• Selasa, 5 Juli 2022

Teladan Kisah Khadijah Istri Rasulullah, Perempuan ‘Luar Biasa’ (Part 1)

- Jumat, 6 Agustus 2021 | 03:00 WIB
masjid-nabawi-3341739_1920
masjid-nabawi-3341739_1920

Beliau adalah sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Al-Qursyuyah Al-Asadiyah. Dijuluki At-Thahirah yakni bersih atau suci. Lahir di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fiil (tahun gajah). Kisah Khadijah dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Dilansir dari bbc.com/Indonesia. "Dia benar-benar menembus batas. Bahkan perempuan modern pun ingin mencapai apa yang dia capai 1.400 tahun yang lalu." Demikian Asad Zaman, seorang imam dari kota Manchester (Inggris), menggambarkan Khadijah, perempuan yang lahir pada abad ke-6 di tempat yang sekarang disebut Arab Saudi. Dia adalah sosok yang dihormati, kaya, dan berkuasa, yang menolak banyak lamaran pernikahan dari bangsawan terkemuka. Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abi Halah bin Zurarah Ar-Tamimi yang membuahkan dua anak yang bernama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah Al-Mahzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai. Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau. Akan tetapi beliau lebih memprioritaskan perhatian untuk mendidik putra-putranya juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang wanita yang kaya raya.  

Teladan Kisah Khadijah binti Khuwailid

Suatu ketika beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya. Maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), maka beliau meminta Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya bernama Maisarah. Dan beliau memberikan barang dagangannya kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Allah menjadikan perdagangan tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka muncullah perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya. Namun beliau pesimis mengingat usianya yang sudah mencapai 40 tahun. Maka di saat beliau bingung dan gelisah, tiba-tiba muncul seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya. Dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Setelah itu terjadi percakapan antara Muhammad dengan Nafisah yang berisi tentang persetujuan Muhammad untuk menikahi Khadijah. Nafisah langsung menemui Khadijah dan Muhammad Al-Amin memberitahukan paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi Sayyidah Khadijah. Niat tersebut pun langsung terlaksanakan. Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad Al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami daripada kepentingannya sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengambil salah seorang dari putra pamannya Abu Thalib, maka Khadijah menyediakan suatu ruang bagi Ali bin Abi Thalib agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad SAW. Sumber: As-Sirah An-Nabawiyah oleh Ibnu Hisyaml Bersambung part 2  

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

The Real Supervision: IHSAN

Rabu, 25 Mei 2022 | 20:54 WIB

Kisah Inspiratif Ibnu Abbas Saat Itikaf

Jumat, 20 Mei 2022 | 17:00 WIB

Abdullah bin Abbas, Guru Umat yang Terpelajar

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:00 WIB
X