Halal Lifestyle
Foto: Giovani Dewia/Ngaderes.com

Era modern kini, manusia dalam strata manapun tidak akan terlepas dari ketergantungan terhadap berbagai kebutuhan, baik primer, sekunder, maupun tersier. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhannya manusia harus terlibat dalam aktivitas bisnis, baik sebagai produsen maupun konsumen. Menurut Sonny Keraf, bisnis adalah suatu kegiatan di antara manusia yang menyangkut produksi, menjual dan membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Menurut pandangan Islam, terdapat catatan penting bagi dunia bisnis, yaitu bisnis dimaknai sebagai gerak langkah kehidupan manusia berupa konsep hubungan antara manusia dengan manusia, manusia degan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan (hablum minannas dan hablum minallah). Dengan kata lain, bisnis bukan semata-mata manifestasi hubungan sesama manusia yang bersifat pragmatis, bahkan lebih jauh yaitu manifestasi ibadah secara total kepada Sang Pencipta.

Saat ini bisnis Islami semakin populer dengan mengusung tema halal lifestyle. Gaya hidup “halal” tersebut menjadi tren sebagian besar umat muslim di dunia. Menurut GIobal Islamic Economy, industri halal dan syariah diproyeksikan bernilai USD 3,081 miliar pada tahun 2022. Pengeluaran Muslim global di seluruh sektor gaya hidup adalah US $ 2,1 triliun pada tahun 2017. Namun sangat disayangkan jika tidak diikuti dengan bertambahnya jumlah wirausaha atau entrepreneur muslim yang seimbang.

Jumlah entrepreneur di suatu negara seringkali dianggap sebagai indikator kemajuan. Patokannya minimal 2% dari jumlah penduduk harus berprofesi sebagai wirausaha. Sedangkan Indonesia kini merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan jumlah penduduk 279 juta jiwa per 2019, negeri ini paling tidak sekurang-kurangnya harus memiliki 5,58 juta jiwa wirausaha.

Menurut data dari Kementerian Koperasi dan UKM, rasio wirausaha pada tahun 2016 di Indonesia mencapai 3,1%, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 1,67%. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik) juga menunjukkan terjadinya peningkatan kelas entrepreneur sebesar 12% dari pemula menjadi usaha mikro, pelaku mikro ke usaha kecil naik 9% sedangkan dari pelaku usaha kecil ke menengah sekitar 1%. Namun harus diakui, rasio wirausaha di Indonesia dibandingkan dengan beberapa negara tetangga dan sebagian negara di Dunia masih tertinggal jauh. Seperti Malaysia yang berada di tingkat 5%, Singapura 7%, bahkan Amerika dan Jepang sudah melejit jauh dengan 10%.

Visi Entrepreneur Muslim Sejati – Halal Lifestyle

Dengan terbentuknya entrepreneur muslim yang berkualitas baik secara ekonomi maupun agama akan menjadi kesatuan kuat dalam memperjuangkan kemaslahatan umat Islam dan memajukan perekonomian Indonesia. Hal tersebut pun menjadi bagian dari halal lifestyle.

Terlepas dari itu semua ada hal yang tidak kalah penting, yaitu apa saja visi kewirausahaan bagi entrepreneur Muslim? Sebagaimana dikatakan oleh Yusanto dan Widjajakusuma, bisnis Islami memiliki empat visi utama yaitu:

Pertama, target hasil, yakni berupa profit-materi dan benefit-nonmateri. Artinya bahwa bisnis tidak hanya untuk mencari profit (qimah madiyah) setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (manfaat). Dalam Islam, visi sebuah bisnis juga berorientasi kepada qimah insaniyah yang berarti pengelola berusaha memberikan manfaat yang bersifat kemanusiaan, qimah khuluqiyah yang berarti bahwa nilai-nilai akhlak mulia menjadi suatu keharusan dalam setiap aktivitas bisnis sehingga tercipta hubungan ukhuwah islamiyyah, dan qimah ruhiyah yaitu aktivitas dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kedua, jika profit materi dan profit non materi telah diraih, kegiatan bisnis harus berupaya menjaga pertumbuhan agar selalu meningkat. Upaya peningkatan ini juga harus selalu dalam koridor syariah, bukan menghalalkan segala cara. Proses aktivitas bisnis harus dilakukan sesuai dengan etika–etika bisnis Islam, yaitu mengacu pada aksioma tauhid, kesetimbangan, kehendak bebas, dan pertanggungjawaban.

Ketiga, keberlangsungan. Target yang telah dicapai dengan pertumbuhan setiap tahunnya harus dijaga keberlangsungannya agar perusahaan dapat dan tetap eksis dalam kurun waktu yang lama.

Keempat, keberkahan. Semua tujuan yang telah tercapai tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada keberkahan di dalamnya. Maka bisnis Islami menempatkan berkah sebagai visi inti, karena keberkahan merupakan bentuk dari diterimanya segala aktivitas manusia. Keberkahan ini menjadi bukti bahwa bisnis yang dilakukan oleh pengusaha muslim telah mendapat ridha dari Allah SWT dan bernilai ibadah.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa visi bisnis entrepreneur muslim orientasinya tidak hanya pada profit yang bersifat duniawi semata melainkan berorientasi akhirat juga. Bisnis tersebut harus dapat menumbuhkan nilai-nilai akhlakul karimah, bermanfaat secara non material bagi penggunanya, sebagai sarana dakwah dan ketika dijalankan bisnis akan menjadikan pengelolanya semakin dekat kepada Allah SWT. (Allahu A’lam Bishshowwab)

Penulis: Indriani Humaira – Mahasiswa S1 STEI SEBI Depok
Editor: Ulfatun Naimah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here