• Kamis, 7 Juli 2022

Hustle Culture, Bekerja Keras Tanpa Batas

- Minggu, 23 Januari 2022 | 06:04 WIB
Sumber foto: unsplash.com/@elisa_ventur
Sumber foto: unsplash.com/@elisa_ventur
 
Edukasi - Zaman yang serba cepat ini, kita terkadang merasa akan tertinggal bila tidak bekerja keras. Maka dari itu tidak jarang seseorang bekerja mati-matian, agar tidak tertinggal dari teman-teman lainnya.
 
Ditambah pemikiran bahwa bekerja dengan ulet di bidang apapun selalu digaungkan sebagai kunci kesuksesan, membuat seseorang semakin mengedepan sikap keuletan tersebut.
 
Namun, pada kenyataannya kerja keras dan keuletan ini membawa dampak yang merugikan. Tidak jarang ditemukan orang-orang yang melupakan rumah, keluarga, teman-teman, dan orang-orang disekitar karena bekerja berlebihan.
 
Lebih parah lagi, mereka sampai lupa meluangkan waktu untuk diri mereka sendiri.
 
Bekerja keras berlebihan itu namanya Hustle Culture. Bila saat ini kamu merasa bahwa pekerjaan adalah hal terpenting dan tidak bisa ditinggalkan, merasa bahwa waktu istirahat tidak begitu penting, dan meyakini bahwa usaha-usaha yang kamu lakukan belum cukup untuk meraih kesuksesan, maka bisa jadi kamu berada dalam lingkaran kehidupan hustle culture.
 
Wayne Oates, seorang psikologis asal Amerika, dalam bukunya berjudul Confessions of a Workaholic: the facts about work addiction pada tahun 1971 mendefinisikan hustle culture sebagai gaya hidup yang menganggap dirinya akan sukses jika terus melakukan pekerjaan dan mendudukkan pekerjaan di atas semuanya serta memiliki sedikit waktu istirahat.
 
 
Sebenarnya cukup sulit untuk mengklasifikan dampak dari hustle culture, karena di satu sisi bekerja memang menguntungkan pekerja secara materil dan juga keberlangsungan tempat ia bekerja.
 
Selain itu banyak kemampuan-kemampuan yang bisa dikembangkan saat bekerja.
 
Namun di sisi lain, secara mental hustle culture akan membuat pekerja lebih mudah mengalami kondisis stress berat (burn out) akibat kejenuhan bekerja.
 
Ketidakseimbangan psikis juga menghantui badan pekerja jika setiap hari terus berkutat pada gaya hidup hustle culture. Ibarat mesin yang terus menerus digunakan tanpa istirahat, suatu saat mesin akan berhenti karena kelelahan.
 
Belum lagi penganut hustle culture alias hustler, juga perlahan akan kehilangan waktu berharga, baik untuk dinikmati sendiri maupun bersama orang-orang terdekatnya.
 
Akibatnya, para hustler akan lebih udah merasa sepi dan tidak bisa menikmati hidup seperti manusia-manusia lain pada umumnya.
 
Organ tubuh yang sudah pasti terkena dampak hustle culture adalah otak. Otak yang membantu kita menjalankan saraf-saraf agar tubuh bisa bergerak, ikut menanggung beban dari pekerjaan-pekerjaan yang tak pernah habis tersebut.
 
Seperti kebiasaan kita untuk refresh laman internet yang tidak muncul-muncul, otak juga butuh diberikan waktu untuk refreshing. Tidak boleh terus dipacu dengan pekerjaan yang tidak berhenti.
 
Hustle culture tidak hanya berdampak pada otak, tetapi juga jantung. Melansir dari halodoc.com, hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang bekerja lebih dari 50 jam perminggu-nya rentan terhadap penyakit yang menyerang jantung.
 
Hal ini tidak lain tidak bukan karena stress yang diterima saat bekerja. Jantung akan dipaksa bekerja keras terus menerus, hingga akhirnya ia berhenti mendadak karena kelelahan.
 
 
Sudah jelas sekali bagi para hustler, memberikan waktu untuk diri mereka sendiri adalah kunci untuk meninggalkan lingkaran pekerjaan tersebut.
 
Sekali lagi, sisihkanlah waktu untuk diri sendiri meski hanya sehari. Misalnya, dengan melakukan perawatan diri (self-care), berjalan-jalan saat weekend, dan lainnya.
 
Luangkanlah waktu untuk memberi nafas pada tubuh dan jiwa.
 
Tidak lupa pula meluangkan waktu juga untuk keluarga dan orang-orang terdekat. Berbagi kesenangan dan kegembiraan orang-orang terdekat akan mampu membuat hustler sedikit lupa tentang ruwet-nya pekerjaan kantor dan tambahan-tambahan lain yang menyertainya.
 
Tidak ada yang salah dari menyisihkan waktu untu berbahagia meski dikejar target.
 
Tidak ada yang salah dari bekerja keras, selama kita masih bisa mengotrol dan menjaga diri dan lingkungan kita dengan baik. Tidak ada yang salah pula dengan berhenti sejenak untuk bernafas dan menengok sekitar, sekedar untuk menikmati hidup.
 
 
Sumber:
 
 
 
Penulis: Galuh Budiwangsa
 
Editor karya tulis: Hildatun Najah
 
 
 
 
 
 
 

Editor: Intan Resika Rohmah

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X