• Sabtu, 25 Juni 2022

Bekali Diri Melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan dengan Iman dan Ihtisab

- Minggu, 3 April 2022 | 19:30 WIB
ilustrasi iman dan ihtisab diperlukan untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan (pexels)
ilustrasi iman dan ihtisab diperlukan untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan (pexels)



ngaderes.com
- Alangkah beruntung orang yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab. Segala dosa yang dilakukan di masa lalu akan diampuni. 

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda bagi siapa saja yang melaksanakan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.  [HR Bukhari]

Demikian hadis tersebut berbunyi, lantas apa itu iman dan ihtisab? Mari kita simak ulasannya!

Baca Juga: Perbedaan Keutamaan Melaksanakan Sholat Dhuha di Awal dan Akhir Waktu
Baca Juga:
Malam 1 Ramadan Masjid Pusdai Dipenuhi Jemaah Salat Tarawih, Ridwan Kamil Terharu


Pertama, Iman

Iman berasal dari kata amana - yu’minu - imanan. Secara harfiyah (etimologis) artinya percaya dengan yakin.

Sedangkan secara istilah,  pengertian iman menurut ulama adalah percaya dalam hati (membenarkan), mengakui dengan lisan dan melakukan dengan perbuatan yang menghasilkan sikap menerima dan tunduk.

بَابُ اْلقَوْلِ بِأَنَّ اْلِإيْمَانَ تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِالِّلسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْجَوَارِحِ. لَا يَكُوْنُ مُؤْمِناً إِلَّا أَنْ تَجْتَمِعُ فِيْهِ هَذِهِ الْخِصَالِ الثَّلَاثِ

“Bab perkataan bahwa iman adalah pembenaran dengan hati, dan ikrar dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota tubuh. Seseorang tidak menjadi mu’min (beriman) kecuali terkumpul padanya tiga hal tersebut.” (Imam Al-Ajuriy).

Baca Juga: Coba 3 Amalan Bulan Ramadhan Ini: Agar Meraih Derajat Takwa Saat Berpuasa, Simak Penjelasan Ustad Adi Hidayat


Dalam konteks Ramadhan, iman memiliki arti bahwa melakukan puasa atas dasar perintah Allah bukan karena kebanyakan manusia. Puasa karena iman artinya memurnikan niat, perbuatan, dan perkataan hanya menurut Allah.

Tentunya ini sulit dilakukan karena diri manusia terdapat hawa nafsu dan petunjuk yang mempengaruhi pilihan dalam hidup. Inilah yang membuat manusia tidak selamanya stabil atau istiqomah untuk melakukan ketaatan.

Maka dari itulah pengaplikasian terbaik dari iman adalah selalu memperbaiki diri hingga menjadi sebaik-baik pembelajar.

Baca Juga: 3 Tingkatan Puasa: Upgrade Level Puasamu, Agar Tak Hanya Dapat Pahala Menahan Lapar dan Dahaga Saja


Kedua, Ihtisab


Ihtisab memiliki akar kata yang sama dengan hisab yaitu “perhitungan” atau “berhitung”. Sebagaimana didukung dengan penjelasan Imam al-Khathabi rahimahullah, “Ihtisab memiliki makna ‘azimah, yaitu ia berpuasa dengan berharap pahalanya dengan memerhatikan kebaikan bagi dirinya tanpa memberatkan pada puasanya dan tidak pula memerpanjang hari-harinya.”

Artinya, Ihtisab ini adalah perhitungan dalam dimensi amal kebaikan atau amal sholeh. Dalam sudut pandang ilmu akuntasi, perhitungan ini mencakup untung dan rugi, strategi bagaimana perbuatan bisa memberikan keuntungan setiap hari meskipun tidak lagi musim produk tersebut.

Dari perspektif tersebut, dapat diambil pengertian ihtisab itu adalah bagaimana amal sholeh yang dilakukan pada Ramadhan ini bisa menutupi point keburukan dibulan sebelumnya, sekaligus memberikan dampak pada bulan-bulan berikutnya yang membuat tidak rugi.

Baca Juga: Apa Keutamaan Bulan Ramadan? Berikut ini 4 Peristiwa Penting di Bulan Ramadan

Dengan pengertian yang lebih dekat, ihtisab ini adalah target dan amalan Ramadhan apa yang perlu dirutinkan agar berbeda dengan Ramadhan sebelumnya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. [Al Hasyr ayat 18]

Dengan memiliki konsep iman diri akan terus termotivasi karena yakin untuk memperbaiki diri dari segi akhlak kepada Allah, diri sendiri, manusia lainnya, dan makhluk Allah lainnya.

Baca Juga: Doa agar Selalu Diberi Keistiqomahan Beribadah di Jalan Allah
Baca Juga: Kisah Hakim bin Hazam, Sahabat Nabi Satu-Satunya yang Lahir di Kakbah

Adapun aspek yang diperbaikinya adalah dari bisa dimulai segi niat, perbuatan, dan perkataan. Dengan konsep iman pun akan terevaluasi apa aja kesalahan-kesalahan sebelumnya dan akan diperbaiki dengan membuat progress yang baru dengan konsep ihtisab. Progress yang realistis, penuh perhitungan, dan realisasi yang utuh. Hal ini sesuai dengan QS Al Asr 103 ayat 3 ketika sudah terdapat iman maka perlu ada realisasi berupa amal sholeh. ***


Penulis : Agniya Q Salamah

 

 

Editor: Annisa Sasa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X