• Selasa, 31 Januari 2023

Menelusuri Jejak Prasejarah di De Tjolomadoe

- Rabu, 5 Oktober 2022 | 12:00 WIB
Menelusuri Jejak Prasejarah di De Tjolomadoe (indonesia.go.id)
Menelusuri Jejak Prasejarah di De Tjolomadoe (indonesia.go.id)

ngaderes.com - De Tjolomadoe ternyata juga mempunyai kisah sendiri, sempat mengalami kejayaan di abad 19 sampai awal abad 20 sebagai produsen gula terbesar Asia.

Simak cerita lengkapnya seperti dilansir dari situs resmi indonesia.go.id. Memasuki ruangan gedung De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, serasa memasuki lorong waktu. Pengunjung disuguhi ragam koleksi benda dan artefak prasejarah Nusantara. Benda yang dipajang dalam Pameran “Kampung Purba”, antara lain, replika hewan zaman purba dan sejumlah peralatan prasejarah.

Benda-benda prasejarah yang ditampilkan dalam pameran merupakan koleksi dari 16 instansi Balai Pelestarian Cagar Budaya yang ada di Indonesia, mulai dari Sangiran, Aceh, Sumatra Barat, Banten, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Ternate, Museum Geologi Bandung, hingga Museum Nasional Indonesia.

Ajang ini merupakan agenda Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bertajuk pameran prasejarah “Jejak Peradaban Prasejarah di Nusantara”. Pameran dibuka secara resmi pada 17 September 2022 di De Tjolomadoe dan berlangsung hingga 24 September 2022.

De Tjolomadoe ternyata juga mempunyai kisah sendiri. Gedung tersebut merupakan bekas pabrik gula (PG) Colomadu yang didirikan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV. Sempat mengalami kejayaan di abad 19 sampai awal abad 20 sebagai produsen gula terbesar Asia.

Sampai kemudian pada 2018 dibuka kembali setelah direvitalisasi oleh Kementerian BUMN. Keberadaannya kini menjadi pusat budaya, ruang konser, ruang unjuk karya kreatif, komersial area berisi tenant food and beverage yang bisa digunakan untuk nongkrong kawula muda Joglosemar (Jogjakarta, Solo, dan Semarang).

Pameran prasejarah tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaataan Kebudayaan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Museum Geologi Bandung, Balai Pelestarian Cagar Budaya seluruh Indonesia, Museum Nasional, Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I Yogyakarta, dan Balai Konservasi Borobudur.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Iskandar Mulia Siregar, Pameran “Kampung Purba” berisi refleksi rekonstruksi kehidupan masa prasejarah dalam bentuk kampung yang terbagi dalam beberapa klaster.

“Setiap klaster menyajikan cerita tentang cara hidup dan beradaptasi manusia hingga tercipta sebuah peradaban yang khas dari masa ke masa,” ujar Iskandar, Sabtu (17/9/2022).

Halaman:

Editor: Dita Fitri Alverina

Sumber: indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menelusuri Jejak Prasejarah di De Tjolomadoe

Rabu, 5 Oktober 2022 | 12:00 WIB

Transformasi Batavia Menjadi DKI Jakarta

Senin, 12 September 2022 | 12:00 WIB

Ini Ternyata Asal Usul Nama Gedung Sate

Kamis, 8 September 2022 | 12:00 WIB

Eksotika Klasik-Modern Stasiun Solo Balapan

Jumat, 26 Agustus 2022 | 12:00 WIB

Sejarah Panjang Monumen Pers Nasional, Yuk Simak!

Selasa, 23 Agustus 2022 | 12:00 WIB

Kisah Heroik Nusaibah binti Kaab di Perang Uhud

Kamis, 21 April 2022 | 10:00 WIB
X