Laskar Pelangi
Foto: Isma Aniatsari/Ngaderes.com

Ngaderes.com – Hari kedua kami berkendara menuju replika sekolah Laskar Pelangi yang terletak di Kabupaten Belitung Timur. Dari Tanjung Pandan, dibutuhkan berkendara sekitar dua jam lebih menuju salah satu icon Pulau Belitung ini. Ditambah hujan yang terus turun, perjalanan yang kami lalui tidaklah mudah. Beberapa kali kami harus berteduh karena hujan mengguyur sedangkan jas hujan yang kami miliki hanya tiga sedangkan kami berlima.

Bosan dengan hujan yang turun terus-menerusan, kami pun nekat menerobosnya. Jangan harapkan ada minimarket atau warung yang bisa kita temukan dengan mudah untuk membeli jas hujan. Rasanya bisa menemukan rumah warga untuk berteduh saja sudah Alhamdulillah.

Baca juga: Menelusuri Keindahan Panorama Pulau Belitung

Jalanan yang dilalui menuju Belitung Timur ini kebanyakan hanya rawa, perkebunan sawit hingga padang ilalang. Di hari biasa mungkin itu akan tampak mengagumkan, tapi saat hari hujan, sungguh membuat nelangsa.

Hambatan Panjang Menuju Sekolah Laskar Pelangi

Sambil mengendara dalam kecepatan tinggi, badanku menggigil ketika tetes demi tetes air hujan merembas memasuki pakaianku, ditambah lagi angin menderu membuat tanganku kebas dan bibirku pucat.

Untunglah kami sampai di area replika sekolah Laskar Pelangi saat hujan reda. Tiket masuk yang dipatok hanya sebesar lima ribu rupiah. Apakah perjalanan panjang yang melelahkan kami terbayar?

Awalnya kami hanya tertawa dan bergurau ‘Begini doang? Haha. Yuk balik lagi!’. Memang. Sebagaimana yang sudah kita ketahui, Replika Sekolah Laskar Pelangi ini hanya bangunan sekolah seadanya yang dibuat dari jalinan kayu-kayu bekas dengan beratapkan seng yang sudah berkarat. Berdiri di atas pasir berwarna putih, bangunan yang hanya terdiri atas dua ruang kelas dan satu ruang guru itu tampak biasa saja di mataku. Hanya salah satu dari banyak sekolah tertinggal yang pasti banyak kita temui di banyak daerah di tanah air.

Tapi, dari sekolah kecil ini lah seorang sastrawan besar Indonesia lahir. Sekolah inilah yang menjadi saksi dimana seorang anak mengukir cerita yang kelak dikenal dunia.Ya, dialah Andrea Hirata. Lewat karya besarnya dalam buku dan film Laskar Pelangi, dia bisa menjadikan sekolah amat sederhana ini menjadi icon Pulau Belitung. Kini orang-orang mengenal Pulau Belitung, kini orang-orang dari berbagai daerah berdatangan hanya untuk melihat secuil saksi perjalanannya.

Andrea Hirata, sosok anak kampung yang namanya tak henti disebut oleh penduduk Belitung dengan rasa bangga.

Reporter: Isma Aniatsari
Editor: Intan Resika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here