• Kamis, 7 Juli 2022

Menilik Aturan Jual Beli NFT Dalam Islam dan Undang-Undang

- Kamis, 27 Januari 2022 | 20:05 WIB
Ilustrasi uang kripto atau cryptocurrency (freepik.com)
Ilustrasi uang kripto atau cryptocurrency (freepik.com)

 

ngaderes.com - NFT atau Non-Fungibel Token akhir-akhir ini banyak diperbincangkan setelah berita Ghozali Everyday trending di sosial media. Diketahui Ghozali sukses meraup untung hingga miliaran rupiah berkat bisnis NFT ini. 
 
Ia menjual ribuan aset berupa foto selfinya selama lima tahun di salah satu market place NFT, yaitu OpenSea. Lalu apa itu NFT? apakah bisnis tersebut boleh dilakukan di Indonesia? Bagaimana hukumnya berbisnis NFT dalam Islam ?
 
Apa itu NFT?
 
NFT merupakan set digital yang digunakan sebagai bukti kepemilikan produk yang diperjual belikan menggunakan uang kripto atau cryptocurrency. Aset tersebut bisa berupa karya seni, video klip, musik, game, foto dan lain-lain dan muncul dengan format JPEG, PNG, GIF dan lain sebagainya.
 
NFT memiliki kode unik tersendiri sehingga karya seni dalam NFT ini aman dan terhindar dari plagiasi. Oleh karena itu bisnis ini banyak dilirik seniman untuk menjual hasil karya mereka menggunakan NFT.
 
 
Harga jual yang ditawarkan dalam bisnis ini beragam, tergantung dari segi kualitas kreativitas serta reputasi seniman. Tidak sedikit para investor bersedia untuk membayar puluhan juta dolar AS untuk sebuah aset.
 
Di samping itu, transaksi jual beli aset di atas kemudian akan tercatat dalam sebuah data di Blockchain sehingga catatan tersebut tidak dapat dipalsukan. Data-data akan tersimpan berupa informasi pencipta, harga dan histori kepemilikan aset.
 
Transaksi pada NFT biasanya menggunakan mata uang kripto berupa Ether (ETH) buatan Ethereum.
 
Mata uang Kripto di Indonesia
 
Berdasarkan UU No. Tahun 2011 tentang mata uang, dijelaskan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia adalah rupiah. Dengan demikian penggunaan kripto sebagai mata uang atau alat pembayaran jelas bertentangan dengan UU tersebut.
 
Selain itu, peraturan Bank Indonesia (BI) No.17 Tahun 2015 juga menyatakan rupiah merupakan mata uang sah yang digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Oleh karena itu kripto di Indonesia dinilai sebagai aset atau komoditas bukan mata uang. 
 
Jadi aset berupa kripto boleh diperdagangkan. Aturan mengenai hal ini tertera dalam peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) No.5 Tahu  2019.
 
Hukum Jual beli menggunakan mata uang kripto dalam Islam
 
Dilansir dari kompas.com, penggunaan mata uang kripto sebagai alat transaksi jual beli pada NFT ini juga diharamkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fatwa tersebut disahkan dalam forum Ijtma’ ulama se-Indonesia ke-VIII pada Kamis, 12 November 2021.
 
Hal ini disebabkan karena pada praktiknya, penggunaan kripto dinilai mengandung unsur gharar dan dharar.
 
 
Gharar berarti transaksi yang mengandung unsur ketidakpastian dalam transaksi (penipuan). Sedangkan dharar merupakan transaksi yang bisa menimbulkan kerusakan kerugian akibat pemindahan hak kepemilikan secara tidak sah.
 
Di samping itu, MUI juga mengharamkan penggunaan uang kripto sebagai aset investasi. Sebab dalam praktiknya hal tersebut juga bisa menimbulkan gharar, dharar, ataupun qimar (ketidakpastian pada akad permainan/taruhan).
 
Ditambah jual beli aset ini disebut tidak memenuhi syarat sil ’ah yaitu adanya bentuk wujud secara fisik, memiliki nilai, diketahui jumlahnya secara pasti, serta hak milik bisa diserahkan kepada pembeli.
 
Namun jika memang aset kripto itu memenuhi syarat sebagai sil ’ah dan bersifat sebagai pemenuhan kebutuhan manusia serta memiliki manfaat, maka sah untuk diperjual belikan.
 
 
Editor karya tulis: Hildatun Najah
 
Sumber tulisan : 
 
 
 

Editor: Intan Resika Rohmah

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X