• Kamis, 7 Juli 2022

Kisah Kejujuran Ka’ab bin Malik yang Penuh Inspirasi

- Minggu, 27 Maret 2022 | 21:23 WIB
Ilustrasi Kisah Kejujuran Ka’ab bin Malik yang Penuh Inspirasi (Canva)
Ilustrasi Kisah Kejujuran Ka’ab bin Malik yang Penuh Inspirasi (Canva)

ngaderes.com - Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar setelah iman, kecuali kejujuran kepada Nabi SAW.

Perang Tabuk adalah perang terakhir yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Pertempuran melawan pasukan Romawi terjadi di Rajab pada 9 Hijriyah, tepat di musim panas.

Perang yang terjadi di Hijaz utara berjarak 778 KM dari Madinah itu disebut Perang Al-Usrah (perang yang penuh dengan kesulitan) karena terjadi pada masa paceklik.

Meski dilanda kelaparan, semangat para sahabat untuk menginfakkan harta di jalan Allah tidak pernah padam, misalnya sahabat Utsman bin Affan mendonasikan hartanya sebanyak 1.000 dinar untuk keperluan Perang Tabuk.

Namun kali ini kita akan fokuskan pada kisah Ka’ab bin Malik, beliau adalah seorang sahabat yang mengikuti hampir semua peperangan bersama Rasulullah SAW, kecuali pada Perang Tabuk. Lalu mengapa Ka'ab tidak membela panji agama Allah dalam Perang Tabuk?

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam Kitab Al-Tawwabin membahas kisah Ka'ab bin Malik yang tidak ikut Perang Tabuk. Menurut Ibnu Qudamah, seperti biasa Rasulullah SAW paling senang melakukan perjalanan pada hari Kamis. Ka'ab bertekad untuk mengambil bagian dalam tentara yang mengarah ke Tabuk. Kamis pagi, saat pasukan Islam akan berangkat, Ka'ab pergi ke pasar.

Dia pergi ke pasar untuk membeli peralatan yang akan digunakan untuk Perang Tabuk. Ka'ab berpikir, setelah barang-barang yang dibutuhkannya dibeli, dia akan segera mengikuti laskar Islam. Sayangnya, hari itu barang yang dia butuhkan tidak ditemukan di pasar. Ka'ab menunggu besok, dengan harapan barang yang dibutuhkannya sudah tersedia di pasar.

Namun barang yang dicarinya tidak ada. Hari ketiga, keempat, dan seterusnya, pedagang yang menjual peralatan yang dia butuhkan tidak ada. “Sampai akhirnya Ka’ab bin Malik tidak bisa lagi mengikuti pasukan yang dipimpin Rasulullah SAW,” kata Ibnu Qudama.

Betapa gelisahnya Ka'ab menyadari ketika dia tidak bisa bergabung dengan Nabi di Perang Tabuk. Hatinya begitu sedih. Dia sangat menyesal karena gagal mempersiapkan peralatan perang.

Halaman:

Editor: Dita Fitri Alverina

Tags

Artikel Terkait

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X