• Minggu, 14 Agustus 2022

Harlah NU 31 Januari, Sejarahnya Bikin Merinding

- Sabtu, 29 Januari 2022 | 07:03 WIB
NU Jombang saat meresmikan lambang NU terbesar di dunia pada Harlah NU Ke-98 (nu.or.id)
NU Jombang saat meresmikan lambang NU terbesar di dunia pada Harlah NU Ke-98 (nu.or.id)

Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain.

Sebagai respon masyarakat atas momen kebangkitan inilah, muncul berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.

Latar Belakang NU Lahir di Bumi Nusantara

Meninggalkan kondisi Indonesia, masih di waktu yang berdekatan, jauh di seberang negeri sana, Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah.

Selain itu, Raja Ibnu Saud juga hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi masyarakat muslim dunia. Raja Ibnu Saud menganggap kebiasaan ziarah tersebut sebagai perilaku bid'ah.

Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat penolakan dari sebagian kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman. Mereka menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.

Sikap sebagian kalangan pesantren yang berbeda dari sikap organisasi pergerakan lainnya di Indonesia, menyebabkan sebagian kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta tahun 1925.

Baca Juga: Menilik Aturan Jual Beli NFT Dalam Islam dan Undang-Undang

Akibatnya sebagian kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz. Komite ini diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.

Singkat cerita, atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya.

Hasilnya, hingga saat ini, seluruh masyarakat muslim yang berada di Mekah bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing.

Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.

Halaman:

Editor: Intan Resika Rohmah

Sumber: NU Online

Tags

Terkini

Kisah Heroik Nusaibah binti Kaab di Perang Uhud

Kamis, 21 April 2022 | 10:00 WIB

Mengenal KH Hasyim Asy’ari, Tokoh Pendiri NU

Senin, 31 Januari 2022 | 17:00 WIB

Harlah NU 31 Januari, Sejarahnya Bikin Merinding

Sabtu, 29 Januari 2022 | 07:03 WIB

5 Rekomendasi Tempat Wisata Sejarah di Jakarta

Jumat, 28 Januari 2022 | 07:57 WIB

Fakta dan Sejarah Spirit Doll

Selasa, 25 Januari 2022 | 09:40 WIB

Tentang Pesantren: Dari Definisi dan Sejarahnya

Senin, 10 Januari 2022 | 08:59 WIB
X