Ngaderes.com – Salah satu cara yang dilakukan untuk menentukan Hari Raya Idul Fitri dilakukan dengan melihat hilal. Pada masa Nabi Muhammad dan beberapa tahun setelahnya, bulan baru sangat mudah ditentukan. Dalam kalender Hijriah, perhitungan hari dimulai saat matahari tenggelam atau saat waktu magrib. Jadi, kita hanya tinggal menanti matahari terbenam di hari ke-29 dan mencari kemunculan bulan sabit untuk menentukan 1 Syawal.

Fakta alam berkenaan dengan hilal bulan

Dalam prosesnya, bulan membutuhkan waktu mengitari bumi selama 29,531 hari atau hampir 29,5 hari. Maka itulah kenapa pilihan yang tersisa hanya tinggal dua untuk durasi hari dalam satu bulan. Kalau tidak 29 hari berarti 30 hari. Tinggal kecenderungan mana yang lebih berat pada jelang matahari terbenam di hari ke-29.

Saat ini, alam bersifat tidak konstan. Ia cenderung mengalami perubahan dan membuat hilal menjadi tidak mudah terlihat. Hal ini disebabkan karena hanya sekitar 1,25% bagian dari permukaan bulan saja yang terkena paparan sinar matahari. Alhasil, penampakan bulan dari bumi hanya seperti garis lengkung tipis saja.

Terlebih, kondisi saat hilal akan terlihat adalah ketika langit masih dalam keadaan terang di waktu magrib. Kadang-kadang cahaya bulan akan kalah dengan berkas cahaya matahari, sehingga membuat hilal terlihat samar. Terkadang pula langit terlalu mendung, hingga hilal sulit dilihat.

Di sisi lain, hilal juga hanya muncul sebentar. Sekitar 15 menit sampai 1 jam sebelum akhirnya ikut tenggelam juga bersama matahari karena gerak rotasi bumi lebih cepat daripada gerak revolusi bulan. Untuk terlihat, hilal paling tidak harus berada di sudut azimut lebih 2 derajat dari matahari [1].

Dengan kata lain, bulan harus ada di atas matahari. Jika kurang dari itu maka dilihat dari bumi, bulan akan terlihat sejajar dengan matahari, dan itu akan membuat hilal seketika ikut tenggelam saat langit mulai sedikit gelap.

Posisi ini dinamakan ijtimak. Posisi yang jika dilihat dari luar angkasa, bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus. Karena berada dalam garis lurus, bulan tidak akan bisa terlihat dari bumi karena terlalu dekat dengan matahari.

Untuk mencapai sudut azimut 2 derajat, paling tidak diperlukan waktu 8 jam bulan beredar selepas ijtimak terjadi. Selain sudut azimut, sudut elongasi juga punya batas minimal agar bisa dilihat. Sudut yang menggambarkan jarak antara matahari dan bulan dari bumi.

Dengan kata lain, jika sudut azimut adalah posisi bulan di atas matahari, maka sudut elongasi adalah posisi bulan di arah kiri/kanan matahari. Artinya, semakin lebar sudutnya, maka hilal akan semakin mudah dilihat. Sebaliknya, semakin kecil sudutnya, maka akan semakin sulit juga hilal bisa dilihat.

Jarak ideal mata telanjang bisa melihat hilal adalah 7 derajat. Kurang dari itu maka diperlukan alat bantu teleskop. Batas penggunaan alat ini pun ada batasnya pada sudut 3 derajat. Kurang dari itu hilal tidak akan terlihat karena terlalu dekat dengan matahari.

Metode Hisab Dalam Penentuan 1 Syawal

Karena rukyatul hilal memiliki banyak keterbatasan maka berkembanglah metode hisab. Metode yang bermakna menghitung (‘adda), kalkukasi (akhsha), dan mengukur (qaddara). Hisab berarti menghitung pergerakan posisi hilal di akhir bulan untuk menentukan awal bulan—khusus—seperti Ramadhan atau Syawal.

Secara sederhana perbedaan ini terletak pada konsep wujudulhilal (keberadaan hilal) bagi golongan yang menggunakan metode hisab murni. Artinya, tafsir soal “melihat hilal” dipahami sebagai melihat tidak harus dengan mata kepala tetapi juga bisa menggunakan ilmu. Dengan hisab, posisi hilal akan bisa diprediksi ada “di sana” sekalipun wujudnya tidak terlihat. Barangnya ada, tapi tidak terlihat.

Dua metode ini adalah gambaran. Dengan metode hisab, para ulama mencoba menggunakan pendekatan rasional. Melihat pola, membacanya, lalu menyusun prediksi-prediksinya. Semua dilakukan dalam rumus-rumus. Sedangkan metode rukyat merupakan pendekatan empirik. Bagaimana pengalaman menyaksikan tanda-tanda alam adalah penentu sebuah hukum syariat berlaku.

Pada akhirnya, seperti yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode ini secara bersamaan. Pendekatan rasional dengan hisab dan pendekatan empirik dengan rukyat.

Metode hisab digunakan untuk menghitung kemungkinan wujud hilal dan posisinya, lalu dengan metode rukyat dikonfirmasi keberadaan hilal). Jika dalam konfirmasi ini hilal tidak terlihat, maka sesuai hadis yang digunakan dasar para perukyat, “jika tertutup (tidak terlihat), maka genapkanlah”—bahkan sekalipun hilal memang benar-benar ada di sana.

Untuk mengantisipasi beragam fenomena alam yang terjadi, metode hisab diperkuat pula oleh madzhab sebagian ulama yang memakai metode hisab. Di antaranya Mutarrif bin Abdullah Asy-Syikhkhir (w. 87 H) dari kalangan kibarut-tabi’in, Abul Abbas bin Suraij (w. 306 H) dari kalangan Asy-Syafi’iyah, dan Ibu Qutaibah (w. 276 H) dari kalangan muhadditsin.

Maka, ahirnya kita paham hilal dan hisab itu seperti apa, bukan?

(sae)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here