• Minggu, 14 Agustus 2022

Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat

- Kamis, 26 Mei 2022 | 15:00 WIB
Ilustrasi Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat (Canva)
Ilustrasi Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat (Canva)

Imran tidak ingin ibadah dan kekhusyuannya kepada Allah terganggu oleh sesuatu pun. Ia tenggelam dalam ibadah hingga seolah tidak menoleh sama sekali kepada dunia tempatnya hidup dan bumi tempatnya berpijak.

Ia seakan hidup dalam lingkungan malaikat. Berbincang dengan mereka dan saling berjabat tangan.

Ketika terjadi pertikaian sengi tantara sesama kaum muslimin, antara kelompok Ali dengan kelompok Muawiyah, Imran tidak hanya bersikap netral, namun lebih dari itu, ia mengajak semua orang untuk tidak ikut dalam pertikaian itu, dan lebih mengutamakan kedamaian. Ia berseru, “Aku lebih suka menggembala kambing di atas pegunungan hingga meninggal dunia daripada harus bergabung dengan salah satu kelompok, lalu membidikkan anak panah, baik mengenai sasaran maupun tidak.”

Kepada setiap orang Islam yang dijumpainya ia berpesan, “Berdiam dirilah di masjid. Jika masjid pun diserang, berdiam dirilah di rumahmu. Jika rumahmu diserang, mengincar nyawamu atau hartamu, maka lawanlah.”

Keimanan Imran bin Hushain benar-benar membawa hasil gemilang. Ia menderita sakit selama 30 tahun dan tidak pernah ada kata mengeluh keluar dari mulutnya. Selama kurun waktu yang panjang itu, ia tetap rajin beribadah, baik dengan berdiri, duduk, maupun berbaring.

Ketika para sahabat dan orang-orang menjenguknya dan memberikan kata-kata penghibur, ia tersenyum dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya, apa yang paling kusukai adalah apa yang paling disukai Allah.”

Wasiat yang ia sampaikan kepada keluarganya, sesaat sebelum meninggal dunia adalah, “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan makan.”

Memang, sepatutnya mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan makan karena kematian seorang mukmin seperti Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian, melainkan pesta besar dan meriah. Pesta untuk menyambut kedatangan ruh suci dan mulia yang sedang memasuki taman surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Sumber : Buku ’60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW’ karya Khalid Muhammad Khalid, Cetakan Kesembilan April 2018.

Halaman:

Editor: Dita Fitri Alverina

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Ummu Salamah, Ibunya Orang-Orang Mukmin

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:00 WIB

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X