• Minggu, 14 Agustus 2022

Kesadaran Arti Hidup

- Minggu, 15 Agustus 2021 | 14:23 WIB
pexels-s-migaj-747964
pexels-s-migaj-747964

Serbislam -- Sebelum manusia sadar akan hubungannya dengan khaliknya, penciptanya, samalah keadaannya pada waktu itu dengan mati. Hidup belum berarti apa-apa kalau belum mempunyai kesadaran arti hidup. Sebab itulah maka Allah berfirman,  “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu….” (QS Al-Anfaal: 24) Sebelum seruan itu kita sadari, sama saja arti hidup kita dengan mati, karena hidup yang tidak berarti samalah dengan mati. Dapat lebih ditegaskan lagi bahwa kepercayaan kepada Allah itulah permulaan hidup; dan kehilangan kepercayaan sama saja artinya dengan mati. Kesadaran menyebabkan kita bangkit dari kelalaian. Kesadaran itu sangatlah mahal harganya dan sangatlah tinggi nilainya. Kesadaranlah yang menumbuhkan semangat dalam diri kita untuk melangkah lebih maju. Kalau kesadaran telah timbul, itulah puncak dari kemenangan. Karena dengan demikian kita tidak akan ragu-ragu lagi buat meneruskan perjalanan menuju tujuan yang telah nyata. Tidak lagi meraba-raba. Hati pun dikuatkan, segala rintangan dan halangan diatasi dan diampuni. Menurut panasnya kesadaran, begitu pulalah kerasnya kemauan. Namun, berhenti di tengah jalan kita tidak mau lagi. Apabila kita telah sadar, kita akan terus bepikir di mana aku, dari mana aku, dan akan ke mana aku dan sampai di mana perjalananku dan apa hasil yang sudah aku capai. Hati pun membulat teringat hanya kepada satu tujuan yang dituju, tidak dua dan tidak terbilang. dan mengetahui arti hidup. Dengan terang yang telah mulai tumbuh dalam hati, memberi sinar kepada pikiran, maka pandangan pun jadi jauh.  

Pandangan mata dan pandangan batin

-
Foto: pexels.com/plenio Pandangan mata dan pandangan batin. Di luar yang tampak alam, di batin yang tampak Allah Pencipta alam. Tampak janji baik dari Allah bagi barangsiapa yang taat akan perintah-Nya dan nampak jelas pula janji Allah sebagai ancaman bagi yang mendurhakai akan larangan-Nya. Tampak keistimewaan yang disediakan bagi barangsiapa yang mengingkari peringatan-Nya. Seakan-akan tampak jelaslah di mata hari itu hal-hal yang tidak tampak oleh orang lain, sampai kepada penerimaan insan di alam kubur, pertanyaan yang bertubi, ketenangan yang beramal menjawab, kegugupan yang durhaka menyelesaikan soal. Seakan-akan kedengaranlah seruan sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil dan bangunlah manusia dari alam kuburnya (bukan dari dalam kuburnya). Beduyun-duyun, beriring-iring, beribu, berlaksa dan berjuta, pergi ke Padangan Mahsyar, padang perhimpunan untuk dihisab, dihitung hisab dan pahala. Allah duduk di atas Kursi-Nya mempertimbangankan hukum dengan adil. Memberi ganjaran dari 10 kali lipat, bahkan sampai 700 kali lipat bagi amal yang saleh. Tetapi hanya memberi hukuman yang setimpal, tidak lebih bagi yang berbuat kejahatan dengan tidak melakukan tobat.  

Hari keputusan

Seakan-akan kelihatan pula mizan (timbangan)ditegakan, keputusan dikeluarkan, dan keputusan dibagikan. Ada yang menerima keputusan dari sebelah kanan, maka berbahagialah ia. Ada yang mendapat surat keputusannya dari sebelah belakang atau sebelah kiri, itulah pertanda celaka. Hutang pada waktu itu mesti dibayar dan piutang mesti diterima. Selesai pertimbangan digiringlah orang ke tempatnya masing-masing melalui sirat yaitu titian yang bernama “as-Sirathalmustakim”. Berjalanlah orang di atasnya, ada yang secepat kilat lalu saja, ada yang berjalan tenang meskipun lambat, tetapi selamat sampai ke seberang, dan ada lagi yang tegak dan bangun dan terhempas. Ada yang terhempas lalu tegak kembali dan ada yang terhempas lalu tidak bangun lagi, lalu jatuh lucut ke dalam api neraka, dari mana kelihatan api menjilat-jilat menunggu dan mengait mangsa. Di samping melihat hari depan atau yaumul qiyamah itu dengan pandangan batin, jalan yang akan ditempuh dalam hidup ini pun terang benderang kelihatan. Masa depan, kebahagiaan hidup lantaran iman, kegelapan muram lantaran kufur, semuanya jelas. Sebab, ada keyakinan bahwa apa yang telah ditentukan oleh Allah itu tidak ada yang dapat diubah oleh siapa pun jua. Sumber: Buku “Kesepaduan Iman dan Amal Saleh” Karya Prof. Dr. Hamka, tahun 2016 Editor: redaksi

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Kisah Ummu Salamah, Ibunya Orang-Orang Mukmin

Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:00 WIB

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X