• Senin, 27 Juni 2022

Modernisme dan Islam : 3 Pokok Dasar Pandangan Harun Nasution

- Kamis, 18 November 2021 | 03:29 WIB
harun nasution
harun nasution

Khazanah - Harun Nasution dikenal sebagai salah satu tokoh Filsafat Islam yang berasal dari Indonesia. Ia banyak dikenal sebagai tokoh Neo-Mu’tazilah karena pandangannya yang berusaha mengkawinkan antara Islam dengan Modernisme. Di luar dari perbedaan dalam cara pandang. Pikiran beliau masih sangat layak untuk kita pelajari bersama sebagai sebuah kekayaan intelektual dalam dunia Islam.

BIOGRAFI SINGKAT HARUN NASUTION

Harun Nasution lahir pada tanggal 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Beliau dilahirkan dari keluarga ulama, ayahnya bernama Abdul Jabbar Ahmad, seorang ulama sekaligus pedagang yang cukup sukses. Ia mempunyai kedudukan dalam masyarakat maupun pemerintahan. Ia terpilih menjadi Qadhi (penghulu). Pemerintah Hindia Belanda lalu mengangkatnya sebagai Kepala Agama merangkap Hakim Agama dan Imam Masjid di Kabupaten Simalungun. Sedangkan ibunya adalah anak seorang ulama asal Mandailing yang semarga dengan Abdul Jabbar Ahmad. Harun Nasution menyelesaikan sekolah dasar di Hollandsche Indlansche School (HIS) selama tujuh tahun. Selain itu, ia juga belajar mengaji di rumah. Harun Nasution lulus HIS di tahun 1934 sebagai salah satu murid terbaik yang dipilih kepala sekolahnya untuk langsung melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) tanpa melalui kelas nol dan lulus di tahun 1937. Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat dasar di Hollandsche Indlansche School (HIS), ia melanjutkan studi ke tingkat menengah yang bersemangat modernis, Moderne Islamictische Kweekshool (MIK). Kemudian atas desakan orang tua, ia pun meninggalkan MIK untuk pergi belajar di Arab Saudi. Di negeri gurun pasir, ia tidak tahan lama dan menuntut orang tuanya agar diizinkan untuk pindah studi ke Mesir.

POKOK-POKOK PIKIRAN HARUN: MODERNISME DAN ISLAM

Harun Nasution mengemukakan tiga prinsip dasar (basic philosophy) yang menjadi model pemikiran Harun Nasution. Ketiga prinsip dasar itu meliputi :
  1. Ide tentang kemajuan (Idea of Progress), merupakan kebalikan dari pandangan kejumudan/statisnya pemikiran tentang islam. Salah satu asumsi metafisika Harun Nasution adalah perubahan (being-as process-being as progress).
Oleh sebab itu, prinsip dasar pemikiran harus mengarah kepada ide kemajuan, karena dinamika pengetahuan selalu berkembang sesuai dengan perubahan zaman.
  1. Koeksistensi antara wilayah absolut-tektual (qath’i) dan relatif-kontekstual (zhanni) sebagai perkembangan ilmu pengetahuan dalam islam. Kategori qath’i (absolut) dan zhanni (relatif) bermula dari ushul fiqh.
Harun Nasution mengutip dan kemudian menambahkan muatannya dengan unsur filosofis. Namun, Harun Nasution tidak selamanya menggunakan istilah ini. Menurut Dawam Raharjo, diawal karir intelektualnya, frekuensi Harun Nasution menggunakan istilah ini mulai jarang dan lebih banyak menggunakan istilah absolut dan relatif.
  1. Perlawanan entitas secara oposisi biner antara rasional dan tradisional. Menurut Harun kalau ingin mengubah masa depan maka yang diformat ulang adalah cara berpikirnya. Metode berpikir rasional menyangkut cara kerja epistemologi. Rasional yang dimaksudkan Harun adalah rasional ilmiah, bukan rasional dalam pengertian “masuk akal”.
Rasional, rasionalisme, rasionalis bukan semata percaya pada rasio saja, tetapi harus mengutamakan sumber pokok ajaran islam yaitu wahyu Al Qur’an dan Hadis. Pemikiran tradisional, adalah model berpikir indonesia yang dikontruksi oleh model berpikir dinamisme Indonesia prasejarah. Menurut Harun Nasution pemikiran tradisional adalah pemikiran yang didalamya akal mempunyai kedudukan yang rendah. Sedangkan rasional adalah sebaliknya. Ketiga prinsip dasar tersebut menghasilkan suatu pemikiran tentang Modernisme dan Islam atau yang biasa disebut dengan Rasionalisme Agama Islam (Neo-Mu'tazilah). Modernisme Islam atau Rasionalisme Islam merupakan suatu konsep pembaharuan dalam Islam yang ditawarkan oleh Harun Nasution. Pemikiran rasional yang dimaksud Harun Nasution adalah rasional ilmiah yang agamis. Pemahaman Harun mengenai pembaharuan adalah terjemahan dari bahasa barat “modernisasi” atau dalam bahasa arab “tajdid” yang berarti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk menyesuaikan paham-paham keagamaan islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena bersifat ilmiah maka ia bersifat relatif. Arti rasional disiini berarti perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Harun Nasution yang ditulisnya dalam buku Akal dan Wahyu dalam Rasionalisme berpendapat bahwa proses pemikiran abstrak (rasional) dapat mencapai kebenaran fundamental yang tidak dapat diragukan. Beliau berpulang ke hadirat Tuhan pada 18 September 1998 di Kota Jakarta. Ia wafat pada usia hampir 79 tahun.     DAFTAR PUSTAKA http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/ilmu-ushuluddin/article/view/4844/3293 http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/intelektualita/article/view/1300/1059 Halim, Abdul. 2012. Teologi Islam Rasional Apresiasi terhadap Wacana dan Praksisi Harun Nasution. Jakarta: Ciputat Pers. Nasution, Harun. 1986. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI-Press. Nasution, Harun. 1987. Muhammad Abduh Teologi Rasional Mu’tazilah. Jakarta: UI- Press. Nasution, Harun. 1989. Pembaharuan Dalam Islam. Jakarta: UI-Press.   Penulis: Qoidatus Syari’ah/Internship Editor: Fahmi Idris/Internship

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X