• Kamis, 7 Juli 2022

Zaid bin Khattab: Si Burung Elang di Medan Perang Yamamah

- Minggu, 29 Agustus 2021 | 15:03 WIB
pexels-daniel-akashi-58535
pexels-daniel-akashi-58535

Rekam Jejak -- Zaid bin Khattab adalah kakak tertua Umar bin Khattab. Dibandingkan Umar, ia lebih dahulu masuk Islam dan lebih dahulu syahid. Ia seorang pahlawan kenamaan, namun bekerja secara diam-diam. Kediamannya itu memancarkn permata kepahlawanannya. Pada suatu hari, Nabi saw. duduk dikelilingi sejumlah kaum muslimin. Di tengah pembicaraan, Rasulullah termanggut-manggut beberapa saat, kemudian mengarahkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya. “Sesungguhnya, di antara kalian ada seorang laki-laki yang gerahamnya di neraka lebih besar dari gunung Uhud.” Semua yang hadir di majelis bersama Rasulullah saw. senantiasa diliputi ketakutan melakukan pelanggaran agama. Setiap orang dari mereka merasa takut kalau-kalau dirinyalah yang akan mendapatkan su’ul khatimah.  

Kemurtadan Rajjal bin 'Unfuwah

Akhirnya, semua yang mendengar pembicaraan Rasulullah waktu itu telah menemui ajalnya dengan khusnul khatimah. Mereka semua mati sebagai syuhada di medan perang. Yang masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah. Abu Hurairah menjadi sangat takut. Badannya sering bergetar, matanya sulit dipejamkan, pikirannya tidak bisa diistirahatkan. Hingga akhirnya tabir itu terkuak, dan jelaslah siapa yang celaka itu. Rajjal keluar dari Islam dan bergabung dengan Musailamah Al-Kadzab dan mengakui kenabiannya. Sekarang sudah jelas siapa yang dikabarkan Rasul akan mendapat su’ul khatimah. Alkisah, suatu hari, Rajjal bin ‘Unfuwah menemui Rasul saw., masuk Islam dan berbaiat. Setelah itu, ia kembali kepada kaumnya. Ia tidak pernah datang lagi ke Madinnah, kecuali setelah Rasul wafat dan Abu Bakah As-Shiddiq menjadi Khalifah. Saat itu, Abu Bakar sudah mendengar berita tentang keadaan penduduk Yamamah dan bergabungnya mereka dengan Musailamah. Rajjal mengusulkan kepada As-Shiddiq agar ia diutus untuk mengembalikan mereka kepada Islam. Usul itu diterima oleh Khalifah. Maka, Rajjal berangkat ke Yamamah. Ketika ia menyaksikan jumlah mereka sangat banyak, ia yakin bahwa mereka pasti menang. Karena itu, jiwa khianatnya berbisik agar mulai hari itu, ia bergabung ke barisan “Al-Kadzab”. Ia keluar dari Islam dan bergabung dengan Musailamah yang mengobral janji-janji.  

Rajjal jauh lebih berbahaya daripada Musailamah

Ternyata, Rajjal jauh lebih berbahaya daripada Musailamah, karena ia menyalahgunakan keislamannya yang lalu. Masa-masa hidupnya bersama Rasul di Madinnah, hafalan Alqurannya yang cukup banyak, dan ditunjuknya ia sebagai utusan Khalifah Abu Bakar. Semua itu disalahgunakan untuk mendukung kekuasaan Musailamah dan mengukuhkan kenabiannya yang palsu. Ia sebarkan ke banyak orang bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Nabi menjadikan Musailamah bin Habib sebagai rekan.” Maka, setelah Rasul wafat, orang yang paling berhak membawa bendera kenabian ialan Musailamah. Jumlah pengikut Musailamah semakin bertambah banyak disebabkan kebohongan-kebohongan Rajjal. Dan karena penyalahgunaan keislaman serta hubungannya dengan Rasulullah di masa silam. Sepak terjang Rajjal menyulut kemarahan orang-orang Islam di Madinah. Rajjal telah menyesatkan banyak orang, yang secara otomatis memperluas daerah peperangan yang mau tak mau harus diterjuni kaum muslimin. Seorang muslim yang paling marah dan ingin sekali berjumpa dengan Rajjal adalah seorang sahabat agung yang namanya terukir indah dalam buku-buku sejarah, yaitu Zaid bin Khattab.  

Zaid bin Khattab?

Sobat cerdas pasti pernah mendengarnya. Dia adalah kakak tertua Umar bin Khattab. Dibandingkan Umar, ia lebih dahulu masuk Islam dan lebih dahulu syahid. Ia seorang pahlawan kenamaan, namun bekerja secara diam-diam. Kediamannya itu memancarkn permata kepahlawanannya. Keimanannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan Islam sangat kuat. Ia tidak pernah absen di setiap kejadian penting maupun peperangan. Setiap kali terjun ke medan perang, ia lebih menginginkan syahid daripada kemenangan. Di Perang Uhud, ketika pertempuran berlangsung sengit, Zaid bin Khattab tidak henti-hentinya menebaskan pedangnya. Sewaktu baju besinya terlepasm Uman bin Khattab melihatnya dan berkata, “Ambil baju besiku, hai Zaid! Pakailah untuk berperang” Zain menjawab, “Aku juga menginginkan syahid, sebagaimana yang kau inginkan, hai Umar!” Karena itu, tanpa baju besi ia bertempur dengan gagah berani. Bersambung.... Zaid bin Khattab Part 2 klik DI SINI. Sumber: Buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW karya Khalid Muhammad Khalid, Cetakan kesembilan April 2018 Editor: dfalv

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X