• Kamis, 7 Juli 2022

Perbudakan Modern! dari Budak Korporasi hingga Budak Cinta, Mana Jalan Ninjamu?

- Selasa, 15 Februari 2022 | 11:05 WIB
Perbudakan modern banyak terjadi namun tidak disadari (https://www.pexels.com/photo/fashion-man-couple-love-4611751/)
Perbudakan modern banyak terjadi namun tidak disadari (https://www.pexels.com/photo/fashion-man-couple-love-4611751/)

ngaderes.com - Beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan dengan ditemukannya penjara berisi puluhan orang di rumah Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin-angin. Penjara ini diduga sebagai bentuk perbudakan sang Bupati.

Pasalnya para pekerja yang dimasukkan ke dalam sel tahanan tersebut hanya diberi makan dua kali sehari dengan tidak layak dan tidak memiliki akses keluar seperti halnya budak. Ditambah para pekerja mengaku tidak diberi gaji meski sudah bekerja keras di kebun sawit milik Bupati Terbit.

Fenomena ini kembali mengingatkan kita dengan perbudakan yang marak dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Meski sekarang istilah budak tidak hanya digunakan dalam ekspoitasi ilegal sebagai mana yang Bupati Terbit lakukan, tapi makna budak yang sebenarnya tidak mengubah esensi hilangnya kebebasan seseorang.

Baca Juga: 7 Doa Para Nabi yang Diabadikan Dalam Alquran

Sebut saja istilah budak korporat dan budak cinta. Kata-kata yang telah awam di kalangan anak muda ini sering kali menjadi guyonan yang menyakitkan. Meski terkadang kita dengan mudah menyebut diri kita atau orang lain sebagai budak korporat dan budak cinta, sejatinya kita tahu bahwa istilah budak memberikan kesan negatif bagi pekerjaan ataupun kisah cinta yang sedang kita jalani.

Budak Korporat

Istilah budak korporat mengarah pada orang orang yang bekerja keras demi perusahaan tempat mereka bekerja. Misalnya dengan banyak mengambil lembur, sulit meminta cuti, merasa takut dengan atasan, serta hal-hal lain yang membuat seseorang terlihat seperti budak di zaman penjajahan.

Sebenarnya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mencapai kesuksesan bukan hal yang salah. Namun sayangnya, para budak korporat ini cenderung mendapatkan gaji yang lebih rendah dibanding beban kerja mereka. Hal ini yang semakin menambah anggapan bahwa mereka dijajah dan dieksploitasi.

Baca Juga: Sejarah Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO)

Halaman:

Editor: Annisa Sasa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X