• Senin, 27 Juni 2022

Bagian 4: Antitesis Kecerdasan, Memilih Rule of Life yang Bukan Berasal dari Creator of Life?

- Selasa, 15 Maret 2022 | 09:05 WIB
Ilustrasi antitesis kecerdasan keempat dicontohkan alam yakni dari peristiwa hujan  (pexels)
Ilustrasi antitesis kecerdasan keempat dicontohkan alam yakni dari peristiwa hujan (pexels)

Bagian 4: Antitesis Kecerdasan, Memilih Aturan Hidup yang Bukan Berasal dari Pencipta Kehidupan

ngaderes.com
– Antitesis kecerdasan atau lawan dari kecerdasan adalah kebodohan. Varian kebodohan keempat yang dibahas kali ini berkaitan dengan aturan yang manusia pakai dalam kehidupan.


Jika ditelisik lebih jauh, Allah sudah menjelaskan antitesis kecerdasan atau varian kebodohan nomor empat ini dalam Al Quran.


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?. [QS Al-Maidah ayat 50]

Baca Juga: Bagian 1: Antitesis Kecerdasan, Cerdas dan Bodoh Versi Allah SWT Versus Versi Manusia

Melihat ayat diatas, munculnya kata “ jahiliyyah ” disandingkan dengan kalimat hukum.

Pada dasarnya, setiap manusia memerlukan keadilan atau “fairness” dalam menjalani dan memenuhi kehidupan, terutama saat berinteraksi satusama lain.


Untuk mendapatkan keadilan tersebut maka diperlukan hukum untuk mengaturnya. Jika aturan-aturan yang terkandung dalam hukum itu dijalankan, maka secara otomatis interaksi sesama manusia tersebut akan membentuk pola-pola tertentu yang terstruktur rapi.

Pada akhirnya, dari kondisi ini tercipta kondisi yang seimbang dan harmonis dan bebas dari kondisi terdzalimi.

Uniknya, pola –pola yang harmonis ini bisa kita amati dalam perilaku alam, misalnya pada siklus hidrologi atau siklus air.

Baca Juga: Bagian 2: Antitesis Kecerdasan, Berat untuk Move On dari Kesyirikan

Pada proses siklus air, semua komponen alam ini bersinergis satu sama lain. Siang hari, saat sebagian air laut terpanaskan sinar matahari akan mengalami penguapan.

Kemudian molekul-molekul naik ke langit. Pada saat yang sama, daratan lebih mudah mengalami peningkatan suhu dibanding lautan.

Untuk menjaga keseimbangan tekanan udara, maka udara mulai bergerak dari tekanan tinggi (udara dari lautan) menuju ke arah daratan dan membawa uap air yang dari tadi. Proses ini disebut dengan angin laut.

Baca Juga: Bagian 3:Antitesis Kecerdasan, Distrust atau Rasa Ketidakpercayaan Terhadap Kepemimpinan Islam dan Rasullullah

Lama – kelamaan daratan menjadi dingin. Uap air yang mendingin, molekuknya semakin besar dan berat setelah mengalami penggabungan sehingga terbentuk awan hujan. Kemudian terjadi kondensasi butiran air dilangit dan terjadilah hujan.

Daratan dan lautan kembali mengalami keseimbangan tekanan udara dan temperatur, proses ini kemudian harmonis dan terjadi berulang.

Demikian alam, matahari, awan, hujan, daratan dan lautan ini kompak dan harmonis dengan pola –pola satu sama lain. Hal ini bisa dibuktikan secara pasti dalam ilmu pengetahuan pasti (eksakta).
Seolah – olah satu sama lain sudah saling mengerti dan disiplin terhadap peran masing-masing. Hingga ukuran konstan pada angka titik uap, kelembaban, titik jenuh, tekanan udara, sudah sesuai dengan pengaturan yang menciptakanNya.

Baca Juga: Kenali Penyakit Ain, Penyebab dan Cara Mencegahnya Agar Bisa Terhindar Dari Akibat yang Ditimbulkan


Hal ini dalam Al Quran disebut dengan “taslim” artinya berserah diri. Dari pemaparan diatas, alam dan semua elemen yang terdapat di langit dan bumi bertaslim atau berserah diri pada aturan, ketentuan dan hukum Allah. [QS Al Imran:83]

Alam tunduk kepada ketentuan Allah yang biasa disebut sunnatullah, atau sebutan lainnya adalah hukum alam.

Hukum Allah tidak pernah gagal dalam mengorganisir alam ini agar harmonis dengan pola-pola yang rapih bahkan mendukung kehidupan manusia.

Baca Juga: Hikmah Dibalik Kisah Qarun yang Allah Benamkan ke Dalam Bumi  

Hal yang aneh jika manusia meragukan hukum Allah atau syariat untuk mengatur manusia tapi menerima hukum Allah untuk dalam mengelola alam semesta.

Ini semacam inkonsisten dalam pemikiran. Seolah-olah berkata;hukum Allah bagus untuk mengatur alam, tapi tak cukup bagus mengatur manusia.”


Jadi memilih hukum selain dari Allah untuk mengatur kehidupan mahluk Allah adalah suatu contoh antitesis kecerdasan (kebodohan/ kejahiliyyahan).

Sebaiknya jika masih asing dengan hukum Allah, segeralah mencari cara untuk mengerti dan menginternalisasikannya demi kehidupan yang lebih cerdas. ***



Halaman:

Editor: Annisa Sasa

Sumber: Al quran

Tags

Artikel Terkait

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB

Doa Sholat Hajat Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Selasa, 19 April 2022 | 11:44 WIB
X