Oleh : Nia Yuniati

Ngaderes.com,- Tepat pada tanggal 28 Oktober lalu, di beberapa lokasi mengadakan upacara peringatan hari besar nasional. Yap, di tanggal tersebut ada momen penting bersejarah yang sudah selayaknya dijadikan pemantik bagi para muda mudi saat ini, agar bisa menjadi penggerak perubahan di zamannya, bukan hanya bergelut dengan romantika masa lalu. Itulah momen dibacakannya Sumpah Pemuda.

Bicara tentang Sumpah Pemuda, pastinya banyak orang yang terlibat hingga bisa sampai pada hari dibacakannya isi dari Sumpah itu tersendiri. Dari sekian banyak tokoh tersebut, ternyata jika mengacu pada pencarian Google, banyak sekali  riwayat pencarian berlabuh pada Moh. Yamin, ialah sekretaris pada Kongres II Sumpah Pemuda. Tapi, sesungguhnya selain beliau, ada satu sosok kunci yang tak kalah penting dalam terselenggaranya kongres tersebut. Mungkin juga sudah sedikit dilupakan. Jangankan tokohnya ya, barangkali saja momentum Sumpah Pemuda nya pun tak tahu atau bahkan tak diingat.

Nah, satu tokoh ini, menurut beberapa sumber dikatakan bahwa beliau adalah sosok yang sangat cerdik dalam kiprah nya di dunia politik Indonesia. Memperjuangakan dari sebelum kemerdekaan hingga saat sudah merdeka, beliau lah MASYUDUL HAQ atau kita kenal sekarang KYAI HAJI AGUS SALIM.

Kyai Haji Agus Salim berasal dari keluarga yang cukup terpandang kala itu. Beliau lahir di kota Gadang, pada 3 Oktober 1884. Ibunya Siti Zainab dan ayahnya Sutan Mohammad Salim yang pernah menjabat sebagai Jaksa Kepala di Riau dan Medan, sehingga bisa memberikan akses yang mudah dalam mendapat pembelajaran bagi Agus Salim kecil. Pendidikan yang ditempuh nya di Europeesche Lagere School (ELS)- Sekolah Dasar Belanda dan juga di Hogere Burgere School (HBS) di Batavia ternyata sedikit banyak memberikan dampak terhadap pemikiran Agus Salim dewasa kelak. Sepanjang bersekolah di dua sekolah tersebut, Agus Salim menjadi lulusan terbaik di HBS se –Hindia Belanda dan mendapatkan beberapa keahlian dalam berbahasa, bahkan hingga ada 6 bahasa yang dikuasainya yakni Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Arab, Turki, dan Jepang. Tapi, meski demikian Agus Salim remaja tidak ingin melanjutkan lagi pendidikan nya di sekolah Belanda tersebut, hingga akhirnya beliau memilih untuk belajar sendiri. Menurut beberapa sumber juga, anak-anaknya K.H. Agus Salim juga tidak dimasukkan ke sekolah umum, dan lebih memilih untuk menempuh jalan pendidikan yang sama dengan Agus Salim remaja, yaitu diajari di rumah. Jadi bukan hanya pembelajaran umum saja yang didapat, melainkan pelajaran agama pun bisa sekaligus dipelajari.

Karir Politik

K.H. Agus Salim memulai jejak karir politik nya bersama dengan Sarekat Islam (SI) yang diketuai oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto (H.O.S Tjokroaminoto), namun jauh sebelum bergabung SI, banyak sekali pekerjaan yang sudah dilakukan oleh Agus Salim. Mulai dari jadi pembantu notaris, kemudian menjadi penerjemah, dan pada tahun 1906 diberangkatkan ke Jeddah oleh seorang administrator kolonial unutk mengurusi berbagi hal administrasi keberangkatan haji di konsulat Belanda. Di sana pulalah Agus Salim mendaptkan pemahaman Islam dari sang paman, yaitu Syekh Ahmad Khatib, serta mendapat berbagai asupan mengenai islam modernis dari beberapa pemikiran seperti Muhammad Abduh dan Jamaludin Al-Afghani dari buku-buku yang dipelajarinya. Selain mempelajari tentang agama Islam, beliau pun tak luput juga mempelajari mengenai seluk-beluk diplomasi Internasional yang ternyata akan sangat berguna baginya untuk membantu kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1911, kemudian Agus Salim kembali ke tanah air, bekerja di Bergerlijke Openbare Werken (pekerjaan umum), namun tak bertahan lama. Karena kebiasaannya berganti-ganti pekerjaan, akhirnya pada tahun 1912 Agus Salim pulang ke Gadang dan mendirikan sekolah Hollandsche Indische School (HIS), beliau mengasuh sekolah ini sampai pada tahun 1915.

Bergabungnya Agus Salim ke Sarekat Islam ini ternyata ada sedikit perbedaan dari beberapa sumber. Salah satu sumber menyatakan, bahwa beliau bergabung dengan SI pada tahun 1911, setelah kembalinya beliau dari Jeddah, dan di sumber lain dikisahkan bahwa beliau masuk ke SI di tahun 1915 setelah beliau bergabung terlebih dahulu dengan Politieke Inlichtingen Dienst -PID (Polisi Politik) pada jaman kolonial, dan katanya pada masa itu, ketika ramainya isu mengenai akan adanya pemberontakan yang akan dilakukan oleh SI. Berkat hubungan baiknya dengan PID, maka Agus Salim diminta untuk ikut serta dalam proses penyelidikan mengenai hal tersebut. Namun, ketika penyelidikan berlangsung, setelah Agus Salim bertemu dengan H.O.S. Tjokroaminoto, ali-alih melaporkan balik kepada PID, Agus Salim justru malah terpikat pada pemikiran, pemahaman, serta tindakan H.O.S Tjokroaminoto dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat nusantara. Dan dari sana, Agus Salim pun memulai karir politik nya dan membantu H.O.S Tjokroaminoto dalam membangun Sarekat Islam, berkat pemikiran cerdasnya pula Agus Salim dengan cepat dikenal namanya oleh anggota SI. Kemudia pada tahun 1919, dikatakan bahwa Agus Salim bersama Semaun juga berhasil membangun Persatuan Pergerakan Kaum Buruh, untuk mendesak pemerintah Hindia-Belanda agar segera membentuk Dewan Perwakilan Rakyat.

Tak berhenti di sana, berkat kepekaannya dengan situasi negeri yang akan mengedepankan kepercayaan, juga mayoritas menganut kepercayaan Islam, maka Agus Salim berpikir untuk membangun persatuan umat, Agus Salim melontaskan gagasan tentang pembentukan Pan Islamisme. Dalam Kongres Al Islam di Garut tahun 1924 yang diadakan berkat kerjasama antara SI dan Muhammadiyah. Agus Salim menguraikan fungsi agama dan ilmu pengetahuan serta hubungan antara Islam dan sosialisme. Dikatakannya bahwa dalam Islam sebenarnya sudah terkandung unsur-unsur sosialisme, bahkan Islam sudah lebih dahulu mengajarkan sosialisme daripada Marx dan Engels, beliau menganjurkan pula agar para cendekiawan Islam mempelajari ilmu-ilmu sosial, supaya mereka mampu menunjukkan unsur-unsur sosialisme dalam Islam.

Berkenaan dengan persatuan umat Islam, bukan hanya saja ditempuh oleh Agus Salim di dalam Sarekat Islam, tapi beliau pun juga didaulat selaku penasehat dari Jong Islamieten Bond oleh penggagas perkumpulan tersebut sekaligus juga murid binaan Agus Salim, yakni R. Sjamsoeridjal (Sam). Jong Islamieten Bond yang merupakan salah satu perkumpulan anak muda pada sekitar tahun 1924 juga menginisiasi untuk disegerakannya pergerakan pemuda pada saat itu. Selain menjadi penasehat di Jong Islamieten Bond, Agus Salim pun sangat dihormati oleh berbagi perkumpulan pemuda (Jong Bond) pada saat itu. Karena sejatinya, Jong Islamieten Bond terbentuk dari beberapa anggota yang mendirikan Jong  yang lain. Dari sini, maka para pemuda segera melakukan pembahasan terakit dengan akan dibuatnya Sumpah Pemuda, untuk membantu pergerakan perjuangan kemerdekaan. Hingga akhirnya setelah melalui perjuangan yang tidak sebentar, para pemuda melakukan pergerakan dengan mengumpulkan perwakilan dari setiap daerah untuk segera menyelenggarakan Kongres I pada tahun 1926. Selain itu pula, beliau sempat menolong Sugondo Djojopuspito ketua PPPI dan Ketua Kongres Pemuda II yang sempat akan ditangkap oleh Belanda. Setelah kongres I berhasil digelar, kemudian dilanjut dengan perumusan untuk mengadakan kongres ke dua, dan disana pula dibacakannya isi dari Kongres yaitu, Sumpah Pemuda.

Beralih kembali dengan jejak perjuangan Agus Salim dalam memerdekakan bangsa. Dalam memperjuangkan kemerdekaan ini, jalan politik yang ditempuh Agus Salim pastinya tidak hanya satu jalan saja, tapi begitu banyak jalan. Mulai dari cara kooperatif sampai akhirnya karena tidak menemukan kesepakatan bersama, maka cara kompromi pun tidak dijalani lagi oleh beliau. Perbedaan ideologi menjadi salah satu hal yang dipertimbangangkan dalam menempuh keputusan tersebut.

Semakin banyaknya keterlibatan K.H. Agus Salim di kancah perpolitikan negeri, SI akhirnya berganti menjadi sebuah partai pada tahun 1929. Kemudian karena keberadaan partai-partai yang ada dirasa sudah sangat mengancam, termasuk SI itu sendiri. Sampai akhirnya, pada tahun 1930 pemerintah Hindia-Belanda melakuakn “Politik Tangan Besi”, yakni menumpas para pemimpin partai kala itu. Maka, K. H. Agus Salim menempuh kembali jalur diplomasi dengan pemerintah, sehingga Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) masih bisa melakukan pergerakan.

Pergerakan perpolitikannya sempat terhenti ketika adanya pembubaran SI, hingga memilih untuk menjadi rakyat biasa. Namun, ketika Ir. Soekarno berhasil membangun kerjasama dan bisa mendeklarasikan mengenai kemerdekaan, maka beliau dipanggil kembali untuk bsia ikut membantu Ir. Soekarno untuk memperkuat kemerdekaan Indonesia yang sudah tergaung.

Akhir Hayat

Kelihaiannya dalam berdiplomasi hingga membuahkan julukan dari berbagai duta luar sana, dialah ‘The Grand Old Man’ Indonesia yang begitu luar biasa. Kehidupan yang dijalani oleh beliau tidaklah biasa. Berasal dari keluarga terpandang, segala berkecukupan, hingga bekerja dengan gaji yang luar biasa, juga pernah memilih untuk melepaskan segala kekayaan yang ada demi membantu Bapak Bangsa memerdekakan rakyat. Keberhasilan di bidang politik, pers, dan kehidupan pribadinya sangat bisa dijadikan contoh tauladan yang baik.

Dari pemikiran dan keberaniannya, beliau bisa memnatik semangat anak muda untuk terus dan tetap bergerak demi rakyat dan tuhan. Hingga akhirnya setelah peninggalan jejak yang begitu luar biasa, beliau meninggalkan dunia ini pada tahun 1954, dan tercatat sebagai pahlawan nasional pada tahun 1961.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here