berdaulat atas pilihannya sendiri menjunjung demokrasi namun tentunya harus berdasarkan nilai-nilai pancasila.

Makna merdeka tentu akan menjadi relatif tergantung melalui pendekatan, konsep, perspektif mana yang dipergunakan menerjemahkannya. Dalam momentum kemerdekaan ini sebagai milenial mari kita merefleksikan lagi apa yang sudah kita berikan untuk negara. Tidak sekedar hanya mempertanyakan apa yang sudah negara berikan untuk kita.

Atas dasar rasa cinta terhadap negara mari kita mempertahankan kemerdekaan sebagaimana hakikatnya. Selain itu mari mengisi kemerdekaan dengan berkarya dan penuh tanggung jawab sehingga menelurkan produktifikatas sesuai minat kita masing-masing.

Editor: Isyfa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here