Ngaderes.com– Segudang aktivitas seharian rasanya membuat penat sekali, perlu adanya penyegaran hiburan rupanya. Menonton sebuah film sepertinya menjadi ide yang bagus untuk membayar kepenatan diri. Setelah membersihkan diri dan menunaikan shalat maghrib, adalah waktu yang tepat untuk memulai menonton film.

Mulailah berselancar mengakses youtube, memilih film yang tersaji di layar laptop. Banyak genre film di sana, mulai dari romansa, sejarah, horor, aksi, petualangan, hingga religi. Genre religi sepertinya menjadi pilihan yang terbaik saat ini untuk di tonton. Diputarlah film yang pernah ramai diperbincangkan, yakni film ‘Ayat-ayat cinta 2’.

Masih ingatkah kita, saat peristiwa besar yang terjadi pada 11 September 2001 di World Trade Center atau yang lebih dikenal WTC tepatnya di New York City, tragedi besar yang menyisakan citra negatif pada ajaran Islam hingga saat ini. Saat peristiwa itu terjadi, terdapat pro dan kontra mengenai penyebabnya, namun banyak fakta yang menguatkan bahwa peristiwa tersebut merupakan sejarah terorisme paling kelam di dunia. Hampir 3000 jiwa terenggut nyawanya dan 19 orang teroris di nyatakan bunuh diri dalam peristiwa tersebut. Akibatnya, dampak terhadap umat muslim yang merupakan minoritas di negara sana dipandang sebelah mata, bahkan diikuti dengan  munculnya anti Islam (Islamophobia).

Dalam film Ayat-Ayat Cinta 2 yang sedang diputar, menggambarkan betapa bencinya orang yahudi terhadap umat muslim. Semua umat muslim dipandang sebagai seorang teroris bahkan pembunuh, dan ajaran Islam sendiri dikenal sebagai ajaran yang radikal. Islam telah kehilangan citranya sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin, dan Islam yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Kontras dengan situasi yang ada, Fahri dalam film ini memerankan sosok muslim yang  sangat memanusiakan manusia. Ia menjunjung tinggi nilai dan ajaran Islam itu sendiri. Usaha yang ia lakukan untuk membersihkan citra negatif Islam sungguh mulia, dimana ia dengan ringan tangan selalu menolong tetangganya yang hampir seluruhnya adalah non muslim. Harta, tenaga, bahkan buah fikiran ia kerahkan. Tidak jarang, Fahri mendapat berbagai cercaan dan celaan, mulai dari dianggap sebagai seorang teroris, seorang pembunuh, tidak sedikit membuatnya mundur dalam membantu sesama. Sempat pula Fahri menjadi seorang narasumber dalam acara debat, dan ini menjadi ajang Fahri dalam membersihkan citra negatif Islam yang melekat pada warga sekitar. Sikap toleransi pun sangat jelas tergambar dalam diri Fahri di film ini, saat dimana adegan Fahri mengantar seorang nenek tua untuk beribadah di gereja.

Kebanyakan film hanyalah sebuah karya fiksi, namun di dalamya pasti mengandung nilai positif yang seharusnya bisa menjadi cerminan bagi kehidupan. Seperti halnya dengan film ini, seandainya sifat tokoh Fahri adalah gambaran umat Islam dewasa ini, maka tidak menutup kemungkinan, akan tercipta suasana Islam yang penuh kedamaian, Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan Islam menjadi ajaran yang penuh dengan toleran.

Allah telah memberikan potensi agama Islam sebagai agama yang moderat. Moderasi menjadi jawaban atas salah satu masalah yang dihadapi di tengah peradaban dan kasus kemanusiaan dewasa ini.  Quran Surat Al-Baqarah ayat 143 menjadi rujukan mengenai bahasan mengenai moderasi. Ayat ini lebih merujuk kepada umat Islam untuk menjadi moderat. Kenapa umat Islam? Bukan agama Islam? Karena, Islam sudah pasti moderat, ajaran Islam itu moderat. Sehingga Islam tidak perlu dimoderasi kembali. Umat Islam sendiri yang perlu diupayakan untuk menjadi moderat. Umat dan agama jelas berbeda, jika kita ingin melihat Islam itu moderat jangan dilihat dari umatnya, tapi dari ajaran Islam itu sendiri. Sebagai contoh, ada umat yang beragama Islam tapi tidak menerapkan ajaran agama Islam itu sendiri, dan tidak menutup kemungkinan umat-umat agama lain yang justru menerapkan ajaran agama Islam.

“Aku melihat Islam di Paris, tetapi tidak melihat muslim, dan aku melihat muslim di Kairo tetapi tidak melihat Islam” Ungkap Syeikh Muhammad Abduh salah satu tokoh pembaharu Islam di Mesir, saat ia berkunjung ke Paris dan Kairo. Bukan jaminan, ketika negara yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam, maka orang-orangnya belum tentu akan berperilaku Islam.  Ia melihat suasana Paris, orang-orangnya begitu disiplin, ramah, dan bersih kotanya. Karena kedisiplinan, keramahan, serta kebersihan adalah sebagian dari ajaran Islam yang diterapkan di negara Paris, yang notabene minoritas penganut agama Islam. Sementara negara-negara yang mayoritas penganut agama Islam, justru terperosok perilaku dan akhlaknya.

Melihat peradaban saat ini banyak yang telah terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran yang ekstrim. Sejatinya, peradaban itu tidak selalu identik dengan sebuah kebudayaan atau gaya hidup. Akan tetapi peradaban dapat juga berkaitan dengan ideologi atau pemahaman. Hal ini tidak luput menjadi penyebab utama adanya kegaduhan dalam diri umat beragama. Ekstrimisme merupakan keadaan atau tindakan menganut paham ekstrem berdasarkan pandangan agama, politik, dan sebagainya. Sikap ekstrem ditandai dengan terlalu fanatiknya terhadap suatu golongan, agama, politik atau suatu ideologi. Mereka banyak beranggapan bahwa hanya golongannyalah yang paling benar.

Bila kita melakukan pendekatan secara studi kasus, banyak terjadi kasus-kasus yang berkaitan dengan ekstremisme yang menyangkut kemanusiaan. Sebagai contoh, sudah banyak diketahui terjadi pembantaian massal manusia di Rohingya, Palestina, Suriah dan Mesir. Beberapa waktu lalu  terjadi insiden bom bunuh diri dengan dalih Jihad Fisabilillah. Kasus yang disebutkan di atas memang sangat pelik untuk diselesaikan, perlu adanya reformasi secara besar-besaran terhadap pemahaman umat tentang ajaran agama Islam, sehingga tidak terjadi penyalahgunaan pada akhirnya.

Islam adalah agama kemanusiaan, Islam mengajarkan kita tentang persaudaraan. Dalam Islam tidak hanya mengatur mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhannya (Hablumminallah), tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya (Hablumminannas). Tidak hanya itu, Islam juga mengajarkan tetap memelihara lingkungan dan menolak keras perilaku perusakan bumi.

Jika hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Konkritnya masalah seperti ini harus segera dipecahkan secepatnya, meskipun dianggap sulit, karena kita tidak akan bisa memberantas sampai ke akarnya. Ekstremisme diumpamakan sebagai tanaman cendana yang menumpang hidup di pohon mangga, meskipun sudah dipangkas akan tetap tumbuh kembali.

Moderasi menjadi jawaban atas semua permasalahan ini, dan agama Islam terlahir menjadi agama yang moderat. Setidaknya, tindakan tidak berperikemanusiaan akan berkurang dengan sikap toleransi yang tinggi disertai moderasi, yang mana setiap ada permasalahan terjadi akan selalu mengambil jalan tengah tanpa memihak kubu manapun. Mengingat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk, sikap adil dalam hal ini sangat diperlukan seperti dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 143.

Sebagaimana ditafsirkan dalam tafsir Al-Qurthubi وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا  “Dan demikian (pula),  Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam) umat yang adil dan pilihan.” Makna dari firman Allah ini adalah, sebagaimana Ka’bah merupakan tengah-tengah bumi, maka demikian pula kami pun menjadikan kalian umat pertengahan. Yakni, Kami jadikan kalian dibawah para nabi tapi diatas umat-umat (yang lain). Makna Al-Wasath adalah adil. Asal dari kata ini adalah yang pertengahan.

Dengan begitu, memperlakukan semua manusia harus sama rata, sama rasa, dengan mengesampingkan apakah dia miskin atau kaya, pejabat atau rakyat, perbedaan warna kulit, ras dan bangsa, karena dihadapan hukum semuanya sama.  Keseimbangan dalam melihat hal apapun harus dilakukan, tidak boleh memihak pada satu kubu, atau terlalu ekstrem pada salah satu kutub. Karena dengan cara inilah kita bisa menjadi umat yang penuh rasa toleran yang tinggi dan akan menjadi umat yang moderat.

 

Oleh : Widya Nur Erviana

Editor: Isma A

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here