• Kamis, 7 Juli 2022

Menerima Diri Sendiri : Upaya Menjaga Kesehatan Mental

- Senin, 15 November 2021 | 08:57 WIB
pexels-inzmam-khan-1134204
pexels-inzmam-khan-1134204

Edukasi - Isu-isu kesehatan mental mungkin sudah tidak asing di kalangan generasi milenial. Beragam kasus gangguan mental di masa pandemi seperti rasa cemas berlebihan, depresi, bahkan sampai pada tingkat bunuh diri ramai diberitakan di media. Mirisnya stigma buruk pengidap gangguan mental di Indonesia bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya hal tersebut. Akibatnya, banyak penderita memilih untuk diam dan tidak mendapat pertolongan ahli. Sehingga pada tingkat akhir, Psikolog dari Universitas Brawijaya, Cleoputri Yusainy dalam wawancaranya bersama republika.co.id, ia menjelaskan bahwa jika manusia sudah merasa bahwa realitas di lingkungan sekitar sudah tidak bisa dikendalikan maka upaya bunuh diri mereka anggap bisa mengambil kembali kenyataan semula. Maka dari itu perlunya kepekaan lingkungan dan orang sekitar terhadap perubahan perilaku seseorang. Menurut Dr. Layyinah, M.Si., dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam webinar yang digelar oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Psikologi UIN Jakarta, mengatakan bahwa dalam Al-Quran mengenai kecemasan ini dapat ditemukan dengan beberapa istilah seperti khauf, dhaiq, halu’a dan jazu’a. Kecemasan tersebut dipandang sebagai sebuah akibat dari rasa takut yang berlebihan pada masa yang akan datang (yang belum terjadi). Adanya kesempitan jiwa dan kegelisahan dalam diri. Cara mengatasi kecemasan-kecemasan tersebut dalam Islam dapat dilakukan dengan bersungguh-sungguh beriman kepada Allah SWT, beribadah : Salat, zikir, dan doa serta berakhlak mulia.

Menerima Diri Sendiri

Selain itu, solusi lainnya dalam menjaga kesehatan mental ialah dengan menerima diri sendiri. Hal ini mungkin tidak mudah untuk dilakukan. Namun, pengendalian diri terhadap ekspektasi-ekspektasi berlebih bisa membantu meringankan beban pikiran. Seperti mengurangi membanding-bandingkan diri dengan orang lain atau merasa diri jauh terbelakang dari orang lain. Karena hal tersebut bisa mengurangi rasa syukur atas apa yang dimiliki. Sehingga jika hal tersebut dibiarkan maka akan menghalangi rasa kebahagiaan diri sendiri. Dr. Jiemi Ardian Sp. KJ, Psikiater di Rumah Sakit Siloam Bogor, dalam seminar Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Manda Madiun, mengatakan berdamai dengan diri sendiri merupakan sebuah proses dalam kehidupan yang di dalamnya pasti ada kesedihan dan kesenangan. Sehingga rasa cemas akan masa depan atau masa lalu yang membuat khawatir itu bisa menyulitkan kita sendiri dalam proses penerimaan diri. Ditambah ekspektasi berlebih terhadap harapan yang pada akhirnya tidak selaras dengan realitas, mempersulit pencapaian kebahagiaan kita. Penulis: Gina Nurulfadilah/Internship Editor: Fahmi Idris/Internship

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X