• Kamis, 7 Juli 2022

Merayakan Tahun Baru, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

- Jumat, 17 Desember 2021 | 08:02 WIB
Desain tanpa judul (3)
Desain tanpa judul (3)

Khazanah - Hanya hitungan hari lagi, masyarakat dunia akan merayakan pergantian tahun menuju 2022. Indonesia dengan keberagamaan suku, budaya, dan agama pasti sudah tak asing dengan perdebatan menyangkut toleransi terkait hal itu. Misalnya, pertanyaan tentang hukum mengucapkan dan merayakan tahun baru dalam agama Islam. Dengan demikian, boleh atau tidaknya merayakan tahun baru ini nyatanya melahirkan beragam pendapat. Pendapat-pendapat para ulama dibagi menjadi dua kesimpulan yakni membolehkan dan mengharamkannya mengucapkan atau merayakan pergantian tahun tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ahmad Sarwat bahwa ada banyak perbedaan pendapat mengenai hukum perayaan tahun baru Masehi ini. Ada beberapa yang membolehkan dan ada juga beberapa yang mengharamkan. Dalam pandangan haramnya merayakan tahun baru Masehi ini melihat dari sisi acara tersebut merupakan perayaan umat Nasrani. Sebagai bentuk ritual ibadah Nasrani yang berasal dari Eropa ditambah masih satu kesatuan dengan perayaan Natal. Alasan tersebut berawal dari upaya penyerapan bentuk ibadah dengan umat Nasrani. Sehingga praktik ini diharamkan berlandaskan Hadits Nabi : Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Dawud, hasan) Selain pendapat yang mengharamkan, ada juga yang membolehkan umat Islam merayakan perayaan tahu baru Masehi. Hal ini didasari bahwa momen tahun baru tidak berhubungan dengan ibadah umat lain. Namun, hal ini harus diikuti dengan niat bukan untuk mengikuti ritual-ritual agama lain. Selain itu, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis mengatakan bahwa dalam Islam tidak ada tuntunan khusus untuk melarang mengucapkan atau merayakan tahun baru Masehi. Kegiatan tersebut tidak ada penjelasan khusus dalam Al-Quran maupun Hadits. Namun, alangkah baiknya perayaan tersebut digunakan sebagai momentum untuk bersyukur dan jauh dari kemiskinan. Bukan digunakan sebagai momen untuk bermaksiat dan berperilaku boros (mubazir). "Di antara mensyukuri adalah menggunakan nikmat hidup sehat dan harta untuk hal-hal yang positif dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT," ujar Nafis, dilansir dari Republika pada Selasa (14/12/2021).   Penulis: Gina Nurulfadilah/Internship Editor: Siti Nurjanah/Internship

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X