Hikmah Film Tilik
Tangkapan Layar

Ngaderes.com – Perhatian penikmat film pendek di kanal Youtube akhir-akhir ini tersita oleh film berdurasi 30 menit yang diproduksi pada 2018 silam berjudul ‘Tilik’. Film berdurasi pendek besutan sutradara Wahyu Agung ini mengangkat cerita sederhana yang sering terjadi di tengah kehidupan masyarakat. Film ini berlatar belakang di tanah Jawa sehingga tampak kental dengan tradisinya. Judul film “Tilik” sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti menjenguk.

Sutradara Wahyu Agung mengangkat cerita film ini dari kebiasaan di tengah masyarakat Indonesia dalam hal membicarakan orang, menyebarkan fitnah, serta termakan berita hoaks yang dikemas epik. Film pendek ini dibuka dengan serombongan ibu-ibu yang akan menjenguk (tilik) orang sakit ke rumah sakit dengan menaiki truk bersama-sama. Bu Tedjo, sebagai pemeran utama dalam film ini berhasil menyita banyak pasang mata dengan perilakunya dan kelihaiannya dalam berbicara.

Dengan bahasa Jawa yang khas, serta latar tempat di dalam truk yang berdesakan, Bu Tedjo beradegan terus membicarakan orang bahkan hingga memengaruhi ibu-ibu mengenai pemberitaan negatif tentang Dian, seorang kembang desa.

Sebagai kembang desa,Dian berparas cantik serta memilki banyak harta dan barang mewah lainnya. Namun masyarakat tidak tahu asal muasal semua  itu karena ibu-ibu di desa tersebut tidak tahu apa pekerjaan Dian, ditambah ia yang sudah pantas menikah di usianya kini, menjadi khazanah topik per-ghibah-an Ibu-ibu desa tersebut.

Dari film karya Ravacana Film yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini, kita dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan sosial di tengah masyarakat pedesaan. Bagaimana kita harus bertutur dengan santun, menyampaikan berita dengan cara yang baik, serta mencari tahu kebenaran tentang suatu berita yang didapat.

Dalam Firman-Nya yang termaktub dalam Q.S An-Nur ayat 11-12 Allah pun berfirman :

“Sesungguhnya, oranng-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga, Janganlah kamu kira bahwa kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapa balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa diantar mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar,”

Di tengah kencangnya arus media sosial saat ini, peluang menyebarnya berita-berita hoaxs dari sumber yang tidak dipercaya begitu besar, bahkan kadang kita sendiri yang menebarkan berita hoaxs tersebut. Film ini mengajarkan kita untuk pandai dalam memanfaatkan sosial media. Walaupun pada dasarnya berita yang disampaikan benar adanya, sudah seharusnya disampaikan dengan cara yang baik dan benar pula, tidak bersifat memprovokasi atau menghakimi kehidupan orang lain. Apalagi, jika berita yang disampaikan belum tahu kebenarannya, jangan sampai kita menyebarkannya ke orang lain.

Penulis: Widya Nur

Editor: Isma A

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here