• Kamis, 7 Juli 2022

Bisnis Hits Industri Farmasi dan Kesehatan Era Pandemi Covid-19

- Selasa, 10 Agustus 2021 | 10:32 WIB
thermometer-1539191_1280
thermometer-1539191_1280

Pemuda Bicara - Perlu kita sadari bahwa di era globalisasi ini persaingan di industri farmasi dan kesehatan semakin ketat. Setiap perusahaan farmasi dan kesehatan harus siap berlomba memproduksi dan memasarkan obat yang berkualitas serta menghadapi persaingan pasar bebas. Dalam menghadapi era persaingan global harus mempersiapkan strategi yang mampu bersaing dengan industri-industri farmasi sejenis maupun tidak. Dimana pesaing usaha bukan hanya datang dari industri sejenis, akan tetapi juga dari industri lainnya yang memiliki kemampuan untuk memberikan produk dan harga sejenis. Produk dan harga merupakan hal yang sangat penting dalam menumbuhkan loyalitas terhadap pelanggan, bila pelanggan puas akan produk dan jasa yang kita tawarkan maka terciptalah demand dan keberlangsungan perusahaanpun dapat dipertahankan. Kita sebuat saja industri farmasi dan kesehatan di Indonesia bisa digolongkan kedalam 2 jenis usaha PMA dan PMDN, masing-masing mempunyai peran yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di indonesia.

Industri Farmasi dan Kesehatan Meningkat

Pandemi COVID-19 menyadarkan kita akan pentingnya obat-obatan, alat kesehatan dan tenaga kesehatan. Dengan adanya pandemi kebutuhan akan anti biotik, vitamin, suplemen dan obat herbal untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara umum meningkat. Sehingga industri farmasi dan kesehatan yang bermain di sektor tersebut memperoleh pertumbuhan yang cukup besar. Sebagai contoh, dulu awal pandemi di tahun 2020 kita hampir kesulitan mencari masker medis atau non medis, semua harga melambung tinggi di pasaran sampai harga 1 box masker tertentu itu setara dengan harga 0.5 gram emas. Selain itu, baru-baru ini di tahun 2021 ada beberapa jenis obat-obatan yang menjadi gold standard untuk pasien yang positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri. Obat-obat tersebut seperti (Azytromycin 500 mg, Favipiravir 600 mg, Dexamethasone 0,5 mg, Paracetamol 500 mg, Fluimucil Eff 600 mg, Vitamin c, Zinc & D) tentunya itu semua melalui diagnosa dari dokter. Sempat beberapa bulan yang lalu ada keluarga saya yang positif lalu memilih untuk isolasi mandiri di rumah dan betapa kagetnya saya ketika mencari obat-obatan tersebut dengan harga 2 sampai 3 kali lipat dari harga normal. Sektor industri farmasi dan alat kesehatan masuk dalam kategori yang mengalami permintaan tinggi ketika pandemi di saat sektor lain mengalami dampak yang berat seperti hotel dan parawisata, penerbangan, bar & resto, bioskop, event organizer. Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia mencatat pertumbuhan industri farmasi pada kuartal 3 di tahun 2020 maksimal mencapai sekitar 7 persen. Beberapa analisa saya berpendapat hebatnya bisnis farmasi dan kesehatan ini sangat strategis. Memang ketika kita lihat dengan adanya pandemi menyebabkan turunnya kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan seperti RS, Klinik Pribadi atau Klinik umum karena adanya kekhawatiran pasien akan terinfeksi COVID-19 ketika berkunjung ke fasilitas kesehatan. Masyarakat lebih memilih untuk melakukan konsultasi secara online, lalu obat-obatan dikirim ke tempat tinggal lewat apotek. Bahkan ada juga masyarakat yang memilih untuk menunda penanganan penyakit mereka dan membeli obat sendiri. Penulis: Satria (Profesional Marketing Perusahaan Farmasi) Editor: Redaksi

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

7 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Kamu

Sabtu, 11 Juni 2022 | 15:00 WIB

5 Tips Tetap Dingin di Cuaca Panas

Sabtu, 14 Mei 2022 | 12:00 WIB
X