• Kamis, 7 Juli 2022

Cerita Menarik Di Balik Kain Linen

- Senin, 14 Maret 2022 | 21:14 WIB
Kain Linen (unsplash.com)
Kain Linen (unsplash.com)

ngaderes.com - Selama sepuluh ribu tahun, manusia telah mengetahui bahwa rumput rami adalah sumber tekstil dengan sifat yang istimewa. Terasa lembut di tangan, penyerapan warna yang kaya, daya tahan yang tahan lama, dan kenyamanan yang unggul. Rumput rami ini yang nantinya akan menjadi kain linen. Bagaimana cerita menarik di balik kain yang satu ini? Yuk kita simak ulasan berikut ini!

Sekarang ini ketika kita prihatin tentang dampak produksi secara ekologis, produksi kain linen dari rami adalah proses yang benar secara ekologis. Ini membutuhkan pestisida dan pupuk yang jauh lebih sedikit daripada tanaman lain.

Serat dapat didaur ulang dan biodegradable. Dan setiap bagian dari tanaman rami dapat digunakan. Bijinya menyediakan minyak untuk pewarna, cat, kosmetik dan penutup lantai. Saat digiling, mereka digunakan sebagai tepung dalam tapal.

Selain itu produk sampingan dari produksi kain linen diproses menjadi bubur kertas yang digunakan untuk uang kertas atau papan serat. Namun, rami paling terkenal yaitu sebagai bahan baku kain linen.

Sejarah Kain Linen

Nenek moyang kita menggunakan kain linen di rumah mereka, dan juga untuk pakaian. Contoh tertua berasal dari 36.000 tahun yang lalu untuk serat rami yang diwarnai yang ditemukan di sebuah gua di Georgia. Bukti kuno lainnya dari kain linen termasuk gaun linen berusia 5.000 tahun yang ditemukan di sebuah makam Mesir, dan kita tahu linen digunakan oleh orang Romawi dan selama Abad Pertengahan.

Negara-negara Timur Tengah adalah pembudidaya pertama tanaman rami dan kain linen saat tanaman rami tumbuh subur di sana. Pengrajin yang terampil mengubah rami menjadi tali, kain, serbet, sprei, dan pakaian. Produksi linen menyebar dari daerah ini ke koloni-koloni Amerika dan Eropa, di mana sebagian besar rami di dunia sekarang ditanam.

Untuk tumbuh dengan baik, tanaman rami membutuhkan tanah yang dikeringkan dengan baik dan lingkungan yang sejuk dan lembab. Iklim Eropa Timur dan Barat sangat cocok untuk ini dan rami yang ditanam di sana dianggap sebagai kualitas terbaik.

Rami (yang berjalan dengan nama ilmiah Linum usitatissimum) adalah anggota dari keluarga tanaman Linaceae. Kata terakhir dari nama Latinnya berarti "paling berguna", yang memberi tahu kita betapa pentingnya tanaman ini bagi orang-orang kuno.

Penggunaan Kain Linen

Secara historis, kerja keras yang terlibat dalam memproduksi kain linen dari tanaman rami menghasilkan harga tinggi. Tidak semua orang mampu membelinya. Di Mesir kuno, mumi dibungkus dengan kain linen sebelum diletakkan di kuburan, dan terkadang linen bahkan digunakan sebagai mata uang. Pada Abad Pertengahan Eropa kain linen lebih banyak digunakan untuk produk sehari-hari seperti pakaian linen, karung, seprai, layar, jaring ikan, tali, tali untuk busur, tas dan dompet.

Itu juga merupakan kepercayaan populer pada saat itu bahwa rami menawarkan beberapa kekuatan pelindung.

Ada sesuatu yang sangat menarik dan memuaskan dalam bekerja dengan kain dari akar yang begitu panjang. Mengetahui bahwa berabad-abad yang lalu orang-orang mengenakan pakaian linen, tidur di tempat tidur linen, dan menggunakan taplak meja linen entah bagaimana meyakinkannya.

Kualitas sangat penting dalam produksi linen. Serat terpanjang yang mungkin didapat ketika rami dipanen dengan tangan dengan menarik seluruh tanaman, atau ketika batang dipotong sangat dekat dengan akar. Biji kemudian dikeluarkan dari tanaman dan serat dilonggarkan dari tangkainya. Bagian kayu dari batang dihilangkan dengan menghancurkan antara dua rol logam yang memisahkan serat. Mereka kemudian dipisahkan di antara yang lebih panjang dan lebih pendek. Yang lebih panjang dan lebih lembut kemudian dipintal menjadi benang dan kemudian ditenun atau dirajut menjadi tekstil linen.

Linen digunakan untuk berbagai kegunaan, mulai dari sprei, kain di kamar mandi, perlengkapan rumah tangga dan komersial, perlengkapan pakaian hingga produk industri. Penggunaan untuk linen telah berubah terutama dalam 30 tahun terakhir. Sementara pada 1970-an hanya sekitar 5% dari produksi linen dunia digunakan untuk kain fashion, 70% produksi linen pada 1990-an digunakan untuk tekstil pakaian jadi.

Sumber: Berbagai sumber

Editor: Dita Fitri Alverina

Tags

Artikel Terkait

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X