Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Ngaderes.com – Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap tanggal 31 Mei. Peringatan ini dicetuskan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 1987. Tujuannya untuk mengkampanyekan 24 jam tanpa rokok.

Dalam Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2020 ini, organisasi kesehatan dunia (WHO) menghimbau setiap negara untuk berpartisipasi melakukan kampanye global dalam mengungkap gencarnya promosi industri-industri tembakau.

Kampanye ini dinilai dapat memberikan edukasi yang diperlukan anak-anak  dalam mendeteksi cara yang dilakukan oleh industri tembakau untuk menarik kaum muda. Dalam kampanye ini, WHO mengajak seluruh anak-anak untuk turut serta dalam menciptakan generasi baru tanpa asap rokok.

Saat ini, industri tembakau di seluruh dunia sedang mengeksploitaisi anak-anak dan remaja sebagai penerus perokok aktif di masa depan. Beradasakan Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, jumlah perokok usia 10-18 tahun mencapai 9,1% dan menjadi yang tertinggi di dunia pada kategori remaja perokok.

Hal itu membuat Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjadi sangat prihatin dengan peningkatan jumlah perokok dari kalangan anak-anak dan remaja di Indonesia .

Peningkatan yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh gencarnya indrustri menarik kaum muda untuk mengkonsumsi rokok dan nikotin lewat promosi dan iklan dapat kita temukan diberbagai media.

Selain itu, indrustri rokok pun semakin kreatif berinovasi menciptakan cita rasa rokok. Ditambah dengan kondisi rokok yang di jual batangan dengan harga yang mudah dijangkau anak muda.

Keaktifan indrustri tembakau juga masif dalam memberikan dana untuk sponsorship musik, kesenian, olahraga dan beasiswa di kegaitan- kegiatan sekolah. Promo lain pun digunakan dengan menggunakan influencer medsos.

Demikian halnya yang diungkapkan Dirjen Kesehatan Masyarakat RI, Kirana Pritasari di peringatan HTTS melalui webinar dan live youtube Selasa (02/06) lalu.

“Anak- anak dan remaja harus ditingkat pengetahuan dan kesadaran akan efek bahaya konsumsi rokok dan paparannya. Juga mengajak dan berupaya dalam mencegah penggunaan tembakau dalam bentuk apa pun”

Beliau mengatakan merokok memberikan risiko bagi kehidupan. Jika dilihat dari update terbaru, perokok memiliki risiko tinggi terjangkit Covid-19.

Olehkarena itu, arahan Covid-19 tentang hidup bersih dan sehat sejalan dengan misi pembangunan SDM muda yang sehat. Beliau mengatakan semua lapisan baik masyarakat, stakeholder, tenaga pendidik dan pihak swasta perlu bersinergi.

Hal tersebut sejalan dengan yang diutarakan Dr. Kipyatullizam dalam  mendukung kampanye generasi muda tanpa rokok.

Beliau mengatakan bahwa peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS)adalah momentum untuk mengedukasi masyarakat akan bahaya rokok dan dampak yang ditimbulkan jika terus dilakukan bagi kehidupan manusia.

Menurutnya, penekanan angka perokok aktif dinilai masih belum efektif. “Kalo dibilang efektif, tentu belum. Jika ingin menekan jumlah perokok secara total adalah dengan menghilangkan sumber rokok tersebut. Kalo gak ada yang jual, tentu gak akan ada yang konsumsi. Tapi, negara kita sulit untuk mengambil kebijakan tersebut.”

Beliau menambahkan bahwa saat ini tenaga medis hanya bisa memberikan edukasi dan promosi kesehatan terkait bahaya merokok di semua kalangan terutama kalangan remaja yang bisa dicegah sejak awal.

Ia berharap masyarakat bisa segera sadar akan bahaya dan dampak yang ditimbulkan rokok bagi kehidupan masyarakat.

 

Penulis : Haris
Editor : Sasa

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here