• Jumat, 30 September 2022

Sinar Cahaya Iman

- Minggu, 15 Agustus 2021 | 14:44 WIB
haidan-RhkbHU14MoA-unsplash
haidan-RhkbHU14MoA-unsplash

Serbislam -- Bertambah mendalam makrifat kepada Allah dan tekunnya ibadah, bertambah teranglah sinar itu. Itulah yang kita maksud dengan “sinar cahaya iman”. Kekuatan ibadah kepada Allah adalah laksana penggosok sehingga sinar itu lebih bersih dan lebih cemerlang. Ahli-ahli tasawuf Islam mengatakan bahwa iman itu adalah qaulun wa’amalun, kata dan perbuatan. Fahuwa yazidu wa yaqushu. Ia dapat bertambah-tambah, tetapi ia pun dapat pula berkurang-kurang, sehingga habis sama sekali, hanya tinggal nama yang terletak dalam kartu penduduk! Nabi pun pernah mengibaratkan bahwa cahaya iman itu mempunyai pula ukuran biasa, ukuran tinggi, dan ukuran lebih tinggi. Dimisalkan seorang Mukmin berdiri di negeri Mekkah, cahayanya dapat bersinar jauh ke selatan, sampai ke Shan’k di negeri Yaman sampai ke utara di negeri Irak. Malahan ada yang lebih dari itu, cahaya yang meliputi seluruh muka bumi. Cahaya iman Muhammad meliputi seluruh langit dan bumi; dan cahaya Allah meliputi seluruh alam yang kelihatan dan yang gaib. Namun ada orang yang cahayanya hanya sekeliling dirinya, ada pula yang tidak bercahaya sama sekali. Dan ada yang dahulunya bercahaya, kemudian dicabut Allah cahaya itu karena dirinya telah dikotori maksiat.  

Dosa/Maksiat Menghilangkan Cahaya Iman

Oleh sebab itu, dosa atau maksiat sangatlah mudah mengotori dan menghilangkan cahaya iman. Dosa itu diumpamakan di dalam Al-Quran dengan bintik kecil yang mula-mula sekali hinggap ke dalam hati, sehingga di hati sudah mulai ada bintil kecil. Kita mesti segera berusaha membersihkannya supaya bintil itu lekas habis. Jangan dibiarkan datang pula bintil yang baru karena dosa yang baru pula, tanpa pembersihan. Takut kalau berturut-turut bintil itu datang, dan datang lagi, sehingga hati tadi akhirnya penuh dengan bintil hitam dan seluruhnya jadi hitam, yang menutupi cahaya yang akan keluar dari dalamnya. Pembersihan bintil yang mula-mula itu ialah tobat. Memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah terlanjur, dan dengan kekerasan hati menghentikan dosa yang sedang diperbuat sekarang, lalu berjanji di antara hari sendiri dengan Allah tidak akan berbuat lagi pada masa yang akan datang. Diperbanyak dan dikerjakan kebajikan berturut-turut sampai pengaruh dosa yang dahulu itu habis tertimbun oleh kebajikan yang diperbuat banyak-banyak itu. Dengan demikian cahaya itu timbul kembali. Bahkan dari sebab kesungguhan itu, besar kemungkinan cahayanya akan lebih berkilau, lebih cemerlang, dan lebih gemilang daripada yang dahulu. Cahaya iman itu bukan saja memberi cahaya hidup lahiriah yang sekarang, bahkan dapat memanjangkan umur dan membuat orang jadi kaya raya. Memang kita semua telah maklum bahwa umur dan usia yang telah ditentukan Allah tidak dapat ditambah lagi. Orang yang telah ditakdirkan berusia 60 tahun misalnya, tidaklah akan dapat ditangguhkan menjadi 60 tahun lewat sedetik dan tidak pula dapat dipercepat jadi 60 tahun kurang sedetik.  

Hidup menanamkan Kasih Sayang

-
Foto: unsplash.com/hasan almasi Demikian juga rezeki yang telah ditentukan 10 misalnya, tidaklah akan dijadikan 11 atau dikurangi menjadi 9. Semua sudah tertulis dengan pasti dalam Ilmu Allah. Namun dengan iman, bukan saja cahaya cemerlang jadi bertambah, bahkan umur dapat bertambah panjang dan rezeki dapat berlipat ganda jadi kaya raya. Yaitu nilai umur itu dipanjangkan dan nilai harta itu dipertinggi. Nabi Muhammad saw., ada bersabda, “Barangsiapa yang ingin agar umurnya itu berbekas panjang dan harta bendanya meluas lebar, hendaklah hubungkan silaturahim, artinya kasih sayang dengan sesama manusia.” Artinya di dalam hidup ini kita telah menanamkan kasih sayang atau cinta kasih, pastilah umur kita akan panjang, bahkan kadang-kadang lebih panjang dari usia itu sendiri. Kita telah lama mati, tulang telah hancur dalam kubur, tetapi umur masih ada. Yaitu karena jasa baik yang ditinggalkan, karena ilmu berfaedah yang diajarkan, karena anak-anak yang diberi pendidikan baik. Harta benda pun demikian pula. Ada orang yang kelihatan pada lahirnya ia kaya raya, tetapi ia miskin jiwanya dalam kesepian terus. Karena sahabatnya hanya hartanya itu saja, ia tidak berhasil sayang dengan sesama manusia. Orang tidak merasakan faedah dari hartanya yang banyak itu. Namun ada orang yang kekayaannya sederhana saja, tetapi ia kaya raya. Kaya dengan kasih sayang, kaya dengan handai taulan, kaya dengan budi yang ia tanamkan. Sudah lama ia meninggal dunia, tetapi budinya yang baik dikenangkan orang juga. Sama sekali ini ada pertaliannya dengan iman. Silaturahim hubungan kasih sayang yang didasarkan atas iman, itulah yang lebih kekal. Karena kesukaannya adalah lebih banyak memberi daripada menerima.  

Iman kepada Allah menumbuhkan cinta

Iman kepada Allah pastilah menumbuhkan cinta. Benci tidak dapat disertai oleh iman. Iman adalah memupuk kasih; iman tidaklah mengenal dendam! Itu sebabnya dari semula kita katakana bahwa manusia yang memperdalam kepercayaannya kepada Allah, bertambah lama bertambah cemerlanglah jiwanya. Dia mempunyai sinar cahaya iman, yang kian lama kian gemilang. Walaupun ia telah mati, cahaya itu masih tetap hidup dalam kecemerlangannya. Sumber: Buku “Kesepaduan Iman dan Amal Saleh” Karya Prof. Dr. Hamka, tahun 2016 Editor: dfalv        

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Kisah Ummu Salamah, Ibunya Orang-Orang Mukmin

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:00 WIB

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X