• Sabtu, 25 Juni 2022

Pesona Desa Adat Penglipuran, Alternatif Destinasi Wisata di Bali

- Selasa, 15 Februari 2022 | 18:29 WIB
Desa Penglipuran bisa menjadi alternatif destinasi wisata saat berkunjung ke Bali. (Dokumen pribadi, Mustika Satria)
Desa Penglipuran bisa menjadi alternatif destinasi wisata saat berkunjung ke Bali. (Dokumen pribadi, Mustika Satria)



ngaderes.com
- Memilih Bali sebagai destinasi wisata, identik dengan menikmati keindahan pantainya. Namun ada juga wisata lain selain pantai yang bisa jadi alternatif pilihanmu. Salah satunya desa adat bernama Desa Penglipuran. Desa ini terletak di Kabupaten Bangli Provinsi Bali.

Pesona Desa Adat Pelipuran cukup memikat. Saat berkunjung ke Desa Pelipuran, Anda akan dimanjakan dengan udara  yang sejuk dan dingin.

Desa ini memiliki luas wilayah mencapai sekitar 112 hektar dengan temperatur udara kisaran 16 hingga 9 °C berada pada ketinggian sekitar 500-600 MDPL. 

Desa Adat Penglipuran menyuguhkan pemandangan kota yang sangat bersih, maka tak jarang pengunjung menyebutkan desa ini merupakan salah satu desa terbersih di dunia.

Dilansir dari wikipedia.com, Desa Penglipuran ini bahkan pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah indonesia dalam usahanya melindungi hutan bambu yang menjadi ekosistem lokal mereka.

Baca Juga: Perbudakan Modern! dari Budak Korporasi hingga Budak Cinta, Mana Jalan Ninjamu?

Tidak hanya itu, Desa Penglipuran dikenal dengan desa yang masih memegang kuat nilai-nilai nenek moyang. Hal ini terlihat dari tata kelola wilayah desa yang menganut sistem Tri Mandala.  Desa Penglipura ini dibagi ke dalam tiga zona wilayah berdasarkan pada  kategori kesucian wilayah. 

Pertama, wilayah yang dikenal dengan nama “Utama mandala atau jeroan” merupakan tempat paling suci yang berada di paling utara. Biasanya tempat ini berisikan tempat penyembahan dewa yang disebut sebagai Pura.

Wilayah kedua disebut dengan “madya mandala atau jaba tengah” yang merupakan tempat untuk zona manusia. Semua masyarakat desa bisa tinggal bersama dengan keluarganya.

Sedangkan wilayah ketiga disebut dengan “nista mandala atau haba luar”  yang merupakan tempat yang berada di paling selatan dan dianggap sebagai zona yang paling tidak suci. Wilayah desa ini diperuntukan untu kuburan desa, pura kuburan, dan pura dalem tempat pemuja dewa Siwa atau dewa pelebur.

Para wisatawan bisa melihat langsung pembagian wilayahnya dengan menyusuri desa.

Pemandangan Desa Penglipuran saat setelah perayaan suci Galungan dan Kuningan. (Dokumen pribadi, Mustika Satria)

Halaman:

Editor: Annisa Sasa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

4 Rekomendasi Film Indonesia Genre Islam

Rabu, 16 Februari 2022 | 19:58 WIB

7 Website Seru yang Wajib Kamu Kepoin saat Bosan

Selasa, 1 Februari 2022 | 09:42 WIB

Layangan Putus dan Trust Issue Terhadap Pernikahan

Sabtu, 1 Januari 2022 | 05:32 WIB

The Artchemist Band : Berkarya dengan Berbeda

Minggu, 26 Desember 2021 | 23:40 WIB
X