• Selasa, 4 Oktober 2022

Bibit Kopi Unggul Mengalir dari Garut

- Selasa, 6 September 2022 | 12:00 WIB
Bibit Kopi Unggul Mengalir dari Garut (Ilustrasi canva)
Bibit Kopi Unggul Mengalir dari Garut (Ilustrasi canva)

‘’Dari 1,26 juta hektare perkebunan kopi itu, ada tanaman belum menghasilkan (TBM) seluas 188,91 ribu hektare dan tanaman menghasilkan (TM) atau produktif seluas 947,92 ribu hektare. Adapun luas areal tanaman tidak menghasilkan atau tanaman rusak (TTM/TR) mencapai 122,16 ribu hektare,’’ ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo.

Mentan SYL pun bertekad untuk meningkatkan jumlah dan mutu kopi Indonesia. Maka, bibit kopi yang sehat dan berkualitas diperlukan, baik untuk membangun kebun baru maupun untuk menggantikan tanaman yang rusak, tidak terawat atau yang terlalu tua. ‘’Selain menyediakan bibit, pemerintah juga mendukung pengembangan kopi melalui kredit usaha rakyat atau KUR,” ujar SYL pula. Bibit kopi Garut dipilih dari tetua yang terjamin kualitasnya.

Jumlah 10 juta batang bibit kopi tentu masih sangat kurang untuk mengerek kembali pamor kopi Indonesia di pasar global. Dengan rata-rata 1.500 batang per hektare, 10 juta bibit itu hanya untuk merahabilitasi kebun tua sekitar 6.500 hektare. Padahal, kebun rusak dan tak terawat yang harus direhabilitasi luasnya lebih dari 122 ribu ha. Maka, Kementan pun membangun pula nursery kopi itu di 10 sentra kopi yang lain seperti di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan NTT.

Dari produksi kopi nasional yang 774 ribu ton itu, sekitar separohnya yakni 384,5 ribu ton, diserap untuk pasar ekspor. Nilai ekspornya sekitar USD850 juta atau sekitar Rp12,5 triliun di 2021. Saat ini, Indonesia adalah negara produsen kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil (2,7 juta ton), Vietnam (1,6 juta ton) dan Colombia 800 ribu ton. Secara domestik, kopi itu penyumbang devisa terbesar kelima di sektor perkebunan, setelah kelapa sawit, karet, kakao ,dan kelapa.

Bukan hanya dari sisi volume, ekspor kopi Indonesia kalah dari Brazil dan Vietnam. Dari sisi kualitas pun masih tertinggal. Hanya 30 persen kopi ekspor Indonesia yang tergolong dalam kualitas prima, yakni masuk grade I atau II. Yang 70 persen lainnya ialah grade sedang (III dan IV), bahkan sebagian lagi masuk kelompok kualitas rendah yakni grade V dan VI. Maka, Mentan pun bertekad untuk memperbaiki kualitas kopi Indonesia itu dengan peningkatan mutu bibit. Tentu, hasilnya baru bisa dirasakah setelah tiga atau empat tahun ke depan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Beni Yoga menyatakan kesanggupannya memenuhi order 10 juta batang bibit kopi unggul dari Menteri Pertanian. Ia sudah menyiapkan kebun nursery di tiga tempat lain di luar yang ada di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Ketiganya masing-masing ada di Kecamatan Cisurupan, Bayongbong, dan Samarang.

"Selama ini kami baru bisa memasok 2 juta bibit. Tapi kami siap mengirim 10 juta bibit sampai lima bulan ke depan. Lahan pembibitannya ada,’’ kata Beni Yoga. Tenaga terampil untuk memproduksi bibit kopi tersedia di Garut. "Untuk memproduksi 10 juta bibit itu kami hanya perlu sekitar 5 hektare lahan pembibitan,’’ kata Beni Yoga.

Halaman:

Editor: Dita Fitri Alverina

Sumber: indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Unik! Hanya di Bandung Kulit Ceker Ayam Jadi Sepatu

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Bibit Kopi Unggul Mengalir dari Garut

Selasa, 6 September 2022 | 12:00 WIB

Harimau Sumatra yang Bertahan Dalam Kepunahan

Senin, 22 Agustus 2022 | 12:00 WIB

Jangan Salah Paham dengan Skill Public Speaking

Minggu, 14 Agustus 2022 | 18:29 WIB

Air Keran Layak Minum di IKN Nusantara

Kamis, 4 Agustus 2022 | 12:00 WIB

Membatasi Kunjungan demi Kelestarian Komodo

Jumat, 29 Juli 2022 | 09:00 WIB

Tips Efektif ber- Organisasi

Kamis, 14 Juli 2022 | 21:27 WIB
X