• Selasa, 4 Oktober 2022

Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat

- Kamis, 26 Mei 2022 | 15:00 WIB
Ilustrasi Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat (Canva)
Ilustrasi Kisah Sahabat Nabi Imran bin Hushain, Menyerupai Malaikat (Canva)

ngaderes.com -

Di tahun terjadinya perang Khaibar, ia datang kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan keislamannya. Sejak ia meletakkan tangan kanan-nya di tangan kanan Rasul, mengucapkan syahadat dan bersumpah setia, maka tangan kanannya itu benar-benar dijaga kesuciannya. Ia bersumpah tidak akan menggunakan tangan kanannya kecuali untuk yang baik. Ini bukti bahwa tokoh kita kali ini memiliki perasaan yang halus.

Imran bin Hushain- semoga Allah meridhainya – merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud, keshalihan, pengorbanan cinta dan ketaatan kepada Allah. Meskipun kemudahan dan bimbingan yang diberikan Allah kepadanya sangat besar, ia sering menangis seraya berkata, “Andai saja aku adalah debu yang beterbangan disapu angin….”

Sebab, orang-orang seperti ia takut kepada Allah bukan karena pernah melakukan dosa, karena bisa dikatakan mereka tidak pernah berbuat dosa setelah masuk Islam. Akan tetapi, mereka takut kepada Allah karena mengetahui kebesaran dan keagungan-Nya – selain menyadari ketidakmampuan mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka selalu bersujud, ruku, dan beribadah.

Suata hari, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ada apa dengan kami ini? Jika kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lembut. Kami sama sekali tidak menginginkan dunia. Kami seakan melihat akhirat dengan mata kepala kami sendiri. Namun, ketika kami berpisah denganmu dan berkumpul dengan istri, anak, dan urusan dunia kami, kami menjadi lupa diri.”

Rasulullah menjawab, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian selalu berada dalam kondisi seperti saat kalian di sisiku, pasti malaikat menjabat tangan kalian secara kasatmata. Akan tetapi, begitulah yang tejadi. Terkadang, iman itu naik dan turun.”

Imran bin Hushain mendengarkan ucapan itu. Semangatnya pun berapi-api. Seakan ia bersumpah untuk mencapai tujuan, meskipun nyawa sebagai taruhannya. Ia tidak ingin keimanannya naik-turun. Ia ingin keimanannya selalu naik. Ia ingin seluruh hidupnya hanya untuk beribadah dan menyendiri dengan Allah, Tuhan alam semesta.

Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, Imran dikirim oleh Khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk Bashrah dan membimbing mereka mendalami agama. Penduduk Bashrah langsung berdatangan menyambutnya, berharap berkah dari keshalihan dan ketakwaannya.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berkata, “Tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasul saw. yang datang ke Bashrah, lebih dimuliakan daripada Imran bin Husain.”

Halaman:

Editor: Dita Fitri Alverina

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kisah Ummu Salamah, Ibunya Orang-Orang Mukmin

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:00 WIB

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X