mendapat jodoh memantaskan diri

Ngaderes.com – Bicara jodoh ibarat meminum air lautan, tidak akan ada habisnya. Mulai dari anak-anak hingga kalangan lansia, terlebih pada kaum muda. Kata jodoh memang menjadi perbincangan sehari-hari.

Pernahkah kita mendengar sebuah pernyataan “Ah mau hijrah, biar dapat jodoh yang baik dan soleh”. Pernyataan ini seketika memang tidak terlalu penting untuk didengarkan. Tetapi, ada kata yang tidak tepat untuk disandingkan, yakni kata ‘hijrah’ dan ‘jodoh’.

Padahal, hijrah itu pilihan, sedangkan jodoh itu ketentuan. Seperti pepatah ” Menyelam sambil minum air”. Begitulah jodoh. Jangan dijadikan sebagai tujuan utama, tetapi jadikanlah ia sebagai bonus dari kita berhijrah.

Bukankah kita akan melakukan suatu perbuatan tergantung pada niat kita? Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw :

” Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang tergantung pada apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia, maka baginya apa yang diniatkannya atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diinginkannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Pasti tidak asing lagi ketika penyataan jodoh itu Cerminan Dirimu. Untuk mendapatkan jodoh yang sesuai dengan diri kita, maka salah satu caranya bukan dengan sibuk mencari “Siapa jodoh saya?” Tetapi dengan sibuk memperbaiki diri sendiri.

Ketika jodoh yang datang tidak sesuai dengan ekspektasi, maka yang harus dilakukan adalah muhasabah diri. Mungkin, selama masa pencarian atau penantian kita malah terlalu memikirkan kriteria-kriteria yang akan dicocokkan dengan calon pasangan. Hingga akhirnya jangan menyesal jika yang datang tidak sesuai dengan harapan hati.

Berikut adalah hal-hal yang harus dipersiapkan pada fase menjemput calon pasangan:

  • Tidak menghalalkan Pacaran
  • Memperbanyak ibadah Sunnah setelah ibadah wajib
  • Mengikuti kajian dengan mendatangi majlis ilmu atau via online
  • Memperbanyak sedekah
  • Mengikuti kajian/seminar pra nikah
  • Perlu diingat, bahwa tidak akan ada laki-laki ataupun wanita yang sempurna
  • Tawakal

Jangan pula beranggapan bahwa kita akan memperbaiki diri setelah menikah nanti. Boleh saja, asalkan kita harus menyiapkan mental dan segalanya lebih ekstra. Berbeda dengan orang yang mau belajar ilmu pra nikah sebelum akad, ketika telah sah menjadi istri atau suami ilmu tersebut tinggal dipraktikkan. Sedangkan yang baru belajar ilmu pernikahan setelah akad, akan terasa sulit dan banyak rintangannya. Jika seorang istri belum baik, masih ada suami yang akan mengajarinya.

Untuk itu, alangkah baiknya jika sebagai calon suami/istri memperbaiki diri dengan khazanah keilmuan agar nanti tercipta keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.

 

Penulis : Yanti Nurfitroh
Editor : Annisa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here